Tan Malaka di Pusaran Geopolitik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Tan Malaka. Foto: Shutterstock

Catatan Tan Malaka, dalam Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi, bukan naskah usang. Melainkan referensi sekaligus cetak biru pertahanan bangsa.

Di tengah gemuruh dinamika geopolitik dan perang asimetris dalam perebutan sumber daya global, kemandang bunyi Tan Malaka terasa seperti alarm.

Dunia sekarang tidak lagi tentang peluru, melainkan soal algoritma, semikonduktor, dan rantai pasok. Dalam perspektif geopolitik, ketegangan bumi menempatkan Indonesia di posisi nan rumit.

Tan Malaka dalam Gerpolek (1948) menekankan bahwa kemerdekaan 100% adalah nilai mati. Kritiknya keras, terhadap style diplomasi nan terlihat mengemis kedaulatan.

Jika ditarik ke konteks kekinian, ketergantungan pada investasi serta support asing nan terlalu dominan, tanpa membangun kemandirian bangsa adalah corak kerentanan nasional.

Menurut Alfian (1986), pendapat Tan Malaka adalah upaya untuk memutus rantai ketergantungan -dependensi, nan sering kali mewujud dalam corak kerja sama antar negara.

Struktur Ketahanan

Ketahanan nasional, dalam kacamata Gerpolek berpijak pada tiga pilar: militer rakyat, politik berdaulat, dan ekonomi mandiri.

Dalam argumentasi Tan Malaka, perlu dibentuk kapabilitas ekonomi nan kuat sebagai perisai. Pondasi ekonomi, menjadi esensial dasar dalam tembok pertahanan negara.

Ketahanan pangan dan daya bukan soal statistik BPS, melainkan nilai diri bangsa. Transformasi aset strategis pada urgensi hilirisasi, perlu diaktualisasi lebih dari sekadar semboyan kampanye elektoral.

Konsep pertahanan rakyat semesta, berakar pemikiran gerilya Tan Malaka, kudu beradaptasi dengan teknologi kemiliteran tanpa kehilangan jiwa kemanunggalannya dengan rakyat.

Format gerilya, terjadi hingga ruang siber. Serangan terhadap info pribadi dan prasarana digital nasional, adalah corak perang modern nan menuntut ketahanan semesta.

Humanisme Perlawanan

Jika kita menyelami Gerpolek, ada napas humanisme kental, sebuah kemauan memandang manusia Indonesia berdiri tegak tanpa rasa rendah diri (inferiority complex).

Kedaulatan politik, bukan berfaedah menutup diri ala isolasi, melainkan keahlian untuk berbicara tidak pada kebijakan dunia nan mencederai keadilan lokal.

Tantangan geopolitik terkini, membuktikan bahwa ketahanan nasional suatu bangsa sangat tergantung pada sejauh mana negara bisa melindungi penduduk paling rentan (Malaka, 1948).

Merawat pemikiran Gerpolek di masa sekarang, adalah upaya merawat api perjuangan, bukan sekadar pemujaan. Ketahanan nasional nan sejati, bukan hanya terletak pada jumlah alutsista, melainkan seberapa kuat ikatan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan dasar publik.

Di tengah ketidakpastian global, pesan Tan Malaka menjadi krusial: bangsa nan kuat adalah bangsa nan berdikari secara ekonomi, cerdas secara politik, dan tak terpatahkan secara mental.

Kemerdekaan 100% menjadi mimpi berbareng nan indah, dan perihal tersebut bakal menjadi sebuah kenyataan, jika langkah kebijakan selalu berfokus pada hikmat kepentingan publik -res publica.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan