"Taksi Hijau" Vietnam Siap Serbu AS-Eropa, Bidik IPO Rp354 Triliun

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Operator taksi listrik asal Vietnam, Green and Smart Mobility (GSM), bersiap memperluas upaya ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Ekspansi ini dilakukan menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong pada 2028.

Perusahaan nan merupakan mitra produsen mobil Vietnam, VinFast, itu bakal mengerahkan armada di AS, Swedia, dan Belanda hingga akhir 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari ambisi GSM membawa upaya taksi listriknya ke pasar global, setelah perusahaan dengan sigap memperbesar pangsa pasar di Vietnam sejak diluncurkan pada 2023.

"Inisiatif ekspansi ini dilakukan menjelang IPO Hong Kong nan direncanakan GSM pada tahun 2028," kata ahli bicara GSM dalam wawancara dengan Reuters, dikutip Kamis (3/9/2026).

GSM dimiliki CEO VinFast Pham Nhat Vuong dan keluarganya. Perusahaan sebelumnya mengungkapkan persiapan IPO bakal dimulai tahun ini melalui penawaran awal kepada calon penanammodal besar, tetapi menolak membeberkan sasaran valuasi maupun biaya nan mau dihimpun. Penasihat GSM sebelumnya disebut menyarankan valuasi sekitar US$20 miliar alias sekitar Rp352 triliun (asumsi kurs Rp17.600/US$).

Setelah masuk AS, Swedia, dan Belanda, GSM berencana memperluas operasinya ke pasar Eropa lainnya pada 2027. Perusahaan telah menjalankan upaya di sejumlah pasar Asia dan baru-baru ini mengerahkan armada kendaraan di Denmark, dengan seluruh kendaraan nan digunakan berasal dari VinFast.

Ekspansi GSM menjadi kesempatan bagi VinFast untuk memperkuat penjualan kendaraan listriknya di luar Vietnam. Produsen mobil tersebut tengah berupaya meningkatkan penjualan internasional setelah ekspansi sebelumnya ke AS dan Eropa belum memenuhi harapan. Pada 2025, VinFast menjual nyaris 200.000 mobil, tetapi hanya sekitar 11% nan terjual di luar negeri.

Meski demikian, strategi ekspansi GSM dinilai mengandung akibat tinggi lantaran mengandalkan model upaya padat modal.

"Belum ditentukan apakah pasar luar negeri dapat mencapai pemanfaatan armada nan cukup untuk menyediakan skala nan cukup untuk menyeimbangkan risiko," kata Mehdi Jaouadi, analis industri otomotif sekaligus mitra konsultan YCP di Singapura.

Jaouadi memperingatkan, ekspansi dengan armada milik sendiri di sejumlah negara dapat meningkatkan ketergantungan GSM terhadap pendanaan eksternal.

"Terus mendanai armada milik perusahaan di beberapa pasar dapat meningkatkan ketergantungan pada modal eksternal," ujarnya.

Model upaya GSM berbeda dari perusahaan ride-hailing seperti Grab dan GoTo Gojek Tokopedia nan lebih banyak mengandalkan pengemudi dengan kendaraan sendiri. Di Vietnam, sekitar 40% kendaraan nan beraksi melalui platform GSM merupakan milik perusahaan, sementara GSM mulai menerapkan model hibrida dengan menggabungkan pengemudi tenaga kerja dan pekerja lepas untuk menekan biaya.

Di AS dan Uni Eropa, GSM awalnya bakal mengandalkan kendaraan milik perusahaan dan pengemudi nan direkrut langsung sebelum beranjak ke model platform. GSM juga berencana membeli hingga 1 juta mobil VinFast sepanjang 2026-2030. Langkah ini membikin GSM tetap menjadi pembeli krusial VinFast, meski porsinya terhadap penjualan mobil VinFast telah turun dari 72% pada 2023 menjadi sekitar seperempat saat ini.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News