Ilustrasi(magnific)
KANKER serviks selama ini identik dengan jangkitan Human Papillomavirus (HPV). Karena itu, beragam program skrining seperti tes HPV dan Pap smear menjadi senjata utama untuk mendeteksi penyakit tersebut sejak dini. Namun, tidak semua kanker serviks berkembang akibat HPV.
Salah satu jenis nan perlu mendapat perhatian adalah gastric-type adenocarcinoma (GAS), ialah subtipe kanker serviks nan tergolong langka tetapi mempunyai sifat sangat agresif. Berbeda dengan kebanyakan kanker serviks lainnya, GAS tidak berangkaian dengan jangkitan HPV sehingga sering kali tidak terdeteksi melalui metode skrining konvensional.
Informasi nan dilansir dari laman Universitas Airlangga menyebut bahwa kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam bumi kesehatan lantaran banyak kasus baru ditemukan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
Mengapa Sulit Terdeteksi?
Pada umumnya, tes HPV dan Pap smear bisa membantu mendeteksi perubahan sel nan berpotensi berkembang menjadi kanker serviks. Namun, lantaran gastric-type adenocarcinoma tidak berkembang melalui jalur nan berasosiasi dengan HPV, hasil pemeriksaan skrining dapat menunjukkan kondisi normal meskipun sel kanker sebenarnya sudah tumbuh.
Akibatnya, pasien sering kali tidak menyadari keberadaan penyakit tersebut hingga indikasi mulai muncul dan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi inilah nan membikin pemeriksaan awal menjadi lebih susah dibandingkan kanker serviks nan berangkaian dengan HPV.
Gejala nan Perlu Diwaspadai
Berdasarkan hasil tinjauan sistematis terhadap 59 penelitian nan melibatkan 150 pasien dari beragam negara, usia rata-rata penderita saat pertama kali didiagnosis mencapai 52,8 tahun.
Gejala nan paling sering ditemukan meliputi:
- Perdarahan memek nan tidak normal
- Keputihan nan berjalan terus-menerus alias persisten
Meski demikian, tanda-tanda awal penyakit ini sering kali tidak spesifik dan tampak ringan. Karena gejalanya samar, banyak pasien baru mencari pertolongan medis ketika kanker telah berkembang ke stadium nan lebih lanjut.
Risiko Kekambuhan dan Penyebaran Kanker
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa gastric-type adenocarcinoma mempunyai akibat kekambuhan nan cukup tinggi. Sekitar 28,7 persen pasien mengalami kanker nan kembali muncul setelah pengobatan.
Penyebaran kanker umumnya terjadi ke beragam organ tubuh, seperti:
- Ovarium
- Peritoneum alias selaput rongga perut
- Hati
- Kelenjar getah cerah di area abdomen
Tingkat kelangsungan hidup lima tahun pasien tercatat hanya sekitar 26,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa GAS mempunyai tingkat keganasan nan lebih tinggi dibandingkan banyak jenis kanker serviks lainnya.
Diagnosis Membutuhkan Pemeriksaan Khusus
Secara mikroskopis, gastric-type adenocarcinoma mempunyai karakter nan menyerupai jaringan lambung. Oleh lantaran itu, master tidak hanya mengandalkan pemeriksaan rutin untuk memastikan diagnosis.
Pemeriksaan imunohistokimia dengan penanda seperti MUC6, CK7, dan p53 sering diperlukan untuk membantu mengidentifikasi penyakit ini secara lebih akurat. Namun, akomodasi pemeriksaan lanjutan tersebut belum tersedia secara merata, terutama di sejumlah wilayah dan negara berkembang.
Keterbatasan akses terhadap teknologi diagnostik menjadi salah satu aspek nan menyebabkan kasus GAS tetap kerap terlambat dikenali.
Dalam tata laksananya, operasi histerektomi radikal tetap menjadi pilihan utama bagi pasien nan terdiagnosis pada stadium awal. Namun, tantangan muncul lantaran jenis kanker ini diketahui mempunyai respons nan lebih rendah terhadap kemoterapi maupun radioterapi konvensional dibandingkan kanker serviks nan berangkaian dengan HPV.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gastric-type adenocarcinoma memerlukan pendekatan terapi nan lebih spesifik dan terarah sesuai karakter biologis penyakitnya.
Para peneliti juga menilai bahwa pengembangan terapi baru berbasis penelitian molekuler menjadi langkah krusial untuk meningkatkan efektivitas pengobatan pada masa mendatang.
Pentingnya Pemeriksaan Awal
Meski tergolong langka, gastric-type adenocarcinoma menjadi pengingat bahwa tidak semua kanker serviks dapat dideteksi melalui skrining HPV alias Pap smear. Oleh lantaran itu, wanita nan mengalami indikasi seperti perdarahan memek abnormal alias keputihan berkepanjangan tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis, meskipun hasil tes HPV menunjukkan hasil negatif.
Peningkatan kewaspadaan klinis, penguatan jasa diagnostik, serta pengembangan penelitian mengenai penyakit ini diharapkan dapat membantu mempercepat pemeriksaan dan meningkatkan kesempatan hidup pasien.
Sumber: Universitas Airlangga
English (US) ·
Indonesian (ID) ·