FDC Dental Clinic berbareng para finalis Mojang Jajaka Jabar 2026.(Dok.Istimewa)
LAYANAN kesehatan gigi sekarang tak lagi sebatas mengobati rasa sakit. Perubahan perilaku masyarakat mendorong klinik gigi menghadirkan pengalaman perawatan nan memadukan kesehatan, estetika, teknologi, hingga kenyamanan layaknya industri hospitality. Gagasan tersebut mengemuka dalam obrolan movie “Negeri Susah Senyum” nan digelar FDC Dental Clinic Kebon Kawung Bandung berbareng para finalis Mojang Jajaka Jawa Barat (Jabar) 2026, Senin (17/8) lalu.
Diskusi tidak hanya mengupas persoalan akses dan edukasi kesehatan nan tergambar dalam film, tetapi juga membahas arah baru industri perawatan gigi nan semakin menempatkan pengalaman pasien sebagai bagian krusial dari layanan.
Chief of Business Officer (CBO) FDC Dental Clinic Achmad Mughny menyatakan, masyarakat mulai mengubah langkah pandang terhadap kesehatan gigi. Jika sebelumnya seseorang datang ke klinik ketika mengalami sakit gigi, sekarang perawatan gigi semakin dipandang sebagai investasi kesehatan sekaligus bagian dari style hidup.
“Di tengah tingginya persoalan kesehatan gigi dan mulut nan menurut WHO memengaruhi sekitar 3,5 miliar orang di dunia, masyarakat semakin memandang perawatan gigi sebagai bagian dari investasi kesehatan jangka panjang,” ujar Mughny.
Menurut dia, aspek estetika juga semakin mendapat perhatian. Senyum dan kondisi gigi tidak hanya berangkaian dengan kesehatan, tetapi turut memengaruhi rasa percaya diri seseorang.
“Dalam kondisi itu, kualitas pengalaman pasien, mulai dari kemudahan akses, kenyamanan layanan, hingga hubungan dengan tenaga medis, menjadi salah satu pembeda krusial dalam memilih jasa kesehatan gigi nan modern,” jelasnya.
TIGA PILAR LAYANAN
Mughny menjelaskan FDC Dental Clinic mengembangkan kerangka Brain, Beauty, dan Behaviour sebagai tiga pilar nan saling melengkapi dalam pelayanan kesehatan gigi modern. Brain menjadi fondasi utama melalui penerapan standar kedokteran, riset medis, serta skill klinis. Pilar Beauty berangkaian dengan estetika dan kepercayaan diri nan lahir dari senyum.
Sementara itu, Behaviour menitikberatkan pada pengalaman pasien melalui standar pelayanan nan mengangkat prinsip industri hospitality. Kenyamanan dan rasa senang pasien selama menjalani perawatan menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari layanan.
“Behaviour datang melalui penerapan standar pelayanan bergengsi industri hospitality, di mana kenyamanan dan emosi senang pasien selama berada di klinik menjadi kunci utama nan menentukan keberhasilan perawatan secara menyeluruh,” jelasnya.
Meski aspek estetika semakin diminati, Mughny menegaskan tindakan medis tetap kudu mengutamakan kesehatan biologis pasien. Perawatan tidak boleh dilakukan dengan membalikkan skala prioritas. Tahap pertama adalah Health, ialah memastikan kesehatan biologis pasien terlebih dahulu. Berikutnya Alignment, berupa perataan dan penyelarasan struktur gigi.
Setelah kesehatan dan struktur gigi berada dalam kondisi optimal, barulah Design dilakukan untuk menyempurnakan estetika permukaan gigi. “Pendekatan ini memastikan bahwa setiap tindakan keelokan visual nan ditawarkan tidak pernah mengorbankan kegunaan dan keselamatan kesehatan biologis pasien dalam jangka panjang,” tegasnya.
Konsep tersebut kemudian diterapkan dalam keseluruhan perjalanan pasien, mulai dari penyambutan secara personal, pemberian info mengenai tindakan secara transparan, hingga pembuatan suasana ruang perawatan nan menenangkan. Pasien, kata Mughny, tidak semestinya hanya dipandang sebagai penerima tindakan medis. Mereka kudu mendapatkan pengalaman nan membikin proses perawatan terasa lebih nyaman sejak pertama kali datang ke klinik.
TANTANGAN AKSES KESEHATAN
Diskusi movie “Negeri Susah Senyum” juga membawa perhatian pada persoalan kesenjangan akses dan edukasi kesehatan di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Finalis Mojang Jajaka Jabar 2026 asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengatakan persoalan nan digambarkan dalam movie bukan perihal nan asing bagi dirinya. Tumbuh di area pesisir Sukabumi, Djemima memandang keterbatasan akses dan edukasi kesehatan tetap menjadi persoalan nan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Meski letak tempat tinggalnya cukup jauh dari Kasepuhan Ciptagelar nan menjadi letak pengambilan gambar, realitas nan ditampilkan dalam movie dinilainya mempunyai kedekatan dengan kondisi di lapangan. “Film tersebut memperlihatkan kondisi nan memang terjadi di lapangan dan bukan sekadar cerita nan dibangun untuk kepentingan film,” ujarnya.
Menurut Djemima, pendekatan wellness dan hospitality memang relevan untuk menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan. Namun, persoalan mendasar mengenai edukasi dan akses kesehatan di wilayah juga tidak boleh diabaikan.
Ia menilai generasi muda, termasuk para Mojang Jajaka, mempunyai peran untuk ikut menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
“Saya setuju jika pada wilayah perkotaan memang terdapat kebutuhan campuran antara wellness dan hospitality pada jasa kedokteran gigi. Pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab sebagai putri wilayah untuk ikut menyuarakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.
Kolaborasi FDC Dental Clinic dengan para finalis Mojang Jajaka Jabar 2026 diharapkan dapat memperluas pesan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut. Lebih dari sekadar membangun senyum nan percaya diri, edukasi tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat menjadikan kesehatan gigi sebagai bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.(E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·