Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyebut bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak hanya terbatas pada reaktor darat skala besar, tapi juga bisa dikembangkan menjadi model terapung di atas kapal hingga jenis reaktor modular (Small Modular Reactor/SMR).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapeten Zainal Arifin menekankan bahwa pihaknya bakal memastikan setiap jenis teknologi reaktor nan dipilih memenuhi seluruh prinsip keselamatan nan dipersyaratkan. Hal itu terutama jika direncanakan bakal dikembangkan di Indonesia.
"PLTN nan beraksi dan berkembang saat ini tidak hanya berupa reaktor skala besar nan dibangun di darat, terdapat beberapa konsep antara lain reaktor nan ada di land base skala besar, ini juga dikembangkan PLTN apung, PLTN nan ada di kapal serta reaktor modular alias lebih dikenal sekarang SMR," jelas Zainal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Pihaknya menilai beragam macam pilihan teknologi mempunyai karakter keselamatan serta persyaratan pengawasan tersendiri. Karena itu, proses pertimbangan nantinya dilakukan berasas karakter kreasi dan teknologi nan digunakan, bukan hanya mempertimbangkan kapabilitas pembangkitnya.
"Hal krusial bagi Bapeten adalah bahwa setiap pilihan teknologi mempunyai karakter keselamatan dan persyaratan pengawasan nan perlu kita tentukan. Oleh lantaran itu, pertimbangan regulator kudu berbasis pada karakter kreasi dan teknologi nan dipakai," tuturnya.
Zainal menegaskan, posisi Bapeten sebagai lembaga pengawas independen tidak bekerja untuk mendorong maupun menghalang pembangunan PLTN di Indonesia. Pengawasan difokuskan untuk menjamin kepantasan pengoperasian akomodasi nuklir dari aspek keselamatan dan keamanan.
"Bapeten tidak berada pada posisi untuk mendorong alias menghalang pembangunan PLTN. Bapeten berada pada posisi untuk memastikan bahwa setiap pembangunan PLTN apapun teknologinya hanya dapat beraksi andaikan persyaratan keselamatan, keamanan, terpenuhi," tandasnya.
Dia menyebut, dalam strategi dekarbonisasi menuju net zero emission 2060, PLTN bakal berkontribusi terhadap 14,2% pasokan listrik nasional. Angka tersebut setara dengan pasokan listrik sebesar 276 Terra Watt hour (TWh).
Menurutnya, sasaran tersebut sejalan dengan rencana pengoperasian komersial PLTN pertama di Indonesia pada 2032 mendatang. Ia menyebut pengembangan kapabilitas kumulatif PLTN ditargetkan mencapai 35 GW pada 2060.
"Berdasarkan perencanaan sektor energi, PLTN telah ditempatkan sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi menuju net zero emission tahun 2060. Dalam perencanaan tersebut, kontribusi PLTN diproyeksikan sekitar 14,2% produksi listrik nasional. nan besarnya sekitar 276 TW hour pada tahun 2060," jelasnya.
Proyeksi tersebut dinilai bahwa peran daya nuklir sebagai salah satu opsi strategis dalam memenuhi kebutuhan daya nasional. Untuk mencapai sasaran tersebut, Bapeten menyiapkan kerangka regulasi, sumber daya manusia, infrastruktur, dan keahlian pertimbangan keselamatan sejak tahap awal.
"Bagi Bapeten nomor tersebut menunjukkan bahwa kesiapan regulator kudu dibangun. Sejak sekarang pengawasan tidak boleh baru disiapkan ketika pembangunan PLTN sudah berjalan," tambahnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·