Sutan Sjahrir: Psikologi Kognitif Menjadi Tindakan Paling Revolusioner

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Di tengah bumi nan semakin bising oleh opini, propaganda, dan arus info nan bergerak tanpa henti, keahlian berpikir kritis menjadi semakin langka. Ironisnya, banyak orang lebih sigap memilih pihak daripada memahami persoalan. Dalam konteks ini, sosok Sutan Sjahrir menjadi relevan untuk dibaca kembali, bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai contoh gimana kekuatan berpikir dapat menjadi corak perlawanan nan paling berani.

Potret Sutan Sjahrir dengan nuansa hitam-emas nan elegan, menampilkan simbol keberanian intelektual, kebebasan berpikir. Gambar dihasilkan oleh AI Chatgpt

Sjahrir dikenal sebagai salah satu intelektual paling menonjol dalam sejarah Indonesia. Berbeda dengan banyak tokoh politik pada masanya nan mengandalkan retorika massa, dia justru menempatkan logika sehat, refleksi, dan obrolan sebagai fondasi perjuangan. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan juga terbebas dari langkah berpikir nan sempit dan dogmatis.

Dari perspektif pandang ilmu jiwa sikap Sjahrir mencerminkan apa nan disebut sebagai critical thinking alias berpikir kritis. Kemampuan ini tidak hanya berangkaian dengan kecerdasan, tetapi juga keberanian untuk mempertanyakan kepercayaan sendiri, mengevaluasi info secara objektif, dan menolak menerima sesuatu hanya lantaran dipercaya oleh banyak orang.

Psikolog modern menemukan bahwa manusia mempunyai kecenderungan alami untuk mencari info nan mendukung keyakinannya. Fenomena ini dikenal sebagai confirmation bias. Akibatnya, seseorang sering kali lebih nyaman berada di dalam golongan nan mempunyai pandangan serupa daripada menghadapi kemungkinan bahwa dirinya bisa saja salah. Di sinilah letak keistimewaan Sjahrir. Ia berani mengambil posisi nan tidak terkenal ketika menurutnya posisi tersebut lebih logis dan sesuai dengan nilai kemanusiaan.

Sikap seperti ini memerlukan kekuatan psikologis nan besar. Menjadi kritis berfaedah siap menghadapi penolakan, kritik, apalagi kesepian. Banyak orang memilih mengikuti arus bukan lantaran setuju, melainkan lantaran takut dikucilkan. Dalam ilmu jiwa sosial, kecenderungan ini disebut konformitas, ialah dorongan untuk menyesuaikan diri dengan golongan demi memperoleh penerimaan sosial.

Sjahrir menunjukkan perihal nan berbeda. Ia membuktikan bahwa integritas intelektual sering kali menuntut seseorang untuk berdiri sendirian. Ketika banyak orang larut dalam euforia alias fanatisme, dia memilih untuk tetap berpikir jernih. Ketika kebanyakan memandang bumi secara hitam dan putih, dia mencoba memahami kompleksitas nan ada di kembali setiap persoalan.

Pelajaran krusial dari Sjahrir bukan hanya tentang politik, melainkan tentang gimana manusia semestinya menggunakan pikirannya. Di era media sosial, info beredar lebih sigap daripada proses berpikir. Banyak orang membagikan buletin sebelum memverifikasi, menghakimi sebelum memahami, dan berdebat sebelum mendengar. Akibatnya, ruang publik sering dipenuhi reaksi emosional nan mengalahkan pertimbangan rasional.

Psikologi menunjukkan bahwa berpikir kritis bukanlah keahlian bawaan nan otomatis dimiliki setiap orang. Kemampuan ini kudu dilatih melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, mengevaluasi bukti, dan membuka diri terhadap perspektif pandang nan berbeda. Dengan kata lain, berpikir kritis adalah keahlian nan memerlukan disiplin mental.

Warisan terbesar Sutan Sjahrir mungkin bukan kedudukan politik nan pernah dia pegang, melainkan teladan bahwa kepintaran sejati tidak terletak pada seberapa keras seseorang berbicara, tetapi pada seberapa dalam dia berpikir. Dalam masyarakat nan sering menghargai kecepatan dibanding ketepatan, keberanian untuk berpikir secara kritis justru menjadi tindakan nan paling revolusioner.

Pada akhirnya pertanyaan nan ditinggalkan Sjahrir untuk kita bukanlah apakah kita setuju dengannya alias tidak. Pertanyaannya jauh lebih mendasar apakah kita tetap berani berpikir sendiri ketika bumi terus mendorong kita untuk hanya mengikuti arus?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan