Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang protes anak muda di India sekarang memasuki babak baru. Setelah tindakan Gen Z mengguncang pemerintahan Narendra Modi, siswa Generasi Alpha mulai turun ke jalan menuntut perbaikan akomodasi dan kualitas pendidikan.
Pada 22 Agustus, sebanyak 122 siswa sekolah dasar negeri di Desa Samuhi Bhatpurwa, Uttar Pradesh, menolak masuk kelas. Anak-anak nan sebagian tetap berumur enam tahun itu meminta pemerintah merealisasikan pembangunan gedung sekolah baru nan sebelumnya telah dijanjikan.
Sekolah tersebut saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian gedung tetap dipenuhi puing setelah tembok sekolah runtuh dan melukai seorang siswi pada 2023.
"Kami takut gedung sekolah ini suatu saat bakal runtuh. Kondisinya sangat buruk," ujar Priya (bukan nama sebenarnya), siswa berumur delapan tahun, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (4/9/2026).
"Rasa takut itu membikin kami tidak bisa berkonsentrasi belajar. Itulah sebabnya kami semua melakukan protes."
Aksi tersebut berhujung setelah Pejabat Pendidikan Wilayah (Block Education Officer) Deepak Awasthi datang menemui para siswa dan menjanjikan pembangunan gedung baru. Setelah mendapat kepastian itu, para siswa akhirnya bersedia pulang menjelang petang.
Namun, Samuhi Bhatpurwa bukan kasus tunggal. Sejak akhir Juli, siswa di sedikitnya 10 negara bagian, termasuk Maharashtra, Bihar, Rajasthan, Jharkhand, dan Madhya Pradesh, melakukan tindakan serupa untuk memprotes buruknya akomodasi sekolah, kekurangan guru, hingga kualitas makanan.
Fenomena ini muncul setelah gelombang protes Gen Z nan berjalan sejak awal Juni. Ribuan anak muda sebelumnya turun ke Jantar Mantar, New Delhi, menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kebocoran ujian serta persoalan pengangguran nan dinilai semakin membebani generasi muda. Gerakan tersebut dipimpin golongan satir Cockroach Janata Party (CJP).
Setelah tindakan Gen Z mendapat perhatian luas, CJP mengalihkan fokusnya ke kondisi sekolah melalui aktivitas "School Thik Karo" alias "Perbaiki Sekolah", nan diluncurkan pada 15 Agustus. Kepala bagian norma CJP Ratna Singh mengatakan aktivitas tersebut merupakan kelanjutan dari keresahan nan mereka temui saat berbincang dengan anak-anak dan orang tua dari wilayah pedesaan.
"Mereka berbincang tentang kondisi sekolah nan buruk, kekurangan guru, serta jalan menuju sekolah nan berlubang dan belum diaspal," kata Singh. Menurut dia, memperbaiki sekolah merupakan langkah lanjutan dari aktivitas CJP untuk mendorong masa depan anak-anak nan lebih baik.
Aktivis kewenangan pendidikan Nagasimha Rao juga menilai persoalan mendasar tetap terjadi di banyak sekolah negeri. Data pemerintah juga mencatat lebih dari 100.000 sekolah hanya mempunyai satu pembimbing untuk seluruh tingkatan kelas, sementara ribuan sekolah lainnya tercatat tidak mempunyai siswa.
"Anak-anak menuntut hak-hak mereka. Mereka menginginkan guru, bangku, gedung sekolah, air minum, listrik, dan toilet," ujarnya.
India sendiri mempunyai salah satu sistem pendidikan terbesar di dunia, dengan sekitar 247 juta siswa di 1,5 juta sekolah. Meski audit pemerintah 2025-2026 menunjukkan akses pendidikan membaik, rasio guru-murid meningkat menjadi rata-rata satu pembimbing untuk 24 siswa, dan nomor putus sekolah menurun, kondisi di lapangan tetap jauh dari merata.
Tuntutan siswa apalagi merambah persoalan makanan sekolah. Di Bihar, sekitar 50 siswa pada 28 Juli melangkah kaki sejauh 4 kilometer untuk menemui pejabat pemerintah dan memprotes kualitas makanan nan mereka terima. Kondisi ini memperlihatkan bahwa protes Gen Alpha bukan sekadar persoalan fasilitas, tetapi juga tuntutan terhadap pemenuhan kewenangan pendidikan nan telah dijamin Undang-Undang Hak atas Pendidikan (RTE) India.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·