Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus berupaya menggenjot hilirisasi batu bara nan dinilai bisa mendongkrak nilai tambah secara signifikan dibandingkan penjualan batu bara secara mentah.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengungkapkan pengembangan coal to Synthetic Natural Gas (SNG) menjadi salah satu nan bakal dilakukan. Proyek ini tidak hanya bermaksud memperkuat pasokan energi, tetapi juga bisa meningkatkan nilai tambah hingga 5,7 kali lipat.
"Secara ekonomi produk SNG ini nantinya bisa memberikan nilai tambah alias added value hingga 5,7 kali dibandingkan penjualan batu bara mentah," ujar Arsal dalam RDP berbareng Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Adapun, proyek ini ditujukan untuk menyediakan pengganti pasokan gas, khususnya di wilayah Sumatra Selatan hingga Jawa Barat. Dalam rencana pengembangannya, proyek SNG memerlukan sekitar 9 juta ton batu bara dan ditargetkan menghasilkan kapabilitas sebesar 237 BBTUD.
Dalam skema pengembangannya, PTBA bakal membentuk joint venture dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) nan juga bakal menjadi off-taker 100% dari SNG nan dihasilkan.
Selain SNG, PTBA juga mengembangkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti pengganti LPG impor. Proyek ini diproyeksikan bisa meningkatkan nilai tambah hingga 4,3 kali lipat.
"Proyek ini bakal memberikan nilai tambah sekitar 4,3 kali dibandingkan penggunaan batu bara sebagai bahan batu bara langsung," ujarnya.
Proyek ini ditargetkan mempunyai kapabilitas sekitar 1,4 juta. Dalam implementasinya PTBA bakal berkedudukan sebagai operator pabrik sekaligus pemasok batu bara, sementara Pertamina bakal menjadi offtaker nan menyerap seluruh produksi DME.
"Ini tetap berproses kami melangkah dengan Danantara mudah-mudahan keekonomiannya kelak bisa membikin PTBA menjadi lebih baik lagi," ujarnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·