Sukhoi Su-47 Fondasi Teknologi Jet Tempur Generasi Berikutnya

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

loading...

Sukhoi Su-47. Fot9/ Viet

MOSCOW - Meskipun hanya satu prototipe nan dibangun, Sukhoi Su-47 Berkut berfaedah sebagai 'laboratorium terbang' nan sangat penting, meletakkan dasar bagi pesawat tempur modern seperti Su-35 dan Su-57

Pada tahap akhir Perang Dingin, Sukhoi Su-47 Berkut (Elang Emas) muncul sebagai simbol penemuan teknologi penerbangan Rusia.

Dengan penampilan nan sama sekali berbeda dari pesawat tempur tradisional, Su-47 mempunyai konfigurasi sayap sapuan terbalik nan berani, skema cat hitam nan ramping, dan ruang senjata internal, nan mencerminkan ambisi Moskow untuk mencapai superioritas udara atas saingan Baratnya.

Ciri paling unik dari Su-47 adalah sayapnya nan melengkung ke depan, bukan sayap nan melengkung ke belakang seperti nan lebih umum. Sukhoi merancang konfigurasi ini tidak hanya untuk menciptakan tampilan futuristik tetapi juga untuk memberikan untung taktis praktis, khususnya keahlian manuver nan superior.

Desain ini mengoptimalkan aliran udara di atas permukaan kontrol, memungkinkan pesawat untuk mempertahankan perspektif serang dan keahlian manuver nan sangat tinggi pada kecepatan subsonik.

Jika dikerahkan dalam pertempuran, Su-47 dianggap sebagai "pembunuh" dalam situasi pertempuran udara jarak dekat lantaran kemampuannya untuk menunda kehilangan daya angkat dan keahlian manuvernya nan luar biasa.

Meskipun menawarkan kelebihan aerodinamis, sayap terbalik menghadapi masalah ketidakstabilan elastis. Pada kecepatan tinggi, sayap condong berputar ke luar, memberikan tekanan nan sangat besar pada struktur dan berpotensi menyebabkan kerusakan. Untuk mengatasi perihal ini, Sukhoi kudu menggunakan sejumlah besar material komposit canggih untuk meningkatkan kekakuan.

Namun, kondisi ekonomi Rusia nan susah pada tahun 1990-an mencegah produksi massal struktur nan kompleks dan mahal ini. Moskow hanya mempertahankan satu prototipe eksperimental sebagai kendaraan demonstrasi teknologi, alih-alih mengubahnya menjadi pesawat tempur nan diproduksi secara massal.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews