Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Sudirman Said menayampaikan sambutan dalam serasehan memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.(MI/Supardji Rasban)
PENGHAYATAN sekaligus penerapan terhadap teks Pancasila kian hari kian meluntur. Seandainya para pejabat dari level paling atas hingga bawah bisa mengamalkan masing masing sila dalam teks Pancasila tersebut dengan baik, bangsa Indonesia bakal bisa meloncat meninggalkan banyak masalah nan sekarang sedang dialami.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Harkat Negeri UHN) Tegal, Sudirman Said, dalam serasehan memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, di Padepokan Kalisoga, Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (1/6).
“Saat ini nilai-nilai Pancasila semakin menjauh dari realitas politik dan sosial nan ada, Pancasila hanya sebagai pemanis di bibir,” ujar Sudirman Said.
Menurut Sudirman Said, para pejabat publik dari mulai level paling atas hingga bawah menjadikan Pancasila nan hanya kerap didengungkan dalam pidato-pidato. “Karenanya kita semestinya tidak segan-segan untuk mengingatkan dengan kritik-kritik nan tajam,” tegas Sudirman Said, nan mantan Menteri ESDM itu.
Sekretaris Anggota Bidang Hukum dan Kenegaraan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Taufiqurorohman Syahuri, mengaku bingung dengan kapan kelahiran Pancasila. Sebab, banyak versinya nan hingga sekarang tetap menjadi perdebatan akademik.
“Kontroversi lahirnya Pancasila itu sejatinya sudah dimulai pada Orde Baru denga terbitnya kitab Nugroho Notosusanto berjudul Naskah Proklamasi nan Otentik dan Rumusan Pancasila nan Otentik oleh Pusat Sejarah ABRI Departemen Pertahanan-Keamanan 1971,” terang Taufiqurrohman.
Namun bagi Taufiqurrohman, nan krusial sekarang Pancasila kudu diterapkan, dihayati, dilaksanakan. Di sisi lain nan lebih krusial perlu diindentifikasi mana saja pihak nan mendukung Pancasila dan mana nan tidak. Sekarang selalu dikaitkan dengan Ketuhanan. Orang-orang nan tidak menghormati sesama kepercayaan dianggap antiPacasila.
“Orang-orang nan korupsi trilunan, orang-orang nan membalak rimba sesukanya dan pengusaha hitam nan kongkalikong dengan pejabat, itu nan yang sebenarnya sebagai penghianat Pancasila. Mari ke depan, negara mengindentifikasi musuh Pancasila jangan kepada penduduk nan dianggap intoleran dan radikal. Tapi koruptor radikal itu nan musuh Pancasila agar orang tidak berani lagi untuk korupsi,” jelas Taufiqorrohman.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih menyampaikan, mengimbau para pejabat jika pidato maupun sambutan tidak sekadar tentang makna dan maksud masing-masing sila dalam tek Pancasila tersebut.
“Tapi nan krusial gimana eksekusinya dalam menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga manfaatnya langsung bisa dirasakan oleh masyarakat” ujar Fiqri Faqih.
Sarasehan tersebut menghadirkan delapan narasumber dari beragam latar belakang akademisi, pemerintahan, dan legislatif. Antara lain; Otto Gusti Madung, Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero; Sutarmin, Rektor Universitas Peradaban Bumiayu, Taufiqulloh, Rektor Universitas Pancasakti Tegal, Roby Setiadi, Rektor Universitas Muhadi Setyabudi Brebes, Azkhiyatul Mutmainah, Wakil Wali Kota Tegal dan Djoko Gunawan, mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·