Suara Gemuruh Sebelum Tanah Longsor: Tanda yang Tak Boleh Diabaikan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

suara gemuruh sebelum tanah longsor – Pernah nggak, Grameds lagi santuy di rumah saat hujan deras, alias lagi main ke wilayah pegunungan nan adem, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dari dalam bumi? Suaranya mirip gemuruh petir nan tak kunjung usai, alias mirip bunyi truk trailer bermuatan berat nan melintas di jalanan berkerikil.

Bagi sebagian orang, bunyi gemuruh ini sering dikira gempa bumi biasa, dentuman atmosfer, alias apalagi dikaitkan dengan mitos penduduk lokal. 

Padahal, dari kacamata pengetahuan ilmu bumi dan geoteknik, bunyi gemuruh sebelum tanah longsor adalah sirine paling kritis nan dikirimkan oleh bumi. 

Itu adalah tanda bahwa struktur tanah di atas tebing sedang mengalami kegagalan mekanis masif (massive mechanical failure) dan berada di periode keruntuhan.

Mengapa kejadian mekanis di bawah tanah ini bisa menghasilkan bunyi dentuman kemandang nan begitu mencekam? Bagaimana proses sains di kembali munculnya gemuruh tersebut? Yuk, kita bedah secara mendalam, Grameds!

Darimana Suara Gemuruh Sebelum Tanah Longsor Berasal?

Suara gemuruh (rumbling sound) sebelum dan saat tanah longsor terjadi berasal dari akumulasi daya mekanis, gesekan material berukuran raksasa, dan pelepasan gelombang bunyi di dalam lereng.

Bumi tidak mengeluarkan bunyi dari udara kosong, melainkan dari empat sumber utama di bawah permukaan:

1. Gesekan Dahsyat Massa Tanah dan Batuan (Frictional Drag)

Sumber bunyi paling dominan berasal dari gesekan antara ribuan ton material tanah/batu nan mulai bergeser dengan lapisan batuan induk nan tak bersuara (bedrock).

  • Ketika blok tanah raksasa meluncur di atas bagian gelincir (sliding plane), gesekan mekanis antar-material padat ini menghasilkan getaran gelombang rendah (infrasound).
  • Getaran ini merambat melalui medium tanah dan udara, lampau sampai ke telinga kita sebagai bunyi gemuruh nan menggema dan bergetar hebat.

2. Patahan dan Keretakan Struktur Batuan (Tensile Cracking)

Sebelum massa tanah betul-betul roboh, tekanan air pori (pore water pressure) nan sangat tinggi mendesak lapisan batuan di dalam tebing hingga retak dan patah secara mendadak.

  • Pelepasan daya akibat patahnya struktur batuan padat ini menghasilkan gelombang akustik mikro-seismik.
  • Jika terjadi di satu titik, suaranya mungkin hanya seperti letupan kecil. Namun, ketika ribuan retakan terjadi secara serentak di sepanjang interior lereng, tumpukan gelombang suaranya berasosiasi menjadi dentuman kemandang nan berat.

3. Putusnya Jutaan Akar Vegetasi Secara Bersamaan

Pohon-pohon besar di atas lereng mempunyai sistem perakaran (taproot) nan menancap dalam sebagai “paku tanah” alami. Saat tanah mulai meluncur, akar-akar ini menahan beban ton-tonan massa tanah sampai pada titik pemisah elastisitasnya.

  • Ketika pemisah itu terlampaui, jutaan serat akar kayu terputus secara massal dalam hitungan detik.
  • Proses putusnya jaringan akar dalam jumlah besar di bawah tanah menghasilkan bunyi keretakan/gemertak beruntun (snapping sound) nan gaungnya bergaung keluar sebagai bunyi gemuruh.

4. Benturan Bongkahan Batu (Boulder) & Erosi Dalam (Internal Piping)

Di wilayah pegunungan vulkanik, struktur tanah biasanya bercampur dengan bongkahan batu-batu raksasa (boulder).

  • Saat lereng runtuh, batu-batu ini saling berantam dan berbenturan dengan tebing batuan keras.
  • Benturan berulang antar-batuan raksasa di dalam rongga-rongga tanah (piping) memantulkan bunyi berdenting berat nan memperkuat kemandang gemuruh di sepanjang lembah.

Ringkasnya: Suara gemuruh adalah campuran dari gesekan tanah raksasa + batuan retak/patah + akar pohon putus + tumbukan batu nan terjadi secara berbarengan di bawah permukaan bumi.

Klasifikasi Tanah di Indonesia (Edisi Revisi)

Anatomi Lereng dan Mengapa Bumi Bisa “Berteriak”

Sebelum membahas asal-usul suaranya, kita perlu memahami dulu struktur lereng. Bayangkan lereng bukit sebagai tumpukan material raksasa nan terdiri dari tanah gembur di bagian atas, batuan lapuk di tengah, dan batuan padas nan keras di bagian dasar.

Dalam kondisi normal dan stabil, lereng ini ditahan oleh dua kekuatan utama:

  • Gaya Penahan (Shear Strength)

Kekuatan gesek antarpartikel tanah dan cengkeraman akar vegetasi nan menahan tanah agar tidak meluncur ke bawah.

  • Gaya Pendorong (Shear Stress)

Beban massa tanah itu sendiri beserta gravitasi nan selalu menarik material ke arah bawah.

Selama style penahan lebih besar daripada style pendorong, lereng bakal tetap aman. Namun, ketika hujan deras melanda dalam lama panjang, air bakal meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan memicu kondisi jenuh air.

Dikutip dari pedoman mitigasi musibah pengetahuan bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), air hujan nan masuk ke dalam pori-pori tanah bakal meningkatkan tekanan air pori (pore water pressure). 

Tekanan air ini bertindak layaknya pelumas hidrolik nan merusak style gesek antarbutir tanah. Begitu daya gesek ini hilang, beban berat massa tanah jenuh bakal mengalahkan daya penahannya. Di titik kritis inilah, pergeseran internal dimulai dan memicu munculnya bunyi gemuruh sebelum tanah longsor.

Proses Sains di Balik Suara Gemuruh Sebelum Tanah Longsor

Suara dentuman alias gemuruh ini tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Ada serangkaian proses fisika dan pengetahuan bumi nan terjadi di bawah permukaan sebelum material tanah meluncur 

1. Mikro-seismik dan Keretakan Struktur (Tensile Cracking)

Beberapa jam alias menit sebelum longsoran besar terjadi, lapisan batuan di dalam lereng mengalami pembentukan retakan tarik (tension cracks). 

Ketika ikatan antarbatuan padas alias tanah padat terputus secara mendadak akibat tekanan air, daya mekanis nan tersimpan puluhan tahun dilepaskan secara sekaligus.

Pelepasan daya ini menghasilkan gelombang akustik mikro-seismik. Pada skala kecil, suaranya seperti keretakan es alias patahan ranting. 

Namun, ketika terjadi di ribuan titik secara berbarengan di sepanjang bagian gelincir (sliding plane), gelombang bunyi tersebut berakumulasi menjadi kemandang gemuruh nan berat.

2. Pemutusan Massal Sistem Perakaran Vegetasi

Pohon-pohon berakar dalam (taproot) bertindak sebagai “paku tanah” alami. Saat massa tanah bergeser, sistem perakaran ini menahan beban tonan tanah dengan sangat kuat sampai akhirnya terputus sekaligus. 

Dikutip dari beragam kajian geoteknik lingkungan, proses putusnya jutaan jaringan serat akar berkayu di bawah tanah secara mendadak menyumbang gelombang bunyi gemertak (snapping sound) beruntun nan gaung sampai ke permukaan.

3. Gesekan Mekanis dan Gelombang Akustik Massa

Saat blok tanah raksasa mulai meluncur di atas bagian gelincir, terjadi gesekan luar biasa (frictional drag) antara massa tanah bergerak dengan batuan induk nan diam. Gesekan material padat dalam volume ribuan meter kubik ini menghasilkan getaran mekanis gelombang rendah (infrasound).

Getaran ini merambat melalui medium tanah dan udara, lampau terdengar oleh telinga manusia sebagai bunyi gemuruh nan bergetar hebat. Semakin besar volume tanah dan batuan nan bergeser, semakin keras pula dentuman gemuruh nan dihasilkan.

4. Benturan Bongkahan Batu dan Erosi Internal (Internal Piping)

Di dalam lereng vulkanik, biasanya terdapat bongkahan batu boulder raksasa. Ketika lereng mulai runtuh, batu-batu ini saling berbenturan dan beradu dengan batuan dasar tebing. 

Benturan berulang antarbatuan raksasa di dalam lorong-lorong rongga tanah (piping) memantulkan bunyi berdenting berat nan memperkuat kemandang gemuruh di lembah.

Educomics Anak Tangguh Tanggap Bencana

Faktor Geologi nan Memperhebat Suara Gemuruh

Tidak semua jenis longsoran mengeluarkan bunyi nan sama kerasnya. Tingkat intesitas dan karakter bunyi gemuruh sebelum tanah longsor sangat dipengaruhi oleh jenis batuan dan karakter pengetahuan bumi lokal.

Jenis Batuan / Lahan Karakteristik Geologi Karakter Suara Gemuruh nan Dihasilkan
Batuan Vulkanik Muda (Tuff & Breksi) Gembur, porus, mengandung bongkahan batu besar (boulder) Suara gemuruh sangat keras bergemuruh (booming) disertai dentuman tumbukan batu.
Tanah Lempung Ekspansif (Clay Soil) Plastis, licin, sangat peka terhadap perubahan kadar air Suara gemuruh condong lebih lambat dan berat seperti erangan (groaning/grinding).
Area Patahan / Sesar Aktif Batuan sudah retak-retak (sheared zone) dan rapuh Gemuruh bergetar mirip gelombang gempa bumi dangkal.
Kawasan Tebing Kapur (Karst) Memiliki rongga gua bawah tanah Suara gemuruh bergaung (echoing) dari dalam rongga bawah tanah.

Sifat Batuan Vulkanik vs Tanah Lempung

Pada wilayah pegunungan vulkanik seperti di Pulau Jawa dan Sumatra, tanah terdiri dari campuran abu vulkanik dan bongkahan breksi. Ketika jenis lereng ini longsor, suaranya sangat menggelegar lantaran batuan keras saling berhantam.

Sebaliknya, pada lereng berbatu lempung (clay), bunyi gemuruhnya mungkin tidak terlalu berdenting keras, namun terasa sebagai getaran gelombang rendah nan membikin kaca jendela rumah di sekitar letak bergetar hebat. 

Dilansir dari publikasi kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gelombang gelombang rendah dari gesekan tanah lempung ini sering kali dirasakan sebagai getaran di dada sebelum matamu memandang tanahnya turun.

Pengaruh Aktivitas Manusia (Anthropogenic Factor) dalam Memicu Longsor

Selain proses pengetahuan bumi murni, ulah dan aktivitas manusia sering kali menjadi akselerator nan mempercepat datangnya bunyi gemuruh longsor. Beberapa aktivitas nan merusak kestabilan lereng meliputi:

1. Pemotongan Kaki Lereng (Cut and Fill)

Pembangunan jalan raya alias pemukiman di area perbukitan sering memotong bagian bawah tebing (toe of slope). Padahal, kaki lereng adalah penopang utama massa tanah di atasnya. 

Ketika kaki tebing dikepras tanpa kalkulasi struktur drainase dan tembok penahan nan kuat, daya tahan lereng merosot tajam.

2. Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

Penebangan pohon berakar dalam nan digantikan oleh tanaman semusim berakar dangkal (seperti jagung, kentang, alias sayuran) menghilangkan sistem “paku tanah” alami. 

Tanpa akar kuat nan mengikat tanah, air hujan bakal meresap tanpa hambatan, menciptakan titik jenuh air nan cepat, dan memicu gesekan bunyi gemuruh keruntuhan tanah lebih awal.

3. Drainase Pemukiman nan Buruk

Kebocoran pipa air, selokan tanpa tembok semen (unlined drain), alias buangan limbah rumah tangga di atas tebing membikin tanah lereng menerima pasokan air secara terus-menerus. Hal ini membentuk kantung air buatan di dalam tanah nan siap menjebol lereng kapan saja.

Mengetahui Rangkaian Tanda Alam Sebelum Suara Gemuruh Muncul

Suara gemuruh biasanya menjadi sinyal fase akhir sebelum tanah betul-betul runtuh. Namun, sebelum bunyi gemuruh itu menggelegar, alam sebenarnya sudah memberikan peringatan awal (early warning) nan lebih halus.

Jika Grameds berada di area lereng, perhatikan kronologi perubahan alam berikut:

1. Muncul Retakan Tanah Berbentuk Lengkung (Tension Cracks)

Di bagian atas lereng, muncul retakan memanjang menyerupai corak tapal kuda. Ini menandakan blok tanah sudah mulai terpisah dari induknya.

2. Munculnya Mata Air Baru nan Keruh

Tiba-tiba keluar air dari celah-celah lereng bawah. Jika air nan keluar berwarna sangat keruh alias berlumpur, artinya sedang terjadi erosi internal (piping) di dalam lereng.

3. Pohon, Tiang Listrik, dan Pagar Miring

Batang pohon di lereng mulai miring serentak ke arah bawah. Kosen pintu dan jendela rumah di sekitar lereng mendadak susah dibuka lantaran fondasinya tertekan pergeseran tanah.

4. Debit Air Mata Air Lama Tiba-Tiba Berhenti

Jika ada mata air nan biasanya mengalir lancar tiba-tiba mampet secara misterius saat hujan deras, ini sangat berbahaya! Artinya, jalur air di dalam lereng tersumbat oleh runtuhan internal dan sedang membentuk “bendungan alami” nan siap jebol.

5. Terjadinya Suara Gemertak Halus

Terdengar letupan-letupan mini seperti kayu patah dari dalam tanah.

6. Suara Gemuruh Menggelegar

Ini adalah puncak peringatan! Tanah sedang alias baru saja meluncur dengan kecepatan tinggi.

 Tanggap Bencana

Langkah Mitigasi Darurat: Apa nan Harus Dilakukan Saat Mendengar Gemuruh?

Detik-detik saat bunyi gemuruh sebelum tanah longsor terdengar adalah waktu nan sangat krusial. Keputusan sigap dalam hitungan detik bisa menentukan keselamatan jiwa.

Berikut langkah-langkah mitigasi darurat nan kudu Grameds lakukan:

1. Jangan Cari Asal Suara! Segera Lari Menjauh

Begitu mendengar bunyi gemuruh dari arah tebing alias bukit, jangan sekali-kali melangkah mendekat untuk mengambil foto alias video! 

Longsoran tanah jenis aliran bahan rombakan (debris flow) bisa bergerak dengan kecepatan lebih dari 50 km/jam. Segera berlari menjauhi arah tebing.

2. Lari ke Samping (Tegak Lurus), Bukan ke Bawah

Ini adalah patokan emas (golden rule) pemindahan longsor!

  • SALAH

Lari ke arah bawah lereng. Arah luncuran tanah dan batuan selalu menuju ke bawah mengikuti lembah, sehingga Anda bisa tertimbun dari belakang.

  • BENAR

Lari menyamping (horizontal/transversal) keluar dari jalur bentangan lereng alias lembah. Cari tempat nan relatif datar dan jauh dari tebing terjal

3. Pukul Kentongan alias Berteriak Memberi Peringatan

Sembari berlari menyamping ke tempat aman, berteriaklah “Longsor! Longsor!” alias bunyikan tanda ancaman lokal (seperti kentongan) agar penduduk di sekitar nan berada di dalam rumah segera keluar.

4. Hindari Area Lembah dan Jalur Sungai

Jika longsoran membawa material lumpur jenuh air, material tersebut bakal berubah menjadi banjir bandang lumpur (lahar dingin/debris flow) nan mengalir deras di sepanjang alur sungai alias lembah. Jauhi area bantaran sungai di kaki bukit.

5. Jangan Kembali Sebelum Ada Pemeriksaan Ahli

Setelah bunyi gemuruh berakhir dan longsoran tampak mereda, jangan langsung kembali ke rumah untuk mengambil peralatan berharga. Lereng nan baru saja longsor biasanya tetap mempunyai retakan susulan nan siap runtuh kembali saat hujan turun lagi. Tunggu asesmen resmi dari BPBD alias tim pengetahuan bumi setempat.

Kesimpulan

Suara gemuruh sebelum tanah longsor bukanlah sekadar kejadian alam biasa, apalagi perihal mistis. Suara ini merupakan hasil dari proses geofisika dan mekanika tanah nan kompleks, mulai dari pelepasan daya retakan batuan, terputusnya sistem perakaran vegetasi, hingga gesekan masif jutaan ton material tanah dan batuan nan bergerak di atas bagian gelincir.

Memahami bahwa bunyi gemuruh adalah “teriakan terakhir” bumi sebelum musibah terjadi dapat menyelamatkan banyak nyawa. 

Dengan mengenali tanda-tanda awal seperti retakan tanah, pohon miring, dan kemunculan mata air keruh, kita dapat melakukan tindakan mitigasi jauh sebelum bunyi gemuruh itu terdengar.

Ingat ya Grameds, di dalam literasi kebencanaan, kepekaan terhadap tanda-tanda alam adalah kunci utama keselamatan kita dan keluarga.

Mau belajar lebih banyak tentang rahasia pengetahuan kebumian, kejadian pengetahuan bumi nan menakjubkan, hingga pedoman praktis mitigasi musibah alam? 

Yuk, perluas wawasan dan literasimu dengan membaca buku-buku sains geografi, pengetahuan kebumian, dan lingkungan hidup terbaik hanya di Gramedia.com! 

  • 7 Fungsi Kawah Gunung Berapi
  • Bikin Takjub Inilah Kawah Gunung Terbesar di Indonesia
  • Fakta Aliran Lahar Gunung Berapi
  • Fakta Awan Panas Gunung Berapi
  • Fakta Tentang Magma
  • Kawah Gunung Terbesar di Dunia
  • Kaldera Terbesar di Dunia
  • Likuifaksi Terparah di Dunia
  • Munculnya Mata Air Baru di Lereng
  • Pengertian Kaldera
  • Perbedaan Kawah dan Kaldera
  • Proses Terbentuknya Kawah
  • Proses Terbentuknya Kaldera
  • Suara Gemuruh Sebelum Longsor
  • Wajib Punya Tas Siaga Bencana Gunung Meletus

Written by Vania Andini

perempuan di kembali layar. mengawasi tren dalam industri literasi dan aktif membagikan ulasan kitab serta menulis artikel.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia
↑