Suami Istri Tipu Pejabat-Presiden RI, Jalan-Jalan Pakai Uang Negara

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Khusus mengenai bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia - Linimasa sejarah mencatat momen mencengangkan saat Presiden Indonesia sempat terperdaya oleh tindakan tipu-tipu seorang laki-laki nan menyatakan sebagai kaum ningrat bergelimang harta. Siapa sangka, sosok nan mengaku berdarah bangsawan tersebut sebenarnya hanyalah penduduk biasa nan berasal dari area pedalaman hutan.

Skandal memalukan ini pun tercatat sebagai salah satu kasus penipuan paling gempar di tanah air lantaran sukses mengelabui jejeran birokrat kelas atas hingga menyeret nama Presiden pertama RI, Soekarno.

Kisahnya bermulai pada 8 Agustus 1957. Kala itu, muncul seorang laki-laki berumur 42 tahun berjulukan Idrus di Palembang. Fisiknya gagah dan berwibawa. Kepada banyak orang, dia mengaku sebagai pangeran dari wilayah nan dulu menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Keyakinan masyarakat terhadap pengakuannya makin besar setelah dia datang berbareng lima orang. Semuanya berpenampilan sipil-militer. Kepada masyarakat, Idrus berdasar kedatangannya ke kota lantaran tempat tinggalnya dilanda bentrok Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). PRRI merupakan aktivitas protes dari Sumatera Barat atas sikap pemerintah pusat nan sangat sentralisasi dan melupakan daerah.

Menurut laporan surat kabar Belanda Het Parool (19 Juli 1958), awalnya hanya sedikit orang nan percaya. Namun, lama-kelamaan makin banyak orang yakin, termasuk Walikota Palembang.

Besarnya kepercayaan itu membikin Idrus dibawa ke Jakarta untuk berjumpa Presiden Soekarno. Berdasarkan pemberitaan Nieuwsblad van het Zuiden (7 April 1959), pada 10 Maret 1958, Idrus diterima langsung oleh Presiden di Istana Negara.

Kepada Soekarno, Idrus mengaku sebagai bangsawan sekaligus raja dari Suku Anak Dalam. Soekarno nan percaya begitu saja lantas menghormati dan menjamunya dengan beragam keistimewaan.

Idrus diberi akomodasi berkeliling kota-kota di Jawa dengan biaya negara. Ini disertai juga dengan pengawalan polisi disertai sirene nan bisa membelah kepadatan jalanan kota.

Tercatat dia pergi ke Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Madiun. Di tiap kota, dia selalu mendapat sambutan meriah dari para pemimpin daerah.
Di Jakarta, misalnya, saat berjumpa Wali Kota Sudiro, dia dijamu dalam makan malam mewah. Namun, kebiasaannya berbeda dari tamu agung pada umumnya. Idrus lebih suka menyantap daging mentah, terutama ular.

Di Bandung, Idrus mendapat akses ke beragam lokasi wisata dan hiburan. Di kota itu pula dia berjumpa seorang wanita berjulukan Markonah, nan kemudian dinikahinya. Sejak saat itu, keduanya memperkenalkan diri sebagai raja dan ratu, komplit dengan pengawalan polisi dalam perjalanan keliling Jawa.

Padahal, faktanya, Suku Anak Dalam tidak mempunyai raja alias ratu. Jabatan tertinggi dalam organisasi tersebut hanyalah kepala suku.

Sampai akhirnya, nasib apes menimpa keduanya ketika berada di Madiun. Menurut Nieuwsblad van het Noorden (7 April 1959), otoritas setempat mulai berprasangka lantaran sikap Idrus dan Markonah tidak mencerminkan martabat bangsawan.

Akhirnya, keduanya dibawa ke instansi polisi dan diinterogasi. Dari sana terbongkar mereka bukanlah raja dan ratu. Idrus hanyalah seorang kepala desa, sementara Markonah wanita biasa.

Kasus itu pun bersambung ke pengadilan. Idrus dan Markonah mengaku bersalah dan memohon keringanan hukuman. Namun, norma tetap ditegakkan lantaran menyangkut wibawa seorang Presiden RI dan para pejabat dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Madiun telah tertipu.

"Saya sangat menyesal dengan peristiwa ini. Saya berjanji tidak bakal mengulanginya lagi," ujar Markonah di persidangan.

Majelis pengadil akhirnya menjatuhkan balasan 9 bulan penjara kepada keduanya. Kasus ini kemudian jadi buah bibir masyarakat karena banyak pejabat hingga orang nomor satu di RI menjadi korban.

(tps/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News