Studi Ungkap Minum Kopi Lebih Banyak Berkaitan dengan Lemak Tubuh yang Lebih Rendah

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Studi Ungkap Minum Kopi Lebih Banyak Berkaitan dengan Lemak Tubuh nan Lebih Rendah Ilustrasi(magnifik)

KABAR menarik datang bagi pencinta kopi. Studi terbaru dari peneliti University of Oulu, Finlandia, menemukan adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan komposisi tubuh nan lebih ramping, ditandai dengan lemak tubuh dan lemak visceral nan lebih rendah serta massa otot rangka nan lebih tinggi. 

Temuan ini dilaporkan New York Post berasas penelitian terhadap lebih dari 2.200 orang dewasa. Dalam penelitian tersebut, peserta memberikan info mengenai pola makan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, obat-obatan, hingga kebiasaan mengonsumsi kopi. 

Jumlah konsumsi bervariasi, mulai dari tidak minum kopi hingga lima cangkir alias lebih per hari. Peneliti kemudian melakukan pemeriksaan setelah peserta berpuasa semalaman, termasuk pengukuran komposisi tubuh dan respons metabolisme terhadap glukosa.

Lebih Banyak Kopi, Lemak Tubuh Lebih Rendah?

Hasil penelitian menunjukkan peserta nan mengonsumsi lebih banyak kopi condong mempunyai total lemak tubuh dan lemak visceral lebih rendah. Lemak visceral merupakan lemak nan berada di sekitar organ dalam dan berangkaian dengan beragam gangguan kesehatan.

Menariknya, golongan nan lebih sering minum kopi juga mempunyai massa otot rangka lebih tinggi dibandingkan mereka nan tidak mengonsumsi kopi. Peneliti turut menemukan kadar tiga masam amino rantai bercabang alias BCAA, ialah leusin, isoleusin, dan valin, dimana perihal itu lebih rendah pada konsumen kopi dengan asupan lebih tinggi. 

Kadar BCAA nan tinggi secara kronis diketahui berangkaian dengan resistensi insulin dan akibat glukosuria nan lebih besar. Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan perubahan tersebut.

Penelitian Sebelumnya Temukan Hasil Serupa

Temuan terbaru tersebut bukan satu-satunya penelitian nan mengaitkan kopi dengan lemak tubuh. Studi nan diterbitkan dalam jurnal Clinical Nutrition menganalisis 1.483 orang dengan sindrom metabolik selama tiga tahun.

Penelitian itu menemukan bahwa peningkatan konsumsi kopi berkafein dari tidak alias jarang minum menjadi konsumsi sedang, ialah 1-7 cangkir per minggu, berangkaian dengan penurunan lemak tubuh total, lemak batang tubuh, dan lemak visceral. 

Namun, hubungan serupa tidak ditemukan ketika konsumsi meningkat ke tingkat nan lebih tinggi, ialah lebih dari satu cangkir per hari.

Artinya, lebih banyak kopi tidak otomatis berfaedah lebih banyak manfaat. Penelitian tersebut juga tidak menemukan hubungan signifikan antara perubahan konsumsi kopi tanpa kafein dan parameter lemak tubuh.

Kopi Belum Terbukti Membakar Lemak

Meski hasilnya terdengar menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan antara kopi dan komposisi tubuh tetap belum sepenuhnya dipahami. Studi terbaru dari Finlandia menunjukkan korelasi, bukan bukti bahwa kopi secara langsung membakar lemak alias membentuk otot. 

Selain itu, penelitian tersebut tidak merinci ukuran cangkir, metode penyeduhan, maupun tambahan seperti gula dan susu. Karena itu, kopi sebaiknya tidak dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh lebih ideal. 

Temuan ini lebih tepat dipandang sebagai bukti awal bahwa konsumsi kopi, khususnya kopi berkafein dalam jumlah tertentu, mungkin berangkaian dengan proses metabolisme dan komposisi tubuh. Pola makan seimbang dan aktivitas bentuk tetap menjadi aspek utama dalam menjaga kesehatan.

Sumber: New York Post, Clinical Nutrition

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia