Studi Ungkap Kesulitan Finansial Jangka Panjang Berkaitan dengan Penurunan Kesehatan Otak

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Studi Ungkap Kesulitan Finansial Jangka Panjang Berkaitan dengan Penurunan Kesehatan Otak Ilustrasi(magnifik)

Kesulitan finansial nan berjalan selama bertahun-tahun berangkaian dengan kondisi kognitif dan kesehatan otak nan lebih jelek ketika seseorang memasuki usia lanjut. Temuan itu terungkap dalam studi nan meneliti perjalanan kondisi ekonomi seseorang sejak dewasa muda hingga usia lanjut.

Studi nan diterbitkan dalam jurnal Innovation in Aging tersebut menganalisis info 2.759 orang di Inggris nan merupakan bagian dari Medical Research Council National Survey of Health and Development (MRC NSHD), alias British 1946 birth cohort.

Peneliti menemukan orang nan mengalami kesulitan finansial alias mempunyai pendapatan rendah secara terus-menerus pada masa dewasa awal dan pertengahan condong mempunyai keahlian lebih jelek dalam tes kognitif pada usia 53 tahun.

Pada golongan peserta nan menjalani pemindaian otak, mereka nan mempunyai pendapatan rendah secara berkepanjangan juga menunjukkan kesehatan otak nan lebih jelek pada usia 69 hingga 71 tahun, termasuk penyusutan otak nan lebih besar.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan aspek lain, seperti keahlian kognitif masa kanak-kanak, tingkat pendidikan, dan kondisi kurang beruntung nan dialami sejak kecil.

Penulis utama studi, Dr Jacques Wels dari University College London (UCL), mengatakan penelitian selama beberapa dasawarsa menunjukkan bahwa kesulitan finansial nan menumpuk dalam jangka panjang lebih berangkaian dengan buruknya kesehatan kognitif dibandingkan masalah finansial nan hanya terjadi sesekali.

"Akumulasi kesulitan selama bertahun-tahunlah nan mengenai dengan hasil kesehatan kognitif terburuk, bukan bagian kesulitan nan terjadi sesekali," kata Wels.

Risiko Lebih Kuat pada Pria

Kaitan antara kesulitan finansial dan kesehatan otak nan lebih jelek terlihat lebih kuat pada pria, orang nan mengalami kesulitan sejak masa kanak-kanak, serta mereka nan membawa jenis genetik APOE-ε4 nan meningkatkan akibat Alzheimer.

Peneliti menduga stres kronis akibat masalah finansial dapat menjadi salah satu aspek nan berperan. Kekhawatiran mengenai duit secara terus-menerus juga dapat meningkatkan beban kognitif sehingga mengurangi kapabilitas mental untuk menjalankan tugas lainnya.

Dalam penelitian tersebut, kondisi ekonomi peserta dilacak pada usia 26, 43, dan 53 tahun. Sekitar 16% peserta dikategorikan mempunyai pendapatan rendah secara berkelanjutan, sedangkan 12% mengalami kesulitan finansial secara berkelanjutan.

Kemampuan kognitif peserta dinilai melalui tes memori verbal dan kecepatan pemrosesan. Sementara pemindaian MRI digunakan untuk memandang parameter kesehatan otak, termasuk atrofi otak dan pelebaran ventrikel.

Penulis senior studi, Profesor Praveetha Patalay dari UCL, mengatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa mengurangi kemiskinan kronis dan membantu masyarakat menghadapi kesulitan finansial berpotensi berkontribusi terhadap pencegahan penurunan kognitif dan demensia di masa depan.

Meski demikian, penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa kesulitan finansial secara langsung menyebabkan demensia.

Studi kohort kelahiran Inggris 1946 nan menjadi sumber info penelitian telah mengikuti para pesertanya sejak lahir. Studi tersebut memberikan kesempatan bagi peneliti untuk memandang hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan kesehatan selama nyaris seluruh perjalanan hidup seseorang.

Sumber: University College London

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia