Studi Terbaru: 5 Orang Kaya RI Butuh Waktu 603 Tahun Habiskan Hartanya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Orang super kaya di Indonesia tidak bakal relevan dengan istilah 'nasakom' alias nasib satu koma, baru gajian tanggal 1 kemudian sudah koma, namalain sudah sekarat duluan. Istilah nan sering diidentikkan dengan penghasilan nan baru saja diterima, kemudian dalam waktu singkat sudah habis.

Pasalnya, penelitian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa butuh ratusan tahun untuk orang super kaya di Indonesia untuk menghabiskan kekayaannya.

"603 tahun, waktu nan dibutuhkan bagi lima triliuner teratas menghabiskan kekayaannya jika masing-masing membelanjakan Rp2 miliar setiap hari," tulis Celios dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026, dikutip pada Selasa (28/4/2026).

Selama periode 2019-2025 kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia meningkat nyaris dua kali lipat, dari sekitar Rp2.508 triliun menjadi Rp4.651 triliun pada 2026. Jumlah tersebut setara seperlima PDB Indonesia.

Penelitian Celios yang disusun oleh Media Wahyudi Askar, Galau, D. M., Yudhistira, B., Hidayah, I., Fikri, B., Lianasari dan Darmawan, menunjukkan bahwa lebih dari separuh kekayaan golongan super kaya Indonesia berasal dari aktivitas ekstraktif alias pemanfaatan sumber daya alam seperti batu bara, sawit, dan nikel.

Pada periode 2019 hingga 2022, kontribusi sektor daya dan ekstraktif terhadap total kekayaan berada di nomor 39-46%. Kemudian, hingga pada tahun 2026, proporsi kekayaan 50 orang super kaya nan berasal dari sektor ekstraktif melonjak mencapai 57,8%.

Celios memandang adanya ketimpangan kekayaan antara crazy rich Indonesia dengan umumnya penduduk. Selain itu, ketimpangan juga terlihat dari faedah dan 'mudharat' nan diterima oleh masyarakat biasa.

Menurut laporan Celios, Median kekayaan 50 orang super kaya di Indonesia pada 2026 mencapai Rp52,3 miliar, sementara median kekayaan masyarakat hanya Rp84,35 juta.

Ke depan, Celios melihat kesenjangannya makin lebar, di mana pada 2050, kekayaan median superkaya diproyeksikan melonjak 106% menjadi Rp107,7 triliun. Sebaliknya, median kekayaan masyarakat hanya naik 20% menjadi Rp101 juta.

"Sektor ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya alam ini menghasilkan untung besar bagi segelintir golongan Super Kaya. Sementara itu, biaya tambahan akibat kerusakan lingkungan justru ditanggung oleh masyarakat.," tegasnya.

Ketimpangan ekonomi riil sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sederhananya masyarakat bisa memandang saldo tabungan nan mereka miliki saat ini dan bandingkan dengan tren tabungan orang kaya. Celios menemukan bahwa tabungan golongan kaya tumbuh lebih sigap dibandingkan masyarakat kecil. Simpanan jumbo di atas Rp5 miliar kian mendominasi 56,45% dari total duit di bank. Padahal, nyaris seluruh pengguna di Indonesia (sekitar 98,91%) merupakan mereka nan saldonya di bawah Rp100 juta.

"Ekonomi bisa saja tumbuh di atas 5 persen, tapi jika ekonomi hanya dinikmati segelintir orang saja, namanya bukan pertumbuhan, tapi kemunduran ekonomi nan dipoles angka."

(rob/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News