Studi MRI Ungkap Kemampuan Otak Anjing Bedakan Nuansa Emosi Manusia

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Studi MRI Ungkap Kemampuan Otak Anjing Bedakan Nuansa Emosi Manusia Ilustrasi.(Magnific)

BAGI pemilik anjing, keahlian hewan piaraan mereka untuk merasakan perubahan suasana hati bukanlah perihal baru. Seekor anjing mungkin bakal ikut antusias saat pemiliknya ceria alias mendekat untuk menghibur ketika pemiliknya tampak murung. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa otak anjing mungkin mempunyai pemahaman nan jauh lebih dalam tentang emosi manusia daripada nan diperkirakan sebelumnya.

Penelitian nan diterbitkan dalam jurnal iScience (Cell Press) pada Agustus ini mengungkapkan bahwa anjing bisa membedakan nuansa emosi negatif nan serupa, seperti perbedaan antara rasa takut dengan kemarahan, serta rasa takut dengan kesedihan.

Bukti Pertama melalui Pemindaian MRI

Para peneliti menempatkan anjing dalam kondisi sadar dan tanpa ikatan ke dalam pemindai MRI untuk mengawasi aktivitas di beragam wilayah otak mereka saat memandang gambar ekspresi wajah manusia. Studi ini melibatkan dua penelitian terpisah nan dimulai di Universitas Otonom Nasional Meksiko dan diperluas ke Universitas Eötvös Loránd di Hungaria.

"Sepengetahuan kami, ini pertama kali ada bukti bahwa anjing dapat membedakan wajah nan mengekspresikan dua emosi nan serupa," kata Laura V. Cuaya, salah satu penulis studi dan peneliti pascadoktoral di SCAN-Unit, Universitas Wina.

Dalam penelitian pertama terhadap delapan anjing peliharaan, wajah senang memicu respons kuat di bagian otak nan dikenal sebagai right temporal cluster nan meluas ke caudate nucleus. Wilayah ini dikaitkan dengan sistem penghargaan (reward), mirip dengan aktivitas otak saat anjing mengharapkan camilan alias mendengar pujian.

Membedakan Emosi Negatif nan Halus

Eksperimen kedua melibatkan 12 anjing untuk membandingkan gimana otak mereka memproses wajah bahagia, sedih, marah, dan takut. Hasil kajian seluruh otak menunjukkan pola respons nan berbeda untuk emosi negatif.

"Kami menemukan bahwa di bagian otak nan berbeda, terdapat perbedaan antara rasa takut dan marah, serta antara rasa takut dan kesedihan," jelas Cuaya. Namun, para peneliti mencatat tidak ada perbedaan signifikan dalam pemrosesan antara kesedihan dan kemarahan.

Meskipun temuan ini luar biasa, para mahir menekankan bahwa keahlian membedakan ini tidak berfaedah anjing memahami alias merasakan emosi dengan langkah nan sama seperti manusia. "Studi ini menunjukkan otak anjing dapat membedakan wajah, tetapi tidak menunjukkan bahwa mereka mempersepsikan alias memproses makna emosi tersebut secara mendalam," ujar Clive Wynne, Direktur Canine Science Collaboratory di Arizona State University.

Peran Domestikasi dan Jenis Ras

Penelitian ini kebanyakan melibatkan ras Border Collie, nan dikenal sangat terampil dalam mengikuti isyarat sosial manusia. Molly Byrne, peneliti utama Dog Lab di Pace University, menjelaskan bahwa Border Collie telah dibiakkan selama beberapa generasi untuk mendengarkan dan memperhatikan manusia dengan saksama.

Selain aspek genetik, status anjing sebagai hewan piaraan family nan berinteraksi dengan manusia nyaris 24 jam sehari juga diyakini memperkuat keahlian mereka dalam memperhatikan perincian ekspresi manusia.

Ke depan, para peneliti berencana melakukan penelitian menggunakan video untuk memandang gimana anjing merespons bahasa tubuh secara keseluruhan. Pasalnya, dalam kehidupan nyata, isyarat tubuh sering kali lebih krusial bagi anjing daripada sekadar ekspresi wajah statis. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia