Studi terbaru tentang lobster Norwegia menambah bukti bahwa hewan krustasea ini kemungkinan besar dapat merasakan sakit, sebuah dugaan nan telah lama dibicarakan para ilmuwan, apalagi pernah menginspirasi esai terkenal “Consider the Lobster” karya David Foster Wallace.
Dalam studi nan dipublikasikan pada 13 April 2026 di jurnal Scientific Reports, para peneliti menemukan dua obat pereda nyeri nan biasa digunakan pada manusia, aspirin dan lidokain, nan secara signifikan mengurangi respons melarikan diri pada lobster Norwegia (Nephrops norvegicus) ketika mereka diberi kejutan listrik.
Para peneliti beranggapan bahwa obat tersebut menekan proses persepsi rasa sakit pada hewan tersebut. Artinya, aktivitas membalikkan ekor (tail flip) nan dilakukan lobster kemungkinan merupakan refleks rasa sakit, bukan sekadar respons terhadap stres. Temuan ini memperkuat argumen bahwa lobster layak mendapatkan perlakuan nan lebih etis.
“Fakta bahwa obat penghilang rasa sakit untuk manusia juga bekerja pada lobster Norwegia menunjukkan sungguh miripnya langkah tubuh kita berfungsi,” ujar Lynne Sneddon dari University of Gothenburg.
“Karena itu, krusial untuk memperhatikan gimana kita memperlakukan dan membunuh krustasea, seperti halnya ayam dan sapi.”
Sejumlah negara seperti Norwegia, Selandia Baru, Austria, dan beberapa wilayah di Australia telah melarang praktik merebus krustasea hidup-hidup lantaran argumen kesejahteraan hewan.
Temuan terbaru ini diperkirakan bakal meningkatkan tekanan untuk reformasi nan lebih luas dalam langkah manusia memperlakukan dan memproses hewan-hewan tersebut.
Di Inggris, izin serupa tengah diusulkan. Sementara itu, industri dan peneliti mulai mengeksplorasi metode pengganti seperti penyetruman listrik (electrical stunning) sebagai langkah nan lebih manusiawi dibandingkan merebus hewan hidup-hidup.
Eksperimen Rasa Sakit
Dalam penelitian ini, para intelektual membagi 105 lobster ke dalam beberapa kelompok. Sebagian tidak diberi perlakuan (kelompok kontrol), sementara golongan lain diberi kejutan listrik dengan alias tanpa obat pereda nyeri.
Lidokain diberikan melalui air dalam tangki, sementara aspirin disuntikkan langsung ke tubuh lobster. Ketika diberi kejutan listrik selama 10 detik, lobster menunjukkan respons melarikan diri dengan aktivitas membalikkan ekor, sistem pertahanan umum pada krustasea.
Namun, pada lobster nan telah diberi obat pereda nyeri, gelombang aktivitas tersebut menurun drastis. Hanya tujuh dari 13 lobster nan diberi lidokain dan tiga dari 13 nan diberi aspirin menunjukkan respons tersebut, jauh lebih rendah dibanding golongan tanpa perlakuan.
Peneliti menyimpulkan bahwa respons tersebut bukan sekadar kontraksi otot akibat listrik, melainkan reaksi terhadap rasa sakit. Hal ini lantaran jika hanya dipicu listrik, obat pereda nyeri semestinya tidak memengaruhi respons tersebut.
Temuan ini menunjukkan adanya proses neurologis nan disebut nociception, ialah sistem di mana sinyal dari bagian tubuh nan terkena rangsangan rawan dikirim ke otak dan memicu pengalaman negatif nan berangkaian dengan rasa sakit.
Penelitian ini menambah daftar bukti bahwa hewan tanpa tulang belakang seperti kepiting dan gurita juga dapat merasakan sakit.
Dalam studi sebelumnya, kepiting pertapa diketahui meninggalkan cangkangnya setelah diberi kejutan listrik. Sementara gurita menunjukkan keahlian menghindari letak nan dikaitkan dengan rasa sakit dan lebih memilih tempat nan memberikan rasa lega.
Perkembangan bukti ilmiah ini mulai memengaruhi kebijakan. Di Inggris, kepiting, lobster, dan gurita sekarang diakui sebagai makhluk hidup nan bisa merasakan sakit berasas undang-undang kesejahteraan hewan tahun 2022.
Selandia Baru juga telah menerapkan patokan nan mewajibkan krustasea dibuat tidak sadar sebelum dibunuh secara komersial. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian seperti California dan Washington apalagi melarang budidaya gurita lantaran argumen kesejahteraan hewan. Sejumlah wilayah lain juga tengah mempertimbangkan kebijakan serupa.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·