Studi 20 Juta Orang Ungkap Zodiak Tak Pengaruhi Kecocokan Hubungan Cinta

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Zodiak Aquarius. Foto: Shutterstock

Astrologi telah ada selama ribuan tahun dan menjadi bagian dari beragam peradaban kuno. Di era modern, astrologi apalagi berkembang menjadi industri besar dengan nilai mencapai sekitar 3 miliar dolar AS pada 2025.

Namun, ada anggapan zodiak memengaruhi kecocokan dalam hubungan cinta. Benarkah begitu

Mengutip kitab What Science Says About Astrology, seorang wartawan sains, Carlos Orsi, mengulas sebuah penelitian besar nan mencoba menjawab pertanyaan tersebut menggunakan info dari lebih dari 20 juta orang.

Penelitian nan dilakukan oleh David Voas pada 2007 ini menggunakan info sensus Inggris dan Wales tahun 2001. Tujuannya adalah menguji apakah zodiak tertentu memang lebih cocok satu sama lain dalam hubungan romantis.

Gagasan tentang kecocokan zodiak sebenarnya sudah lama populer. Bahkan tokoh seperti Carl Jung pernah menggunakannya dalam kajian tentang astrologi dan sinkronisitas. Dalam kepercayaan umum, zodiak nan berjarak 60° alias 120° dianggap cocok, sementara nan berjarak 180° dinilai tidak cocok dalam hubungan.

Menurut Voas, orang nan lahir dalam periode zodiak tertentu diyakini mempunyai karakter serupa —seperti dermawan, sensitif, alias keras kepala— nan kemudian memengaruhi hubungan mereka.

Namun dalam pengetahuan sosial, aspek seperti usia, pendidikan, kelas sosial, agama, dan etnis jauh lebih berpengaruh dalam menentukan pasangan. Jika astrologi memang berpengaruh, maka efeknya semestinya bisa terlihat dalam jumlah besar.

Dari kajian awal, ditemukan adanya kelebihan jumlah pasangan dengan zodiak nan sama alias berdekatan. Misalnya, Capricorn dengan Capricorn alias Capricorn dengan Aquarius. Tercatat ada sekitar 22.000 pasangan tambahan dengan zodiak sama, serta 5.000 pasangan dengan zodiak berdekatan, dibandingkan dengan kemungkinan acak.

Ilustrasi Zodiak. Foto: Shutterstock

Temuan ini sempat menimbulkan pertanyaan, apakah ini bukti astrologi benar? Setelah ditelusuri lebih dalam, Voas menemukan anomali lain. Misalnya, jumlah pasangan nan lahir di bulan nan sama apalagi lebih tinggi, mencapai 23.000 pasangan. Selain itu, pasangan dengan tanggal lahir nan sama juga lebih banyak 41 persen dari nan seharusnya.

Namun, perihal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan pengisian info sensus. Formulir biasanya diisi oleh satu orang, nan mungkin secara tidak sengaja menuliskan tanggal lahirnya sendiri untuk pasangannya. Kesalahan lain termasuk penggunaan tanggal 1 Januari sebagai info default, alias kecocokan tanggal nan tidak masuk akal.

Voas kemudian melakukan uji krusial dengan membandingkan apakah kecocokan lebih dipengaruhi bulan lahir alias zodiak. Hasilnya, pasangan dengan zodiak sama tetapi bulan berbeda tidak lebih banyak dari nan diperkirakan secara acak.

Sebaliknya, pasangan dengan bulan lahir nan sama justru lebih banyak, nan kembali mengindikasikan kesalahan data, bukan pengaruh astrologi. Efek mini pada zodiak berdekatan juga akhirnya dijelaskan sebagai akibat teknik pengisian info otomatis dalam sensus.

Setelah semua aspek tersebut diperhitungkan, hasil akhirnya menunjukkan tidak ada bukti bahwa zodiak memengaruhi kecocokan pasangan. Analisis terhadap sekitar 10 juta pasangan ini menegaskan bahwa kecocokan cinta tidak ditentukan oleh tanda bintang.

Penelitian ini menunjukkan sungguh mudahnya seseorang bisa salah menarik konklusi jika hanya memandang info secara sekilas.

Jika kajian dihentikan pada tahap awal, kelebihan pasangan dengan zodiak sama bisa saja dianggap sebagai bukti astrologi. Padahal, setelah ditelusuri lebih dalam, semua itu hanyalah hasil dari bias dan kesalahan data. Dengan kata lain, meski astrologi tetap populer, sains belum menemukan bukti bahwa zodiak betul-betul memengaruhi hubungan cinta manusia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan