Stres Berkepanjangan Bisa Memicu dan Memperburuk Penyakit Autoimun, ini Penjelasannya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Stres Berkepanjangan Bisa Memicu dan Memperburuk Penyakit Autoimun, ini Penjelasannya Ilustrasi(magnifik)

STRES merupakan kondisi nan dapat memengaruhi tubuh, pikiran, perasaan, dan perilaku. Kondisi ini dapat dipicu oleh beragam tekanan, seperti beban pekerjaan, masalah keuangan, maupun bentrok dalam hubungan sosial, ketika seseorang merasa tuntutan nan dihadapi melampaui kemampuannya untuk mengatasinya. 

Stress

Stress adalah kondisi dimana tubuh mengalami ancaman pada realita dan psikolog. Menurut Global Autoimmune Institute, stres merupakan respons alami tubuh saat menghadapi ancaman alias tekanan, baik nan berkarakter nyata maupun psikologis. Stres tidak selalu berakibat buruk. 

Dalam kondisi tertentu, stres justru dapat membantu seseorang menjadi lebih fokus, waspada, alias termotivasi, misalnya saat bakal tampil di depan banyak orang. Namun, ketika tekanan nan dihadapi melampaui keahlian seseorang untuk mengatasinya, stres dapat berubah menjadi negatif. 

Pada kondisi ini, tubuh mengaktifkan respons "fight or flight", nan ditandai dengan peningkatan degub jantung, pernapasan nan lebih cepat, dan tekanan darah nan meningkat sebagai langkah tubuh menghadapi ancaman.  

Hubungan stress dan Autoimun

Menurut Global Autoimmune Institute menjelaskan bahwa stres tidak hanya dapat menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun pada sebagian orang nan mempunyai kerentanan, tetapi juga dapat memperburuk indikasi penyakit nan sudah ada. 

Bahkan, sekitar 80 persen pasien melaporkan mengalami tekanan emosional nan tidak biasa sebelum indikasi penyakit mulai muncul. 

Peneliti juga menggambarkan adanya hubungan timbal balik, ialah penyakit autoimun dapat menimbulkan stres, sementara stres nan berkepanjangan berpotensi memperburuk kondisi penyakit.

Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, baik secara fisik, emosional, maupun perilaku, antara lain:

  • Fisik: sakit kepala, nyeri alias ketegangan otot, nyeri dada, mudah lelah, gangguan tidur, sakit perut, hingga sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah sehingga tubuh lebih mudah terserang penyakit.
  • Emosional: kecemasan, susah berkonsentrasi, mudah marah, merasa kewalahan, hingga sedih alias depresi.
  • Perilaku: pola makan berubah, lebih jarang berolahraga, menghindari lingkungan sosial, serta meningkatnya akibat penggunaan rokok, alkohol, alias unsur adiktif lainnya.

Beberapa Penyakit Autoimun nan Dikaitkan dengan Stres

Global Autoimmune Institute menyebut bahwa stres telah dikaitkan dengan beberapa penyakit autoimun, di antaranya:

  • Rheumatoid arthritis (RA): stres dapat memperburuk nyeri, pembengkakan, dan kekakuan pada sendi sehingga indikasi menjadi lebih susah dikendalikan.
  • Lupus eritematosus sistemik (SLE): stres dikaitkan dengan meningkatnya kekambuhan gejala, termasuk nyeri dan gangguan tidur.
  • Multiple sclerosis (MS): beberapa penelitian menunjukkan stres dapat memperburuk perjalanan penyakit, dan sekitar 80 persen pasien melaporkan mengalami stres nan tidak biasa sebelum indikasi muncul.
  • Inflammatory bowel disease (IBD): termasuk penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, di mana stres dapat meningkatkan gelombang kambuhnya gejala.
  • Penyakit Graves: hormon stres diduga berkedudukan dalam proses terjadinya gangguan pada kelenjar tiroid.
  • Diabetes jenis 1: stres dapat menyebabkan kadar gula darah lebih susah dikendalikan sehingga kebutuhan insulin dapat meningkat.
  • Psoriasis: stres menjadi salah satu pemicu kekambuhan nan dapat memperparah peradangan dan rasa gatal pada kulit.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres dapat berkedudukan sebagai pemicu maupun aspek nan memperburuk penyakit autoimun pada perseorangan nan rentan. 

Karena itu, menjaga kesehatan mental melalui pengelolaan stres, rehat nan cukup, pola makan seimbang, aktivitas fisik, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan saat diperlukan menjadi langkah krusial untuk mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Sumber: Global Autoimmune Institute, Mayo clinic, Cleveland Clinic

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia