Ilustrasi.(Magnific)
SELAMA ini, strategi pencegahan demensia sebagian besar dipandu oleh penelitian dari negara-negara kaya nan condong mengelompokkan aspek akibat secara seragam. Namun, studi baru nan komprehensif menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mungkin tidak dapat diterapkan di semua tempat.
“Pencegahan tidak pernah berkarakter satu ukuran untuk semua (one size fits all),” ujar John La Puma, master sekaligus penulis kitab Indoor Epidemic, kepada Newsweek.
Komentar tersebut muncul seiring laporan para peneliti nan dipimpin oleh University of Southern California (USC). Mereka menemukan bahwa aspek akibat demensia nan paling umum dan dapat dikendalikan berbeda tajam dari satu negara ke negara lain. Artinya, strategi pencegahan nan dirancang untuk satu negara bisa saja kandas jika diterapkan di negara lain.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian nan dipimpin oleh USC berbareng rekan-rekan dari Brown University dan Johns Hopkins University ini menganalisis info dari lebih dari 214.000 orang dewasa lanjut usia di 14 negara dan wilayah. Lokasi penelitian mencakup Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Irlandia Utara, empat wilayah Eropa, Korea, Meksiko, Tiongkok, Malaysia, Brasil, dan India.
Data nan dikumpulkan antara tahun 2009 dan 2023 ini berasal dari studi penuaan jangka panjang nan disusun oleh tim Gateway to Global Aging Data. Hasil temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Healthy Longevity.
Para peneliti memeriksa 12 aspek akibat demensia nan dapat dimodifikasi sebagaimana diidentifikasi oleh Komisi Lancet, termasuk:
- Gangguan pendengaran
- Depresi
- Kurangnya aktivitas fisik
- Isolasi sosial
Perbedaan Tajam Antarnegara
Kesenjangan antarnegara ditemukan sangat substansial. Sebagai contoh, tingkat pendidikan nan rendah memengaruhi 85,6 persen lansia di Tiongkok, tetapi hanya 12 persen di AS. Sebaliknya, indeks massa tubuh (BMI) nan tinggi memengaruhi 44,9 persen penduduk Amerika, tetapi hanya 13,3 persen orang di India.
John La Puma juga menyoroti satu aspek nan tidak dimasukkan dalam penelitian tersebut, ialah paparan sinar matahari. "Studi ini mengukur 12 aspek risiko, tetapi mereka melewatkan paparan sinar siang hari, nan terbukti mengurangi akibat sebesar 16 hingga 17 persen dengan dosis nan tepat. Itu satu perihal nan bakal memperbaiki biologi di seluruh 14 negara nan dipelajari," tambahnya.
Kesamaan nan tidak Terduga
Meskipun terdapat perbedaan besar, studi ini menemukan bahwa aspek akibat tertentu secara konsisten berkelompok dengan langkah nan sama di beragam negara. Risiko kardiovaskular, seperti kolesterol tinggi dan hipertensi, condong muncul bersamaan. Begitu pula dengan akibat perilaku seperti merokok dan konsumsi alkohol.
Emma Nichols, penulis utama dan intelektual riset di USC Schaeffer Institute, menyatakan bahwa konsistensi ini adalah hasil nan paling tidak terduga. "Hal ini mempunyai implikasi nyata bagi langkah kita merancang strategi pencegahan dan intervensi, lantaran beberapa perihal rupanya lebih konsisten di beragam tempat daripada nan kita duga sebelumnya," kata Nichols.
Implikasi bagi Program Pencegahan
Para peneliti menyatakan bahwa hasil ini dapat membantu pemerintah dan organisasi kesehatan membangun program pencegahan demensia nan disesuaikan dengan populasi mereka sendiri, alih-alih mengimpor strategi dari luar negeri.
Sebagai contoh, program nan dibangun untuk mengelola glukosuria dapat diperluas untuk menangani seluruh golongan akibat kardiometabolik terkait, seperti kolesterol dan tekanan darah, secara sekaligus. Pendekatan nan disesuaikan secara lokal ini diharapkan dapat menghasilkan upaya pencegahan nan lebih efektif secara keseluruhan. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·