Strategi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membangun housing financial ecosystem turut mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perseroan hingga mencapai Rp 418 triliun pada semester I 2026.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan, angsuran dan pembiayaan BTN tersebut tumbuh seiring dengan transformasi perseroan dari mortgage bank menjadi bank berbasis housing financial ecosystem.
Transformasi ini tidak hanya berfokus pada ekspansi upaya dan digitalisasi, tetapi juga memperluas jasa BTN untuk memenuhi kebutuhan finansial pengguna dalam setiap tahapan perjalanan hidupnya, mulai dari membeli rumah hingga kebutuhan finansial lainnya.
Pada semester I 2026, BTN membukukan untung bersih konsolidasi sebesar Rp 2,40 triliun alias tumbuh 40,8% secara tahunan. Dalam periode nan sama, aset BTN mencapai Rp 545 triliun dan biaya pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 433 triliun.
Kualitas angsuran BTN juga membaik. Rasio angsuran bermasalah alias non-performing loan (NPL) turun menjadi 2,99% dari sebelumnya 3,3%. Sementara itu, cost of credit turun dari 2,0% menjadi 0,7%.
Chairman Infobank Institute Eko B. Supriyanto menilai transformasi BTN mulai menunjukkan hasil nan signifikan. Menurut dia, perubahan tersebut tidak hanya tercermin dari ekspansi bisnis, tetapi juga dari peningkatan keahlian dan perbaikan kualitas aset perseroan.
“Transformasi BTN sudah mulai terlihat hasilnya. Bukan hanya dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perbaikan kualitas angsuran dan penguatan fundamental,” ujar Eko dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/8).
Menurut Eko, transformasi BTN juga terlihat dari keberanian perseroan memperluas upaya dari sekadar pembiayaan KPR menjadi beyond mortgage. BTN mulai membangun ekosistem nan mengikuti perjalanan finansial nasabah, mulai dari membeli rumah hingga memenuhi kebutuhan finansial lainnya.
“BTN tidak meninggalkan upaya perumahan. Justru upaya perumahan diperluas menjadi ekosistem. Bank tidak lagi hanya memandang pengguna sebagai debitur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup,” katanya.
Transformasi tersebut juga diperkuat melalui digitalisasi melalui Bale by BTN. Superapps jagoan BTN itu sekarang telah mempunyai sekitar 4,5 juta pengguna, didukung 358 ribu merchant dan 14 ribu developer, serta terintegrasi dengan 59 pemerintah daerah.
Volume transaksi Bale by BTN mencapai 2,63 miliar transaksi dengan nilai Rp 134 triliun.
Selain memperluas ekosistem, BTN juga mulai masuk ke segmen di luar mortgage melalui akuisisi portofolio angsuran pensiun SMBC Indonesia senilai nyaris Rp 20 triliun. Langkah ini dinilai memperkuat keahlian BTN dalam melayani kebutuhan finansial pengguna hingga masa pensiun.
Meski memperluas bisnis, Eko menilai BTN tetap kudu menjaga mandat utamanya dalam pembiayaan perumahan nasional. Pada semester I 2026, angsuran perumahan subsidi BTN tumbuh 8,1% menjadi Rp 196,96 triliun, sementara Kredit Program Perumahan telah mencapai Rp 4,1 triliun.
“Kalau memandang perjalanannya, arahnya sudah betul dan hasilnya mulai terlihat. Tantangannya sekarang adalah menjaga momentum transformasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memastikan ekosistem nan dibangun BTN terus memberikan nilai bagi masyarakat,” pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·