Tangki minyak mentah di Cushing, Oklahoma, mulai mendekati pemisah bawah operasional. Pasar minyak bumi sekarang dinilai semakin dekat ke titik kritis.
Mengutip CNN, Sabtu (13/6), Cushing, Oklahoma, menyebut dirinya sebagai persimpangan jaringan pipa dunia.
Slogan itu terpampang pada papan besar di tepi jalan nan dibuat dari susunan pipa di perspektif Main Street dan South Stiles Road, komplit dengan katupnya. Namun, itu bukan sekadar slogan.
Pada 1912, Tom Slick, nan memang berjulukan demikian, sedang melintas di wilayah nan sekarang dikenal sebagai Drumright, Oklahoma, ketika dia mencium aroma minyak.
Ia membeli lahan tersebut seharga USD 1 per acre dan mulai mengebor hingga menemukan ladang minyak terbesar di Oklahoma saat itu.
Kini, Cushing nan berada di wilayah tetangga menjadi pusat pasar daya Amerika Serikat. Kota ini secara harfiah menjadi sistem perpipaan minyak bagi AS.
Cadangan Menipis
Di sanalah nilai minyak referensi West Texas Intermediate (WTI) ditentukan dan disimpan sebelum dialirkan ke kilang di seluruh negeri.
Dalam kondisi normal, Cushing menyimpan sekitar 40 juta barel minyak dengan kapabilitas maksimum mencapai 75 juta barel. Namun, saat ini kondisinya tidak normal.
Persediaan minyak Cushing sekarang hanya 21,6 juta barel, menurut info US Energy Information Administration.
Jumlah tersebut sudah sangat dekat dengan tingkat tekanan operasional, ialah titik ketika Cushing mulai kesulitan memasok seluruh kebutuhan pelanggannya.
Ketika persediaan Cushing turun di bawah 20 juta barel, akomodasi itu secara efektif dianggap nyaris kosong lantaran nan tersisa sebagian besar berupa endapan nan susah digunakan.
Dan ketika Cushing betul-betul kehabisan persediaan operasional, pasar minyak biasanya mulai menunjukkan indikasi nan tidak lazim.
Kecuali Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu sangat dekat, bumi kemungkinan hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk memandang seperti apa dampaknya.
Persediaan di Cushing menipis lantaran Amerika Serikat sekarang menjadi pemasok terakhir bagi beragam wilayah nan biasanya memperoleh minyak dan bahan bakar dari Timur Tengah.
Permintaan terhadap minyak AS melonjak ke rekor tertinggi selama perang Iran dan aliran minyak keluar dari Cushing berjalan lebih sigap dibanding keahlian produsen AS mengisi kembali persediaan.
Namun, masalah ini bukan hanya terjadi di Cushing.
Stok Diesel Anjlok
Stok diesel AS baru-baru ini turun ke level terendah sejak 2003. Persediaan bensin juga menurun, sekitar 5 persen lebih rendah dibanding tahun lalu. Fasilitas penyimpanan minyak komersial lain di luar Cushing juga terkuras cepat, mencapai 7,2 juta barel hanya dalam sepekan.
Meski demikian, pasar minyak AS saat ini belum menunjukkan tanda krisis nan nyata.
Di tengah guncangan pasokan minyak mentah terbesar nan pernah terjadi, nilai minyak dan gas AS belum mencapai rekor tertinggi selama lebih dari tiga bulan perang Iran. Bahkan dalam beberapa pekan terakhir harganya sempat turun tajam.
Hal itu terutama lantaran bumi sebelumnya memasuki periode krisis dengan kondisi kelebihan pasokan minyak dalam jumlah besar. Persediaan tersebut berfaedah sebagai peredam guncangan global.
Namun, stok minyak komersial sekarang menyusut cepat. Persediaan minyak di negara-negara kaya turun sebesar 6,3 juta barel per hari dan sekarang berada di level 2,6 miliar barel, menurut US Energy Information Administration.
Jumlah tersebut hanya sekitar 100 juta barel di atas periode tekanan operasional, kata Kepala Ekonom Iklim dan Komoditas Capital Economics, David Oxley.
Pasar minyak tidak bisa terus dikuras sampai tetes terakhir seperti tangki bahan bakar mobil. Di bawah periode tertentu, tekanan dalam jaringan pipa tidak dapat dipertahankan dan kilang tidak bisa memasok seluruh jenis bahan bakar nan dibutuhkan konsumen.
“Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalah utamanya adalah sirkulasi,” kata Kepala Strategi Komoditas JPMorgan, Natasha Kaneva.
“Sistem tidak kandas lantaran minyak habis, tetapi lantaran jaringan distribusinya tidak lagi mempunyai volume kerja nan cukup,” kata dia.
Dengan laju saat ini, pasar minyak dunia bisa memasuki area rawan dalam waktu sekitar satu bulan.
Artinya, gangguan mini saja dapat memicu kepanikan pasar. Harga bisa menjadi sangat volatil dari hari ke hari, sementara kebocoran pipa, kebakaran kilang, alias cuaca jelek dapat mendorong nilai minyak dan gas naik tajam.
Larangan ekspor bisa menjadi salah satu langkah menjaga Cushing tidak betul-betul kering dan mencegah sistem terganggu. Namun, opsi tersebut belum mendapat support politik nan kuat dan berpotensi memunculkan akibat negatif, termasuk nilai nan lebih tinggi dalam jangka panjang.
Solusi lainnya adalah membiarkan sistem pasar bekerja. Namun, proses itu juga berpotensi menimbulkan tekanan besar.
Setiap kali Cushing mendekati pemisah minimum operasional, nilai bahan bakar pernah mencetak rekor tertinggi, seperti pada 2008, 2022, dan 2023. Kini, dalam hitungan minggu, level kritis itu bisa kembali tercapai.
“Kami mulai membunyikan sirine sekarang,” kata CEO American Petroleum Institute Mike Sommers kepada CNN pekan ini.
“Kami mulai mencapai level nan membikin kami khawatir,” jelas dia.
Level persediaan nan disebut 'belum pernah terjadi sebelumnya' sekarang mendekati titik patah, kata Wakil Presiden Senior ExxonMobil Neil Chapman dalam konvensi Bernstein di New York pada 28 Mei lalu.
“Ketika mencapai titik itu, nilai bakal melonjak,” ujarnya.
CEO Chevron Mike Wirth dalam konvensi nan sama juga menyampaikan bahwa persediaan nan sangat rendah kemungkinan bakal mendorong nilai naik dalam beberapa pekan ke depan.
Pandangan serupa juga disampaikan ketua International Energy Agency, International Monetary Fund, World Bank Group, dan World Trade Organization dalam pernyataan berbareng pada 29 Mei lampau nan menyoroti cepatnya penurunan stok minyak dunia sebagai akibat terhadap keamanan energi, pasar, dan ekonomi dunia.
Harga Minyak Dunia Bisa Capai USD 160 per Barel
Menurut Oxley, nilai minyak berpotensi naik melewati USD 90 dan bergerak menuju USD 140 hingga USD 160 per barel dalam beberapa bulan ke depan. Harga bensin juga bisa melampaui USD 5 per galon andaikan Selat Hormuz tidak kembali beraksi penuh.
“Secara teori, harganya apalagi bisa mencapai level nan lebih tinggi,” katanya.
Pada akhirnya, pasar mungkin bakal menemukan langkah meningkatkan pasokan, seperti ketika maskapai-maskapai Eropa mengurangi penerbangan dan meningkatkan tarif demi memberi waktu industri mencari pemasok bahan bakar jet baru dari Amerika Serikat.
Namun, jika situasi tidak membaik hingga akhir tahun, nilai diperkirakan kudu naik jauh lebih tinggi, mendekati USD 200 per barel, kata Kepala Refining, Chemicals and Oil Markets Wood Mackenzie, Alan Gelder.
Jika itu terjadi, nilai bensin bisa mencapai sekitar USD 9 per galon, cukup tinggi untuk secara efektif menghancurkan permintaan minyak dan bahan bakar bagi sebagian besar konsumen.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·