Bayangkan Anda baru lulus kuliah, semangat membara, punya gelar dari kampus negeri, dan langsung dapat kerja di startup teknologi nan namanya terdengar keren. Gajinya lumayan, kantornya estetik, ada free snack, dan bos Anda tetap muda juga. Rasanya kayak menemukan jalan pintas menuju masa depan.
Lalu dua tahun kemudian, Anda dapat email di pagi hari. Isinya: "Dengan berat hati, perusahaan terpaksa melakukan restrukturisasi..."
Kamu kena PHK. Bukan lantaran keahlian jelek. Tapi lantaran perusahaannya "efisiensi" — dan posisimu sudah bisa digantikan oleh sistem otomasi.
Selamat datang di bumi kerja era digital.
Booming Dulu, Babak Belur Kemudian
Selama pandemi, startup Indonesia tumbuh seperti jamur di musim hujan. Investor asing mengucurkan biaya besar, valuasi melejit, dan rekrutmen besar-besaran terjadi di mana-mana. Banyak anak muda beramai-ramai mendaftar ke startup lantaran tergiur kultur "flat hierarchy", penghasilan kompetitif, dan janji jenjang pekerjaan nan cepat.
Tapi euforia itu tak memperkuat lama.
Sejak akhir 2024 hingga 2025, ekosistem startup digital mengalami fase nan disebut tech winter — ditandai dengan menurunnya pendanaan modal ventura dan meningkatnya tekanan biaya operasional. Banyak startup merespons dengan satu solusi nan sama: PHK massal.
Daftarnya panjang dan tidak sedap dibaca. Tokopedia mem-PHK sekitar 450 pekerja alias 9 persen dari total karyawannya pada Juni 2024. Mekari mem-PHK 70 tenaga kerja di Desember 2024. Xendit, Lamudi, Shopee, Ruangguru — semuanya pernah mengirim email pahit itu ke tenaga kerja mereka.
Secara global, sejak awal 2025, lebih dari 90 ribu tenaga kerja di startup dan perusahaan teknologi kudu kehilangan pekerjaannya. Di Indonesia sendiri, lonjakan PHK mencapai 32,19% pada semester pertama 2025 dibanding periode nan sama tahun sebelumnya.
Angka 24.036 kasus PHK hingga April 2025 — itu bukan sekadar statistik. Angka itu sudah mencapai sepertiga lebih dari total PHK sepanjang tahun 2024, nan menurut Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, menunjukkan tren nan patut diwaspadai.
AI: Teman alias Lawan Baru di Kantor?
Di sinilah ceritanya makin rumit.
PHK di startup bukan hanya soal ekonomi nan lesu alias penanammodal nan kabur. Ada aspek lain nan bergerak diam-diam tapi punya akibat lebih permanen: kepintaran buatan namalain AI.
Layanan pengguna tingkat pertama sekarang banyak diambil alih chatbot dan voicebot berbasis AI. Tugas manajemen seperti entri data, penjadwalan, dan pembuatan laporan rutin bisa dikerjakan otomatis. Bahkan telemarketing sudah banyak digantikan sistem AI nan bisa melakukan ribuan panggilan sekaligus.
Di Indonesia, 40% pekerjaan di sektor manufaktur, logistik, dan manajemen sudah mulai menggunakan sistem otomatisasi. Industri perbankan, media, dan pendidikan menjadi nan paling sigap mengangkat AI. Sejumlah bank besar nasional telah menggunakan chatbot AI untuk menggantikan jasa nasabah, dan perusahaan media digital memakai algoritma untuk menulis buletin ekonomi dan cuaca secara otomatis. Agribisnis Digital
Ini bukan fiksi ilmiah. Ini sedang terjadi sekarang, di kota tempatmu tinggal.
Yang paling mengkhawatirkan justru ini: tangga pertama karir nan dulu menjadi ruang belajar bagi lulusan baru, menjadi semakin sempit. Jika perusahaan terlalu garang menggantikan pekerjaan di entry-level dengan teknologi demi efisiensi jangka pendek, mereka berisiko menghadapi kekosongan talenta di level menengah dalam jangka panjang.
Artinya, nan paling terpukul bukan pekerja senior. Tapi justru Anda — anak muda nan baru mau mulai.
Gen Z: Masuk Angin dari Dua Arah
Generasi Z sekarang mulai mendominasi angkatan kerja Indonesia. Mereka melek teknologi sejak lahir, adaptif, dan banyak nan memang bermimpi kerja di startup alias industri digital.
Tapi posisi mereka saat ini seperti terjepit.
Dari satu sisi, banyak pekerjaan administratif dan tugas rutin level awal sekarang bisa digantikan oleh otomasi dan sistem digital. Riset menunjukkan teknologi sudah banyak menggerus pos pekerjaan nan berkarakter rutin, sekaligus meningkatkan permintaan pada pekerjaan dengan keahlian analitis dan non-rutin.
Dari sisi lain, perusahaan sendiri tetap belum sepenuhnya siap menyambut mereka. Survei LinkedIn menunjukkan 43% perusahaan mengeluhkan kesenjangan soft skill pada Gen Z, terutama dalam kedisiplinan dan keahlian beradaptasi di lingkungan kerja profesional.
Jadilah Gen Z berada di posisi serba salah: dianggap belum siap kerja, tapi pekerjaannya pun sudah mulai dialihkan ke mesin.
Dan nomor pengangguran anak muda bicara keras. Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka golongan usia 15–24 tahun secara konsisten menjadi nan tertinggi dibanding golongan usia lainnya di Indonesia.
Tapi Tunggu Dulu — Ini Bukan Akhir Cerita
Oke, semua info di atas memang bikin dahi mengernyit. Tapi ada sisi lain nan perlu dilihat juga.
Menurut World Economic Forum, AI dan otomatisasi memang diprediksi bakal menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada tahun 2025 — tapi laporan nan sama juga menyebut bahwa AI bakal menciptakan 97 juta pekerjaan baru nan lebih sesuai dengan era digital.
Pekerjaannya berubah, bukan lenyap sepenuhnya.
Muncul pekerjaan baru seperti developer AI, analis data, dan ahli keamanan siber nan semakin dicari. Pekerjaan nan menuntut produktivitas dan keahlian interpersonal tetap susah digantikan oleh mesin — seperti bagian seni, psikologi, dan pemasaran strategis.
Dan bagi nan mau memanfaatkannya, AI justru bisa jadi senjata. Di bagian pemasaran, AI bisa dipakai untuk personalisasi kampanye. Di UX, AI membantu merancang pengalaman pengguna nan lebih baik. Bahkan bagi wirausahawan muda, AI bisa jadi perangkat untuk otomatisasi konten media sosial, kajian tren pasar, hingga pembuatan prototipe produk.
Intinya: mereka nan tahu langkah mengendarai AI punya kesempatan jauh lebih besar dari mereka nan hanya jadi penumpangnya.
Lalu Apa nan Harus Dilakukan?
Pertanyaan jujurnya: siapa nan bertanggung jawab atas semua ini?
Dari sisi pekerja muda, langkah paling pragmatis adalah berakhir memandang AI sebagai musuh. Mulailah belajar langkah menggunakannya — bukan untuk menggantikan dirimu, tapi untuk melipatgandakan kapasitasmu. Keterampilan nan paling tahan lama di era ini bukan mahfuz teknis, tapi keahlian berpikir kritis, kreativitas, dan komunikasi nan nyata manusiawi.
Dari sisi perusahaan, ada tanggung jawab moral nan sering diabaikan. PHK semestinya menjadi opsi terakhir, nan disertai sistem perlindungan sosial, training ulang, alias support transisi kerja. Tanpa pendekatan itu, PHK massal berpotensi menimbulkan kerugian nan jauh melampaui nomor efisiensi di laporan keuangan.
Dari sisi pemerintah, program seperti Kartu Prakerja dan Digital Talent Scholarship sudah ada — tapi cakupannya tetap terbatas, hanya sekitar 2 juta peserta dari 140 juta pekerja aktif. Itu tetap terlalu mini untuk skala masalah nan ada.
Penutup: Jangan Cuma Jadi Penonton
Ada quote nan sering beredar di kalangan anak muda sekarang: "Kamu nggak bakal digantikan AI. Tapi Anda bakal digantikan oleh orang nan bisa menggunakan AI."
Kedengarannya klise, tapi ada kebenarannya.
Dunia kerja memang sedang berubah lebih sigap dari nan bisa dikejar oleh sistem pendidikan kita. Startup bisa tutup dalam semalam. Posisi kerja nan kelihatannya kondusif hari ini bisa tergeser oleh algoritma tahun depan.
Tapi bukan berfaedah generasi muda Indonesia tidak punya tempat di masa depan ini.
Yang dibutuhkan bukan kepanikan — tapi kesadaran. Kesadaran bahwa beradaptasi bukan kelemahan, tapi justru satu-satunya strategi nan masuk akal. Bahwa belajar ulang (reskilling) bukan aib, tapi investasi paling berbobot nan bisa dilakukan saat ini.
Dan nan paling penting: jangan hanya jadi penonton dari luar gerbang ekosistem digital. Masuk, belajar, gagal, coba lagi.
Karena di tengah semua guncangan ini, satu perihal nan pasti: mereka nan aktif membentuk perubahan selalu punya nasib nan lebih baik dari nan menunggu perubahan datang menghampiri mereka.
Tulisan ini disusun berasas info dari World Economic Forum, BPS Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan, McKinsey Global Institute, dan beragam laporan industri teknologi 2024–2025.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·