Squid Game, Hallyu, dan Citra Korea Selatan: Soft Power di Balik Fenomena Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Poster Serial Squid Game (Gambar dari Victor Chijioke/Pexels) Photo by Victor Chijioke from Pexels: https://www.pexels.com/photo/urban-expressway-in-lagos-with-billboards-29812611/

Fenomena budaya terkenal telah menjadi salah satu instrumen krusial dalam hubungan internasional abad ke-21. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pengaruh suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer maupun ekonomi, tetapi juga oleh kemampuannya menarik perhatian dan simpati masyarakat internasional melalui budaya. Korea Selatan merupakan salah satu negara nan sukses memanfaatkan strategi tersebut melalui kejadian Korean Wave alias Hallyu. Keberhasilan industri intermezo Korea Selatan dalam menembus pasar dunia telah menjadikan budaya terkenal sebagai instrumen diplomasi dan nation branding nan efektif. Salah satu contoh paling menonjol adalah serial Squid Game nan dirilis oleh Netflix pada tahun 2021 dan berkembang menjadi kejadian global.

Squid Game tidak hanya mencetak rekor sebagai salah satu serial paling terkenal dalam sejarah Netflix, tetapi juga memperluas eksposur budaya Korea Selatan kepada masyarakat dunia. Popularitas serial tersebut mendorong meningkatnya minat terhadap bahasa Korea, makanan Korea, musik K-Pop, hingga lokasi wisata Korea Selatan. Namun, keberhasilan ini memunculkan sebuah paradoks menarik. Di satu sisi, Squid Game memperkuat gambaran Korea Selatan sebagai negara imajinatif dan inovatif. Tetapi di sisi lain serial tersebut justru menggambarkan beragam persoalan sosial seperti kesenjangan ekonomi, utang rumah tangga, dan kejuaraan sosial nan ekstrem. Oleh lantaran itu tulisan ini berdasar bahwa Squid Game sukses menjadi instrumen soft power dan nation branding Korea Selatan nan meningkatkan daya tarik pariwisata internasional, tetapi keberhasilan tersebut mengandung paradoks lantaran gambaran positif negara dibangun melalui representasi beragam masalah sosial domestik nan tetap berjalan hingga saat ini.

Menurut Joseph Nye (2004), soft power merupakan keahlian suatu negara untuk memperoleh hasil nan diinginkan melalui daya tarik (attraction) daripada paksaan (coercion) alias pembayaran (payment). Sumber utama soft power berasal dari budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan nan dianggap mempunyai legitimasi di mata masyarakat internasional. Dalam konteks globalisasi dan perkembangan media digital, produk budaya terkenal menjadi salah satu instrumen krusial nan memungkinkan negara membangun daya tarik serta memengaruhi persepsi publik internasional.

Dalam perspektif Nye, keberhasilan suatu produk budaya tidak hanya diukur dari popularitasnya, tetapi juga dari kemampuannya mengubah kesukaan budaya menjadi pengaruh nan menguntungkan negara asalnya. Dengan demikian, ketenaran Squid Game dapat dipahami sebagai corak konversi daya tarik budaya Korea Selatan menjadi untung nan lebih luas, seperti meningkatnya gambaran negara, minat visitor internasional, serta penguatan posisi Korea Selatan dalam persaingan pengaruh global. Melalui sistem tersebut, budaya terkenal tidak hanya berfaedah sebagai hiburan, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi publik nan mendukung kepentingan nasional.

Keberhasilan Squid Game menjadi salah satu bukti nyata dari perihal tersebut. Netflix melaporkan bahwa serial ini menjadi kejadian dunia nan ditonton kurang lebih 600 juta penonton di beragam negara (dari musim 1 hingga 3). Popularitasnya tidak hanya menghasilkan untung bagi industri hiburan, tetapi juga menciptakan rasa kesukaan nan besar terhadap Korea Selatan sebagai negara asal serial tersebut. Fenomena ini menunjukkan gimana produk budaya dapat berfaedah sebagai jembatan nan menghubungkan masyarakat internasional dengan suatu negara.

Hubungan antara Squid Game dan sektor pariwisata dapat dilihat melalui meningkatnya kesukaan masyarakat dunia terhadap Korea Selatan setelah serial tersebut menjadi kejadian internasional. Meskipun susah mengisolasi akibat Squid Game terhadap peningkatan kunjungan visitor secara langsung, ketenaran serial tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya daya tarik K-Content secara global. Penelitian Korea Culture and Tourism Institute menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat ketenaran K-Content nan tinggi mempunyai sekitar 106,3% lebih banyak visitor nan berjamu ke Korea Selatan dibanding negara-negara dengan tingkat ketenaran nan rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa produk budaya terkenal dapat menjadi instrumen soft power nan mendukung sektor pariwisata Korea Selatan. Selain itu survei nan dilakukan Netflix berbareng Korea Tourism Organization (KTO) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 72% penonton konten Korea menyatakan tertarik mengunjungi Korea Selatan, jauh lebih tinggi dibandingkan golongan nan tidak mengonsumsi konten Korea. Temuan ini menunjukkan bahwa produk budaya populer, termasuk Squid Game, bisa meningkatkan daya tarik Korea Selatan sebagai lokasi wisata melalui sistem soft power.

Data tersebut mengindikasikan bahwa Squid Game dan produk Hallyu lainnya sukses mengubah kesukaan budaya menjadi motivasi wisata. Dalam perspektif soft power, kondisi ini menunjukkan keberhasilan Korea Selatan dalam membangun daya tarik melalui budaya populer. Wisatawan tidak lagi datang semata-mata lantaran promosi lokasi wisata konvensional, melainkan lantaran mau mengalami secara langsung budaya nan mereka lihat melalui media hiburan. Dengan kata lain, budaya terkenal telah menjadi instrumen diplomasi nan menghasilkan akibat ekonomi nyata melalui sektor pariwisata.

Selain meningkatkan minat wisatawan, Squid Game juga berkontribusi terhadap nation branding Korea Selatan. Nation branding merujuk pada upaya suatu negara membangun reputasi dan gambaran positif di mata dunia. Melalui keberhasilan Hallyu, Korea Selatan sukses mengubah identitas globalnya. Jika sebelumnya negara ini lebih dikenal sebagai pusat manufaktur dan teknologi, sekarang Korea Selatan juga dipandang sebagai pusat budaya terkenal dunia nan inovatif dan kreatif.

Survei Global Hallyu tahun 2024 nan dilakukan oleh Korea Foundation for International Cultural Exchange menunjukkan bahwa sekitar 70% konsumen Hallyu mempunyai persepsi positif terhadap budaya Korea Selatan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa produk budaya tidak hanya berfaedah sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan gambaran negara. Dalam konteks ini, Squid Game menjadi bagian dari ekosistem Hallyu nan memperkuat reputasi internasional Korea Selatan sekaligus meningkatkan daya tariknya sebagai destinasi wisata.

Meskipun demikian, keberhasilan Squid Game sebagai instrumen soft power tidak dapat dilepaskan dari sejumlah paradoks nan perlu dikaji secara kritis. Paradoks pertama dalam kasus Squid Game adalah bahwa gambaran positif Korea Selatan justru dibangun melalui serial nan mengkritik beragam persoalan sosial domestik. Kritik tersebut bukan tanpa dasar. Data OECD menunjukkan bahwa Korea Selatan mempunyai tingkat utang rumah tangga nan termasuk tertinggi di bumi serta tingkat kemiskinan lansia tertinggi di antara negara-negara OECD. Di samping itu, beragam laporan juga menyoroti tingginya tekanan kejuaraan dalam pendidikan dan bumi kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beragam persoalan nan digambarkan dalam Squid Game mempunyai keterkaitan dengan realitas sosial Korea Selatan. Dengan demikian, keberhasilan Squid Game sebagai instrumen soft power menghadirkan paradoks: daya tarik dunia Korea Selatan justru diperkuat oleh karya budaya nan mengungkap sisi gelap pembangunan ekonomi negara tersebut.

Saya memandang paradoks ini sangat menarik lantaran biasanya nation branding dibangun melalui narasi keberhasilan, kemajuan, dan pencapaian nasional. Namun dalam kasus Squid Game, daya tarik dunia Korea Selatan justru muncul dari representasi beragam persoalan domestik. Dengan kata lain, Korea Selatan memperoleh untung soft power melalui karya nan mengkritik realitas sosialnya sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan nation branding tidak selalu berjuntai pada pembuatan gambaran ideal, tetapi juga dapat berasal dari keahlian suatu negara menghasilkan karya budaya nan relevan dan bisa memicu refleksi dunia terhadap beragam persoalan sosial.

Paradoks kedua berangkaian dengan pertanyaan mengenai siapa nan sebenarnya memperoleh untung terbesar dari keberhasilan Squid Game. Secara ekonomi, faedah terbesar diperoleh oleh perusahaan produksi, platform streaming dunia seperti Netflix, industri intermezo Korea Selatan, serta sektor pariwisata nan memanfaatkan ketenaran Hallyu. Pemerintah Korea Selatan juga memperoleh untung berupa peningkatan reputasi internasional dan penguatan soft power.

Namun demikian, tidak semua masyarakat Korea Selatan memperoleh faedah nan sama dari keberhasilan tersebut. Salah satu kritik terhadap model pembangunan berbasis industri imajinatif adalah pengedaran faedah nan sering kali tidak merata. Sebagian besar untung ekonomi condong terkonsentrasi pada perusahaan besar, area metropolitan, dan sektor industri tertentu. Bahkan dalam sektor pariwisata, sebagian besar aktivitas wisata Hallyu tetap berpusat di Seoul dan wilayah metropolitan sekitarnya. Akibatnya, faedah ekonomi dari meningkatnya kunjungan visitor belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat lokal.

Paradoks ketiga adalah ketergantungan soft power Korea Selatan terhadap platform global. Meskipun Squid Game sering dipandang sebagai keberhasilan budaya Korea Selatan, pengedaran dan ketenaran dunia serial tersebut sangat berjuntai pada Netflix sebagai perusahaan multinasional. Artinya, keberhasilan soft power Korea Selatan tidak sepenuhnya berada di bawah kendali negara. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam era digital, tokoh non-negara seperti perusahaan teknologi dan platform streaming mempunyai peran nan sangat besar dalam menentukan jangkauan serta efektivitas soft power suatu negara. Dengan demikian, keberhasilan nation branding Korea Selatan tidak hanya merupakan hasil kebijakan pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan dan prasarana nan dimiliki tokoh swasta global.

Berdasarkan kajian tersebut, Squid Game menunjukkan bahwa budaya terkenal dapat menjadi instrumen soft power nan efektif dalam memperkuat nation branding dan meningkatkan daya tarik pariwisata Korea Selatan. Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh dipahami semata-mata sebagai keberhasilan pencitraan negara. Di kembali meningkatnya reputasi dunia dan minat wisatawan, terdapat beragam persoalan sosial nan justru menjadi sumber inspirasi dari karya tersebut. Selain itu, ketergantungan pada platform dunia seperti Netflix menunjukkan bahwa produksi soft power pada era digital tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendali negara. Oleh lantaran itu, keberhasilan soft power perlu dinilai secara lebih kritis, tidak hanya dari kemampuannya menarik perhatian dunia, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat serta kemampuannya merepresentasikan realitas sosial secara jujur dan berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan