Soft Power Beasiswa Turki dan Mendesain Ulang LPDP

Sedang Trending 54 menit yang lalu
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

SEPANJANG perjalanan sembari memandang gumpalan awan putih, bentangan bumi, serta hamparan langit luas di kembali jendela pesawat, pikiran saya ikut terbang pada satu pertanyaan sederhana, tetapi mengganggu. Mengapa sebuah negara nan secara ekonomi tidak jauh lebih kaya daripada Indonesia, apalagi pernah dilanda krisis mata duit dan inflasi nan menggerus daya beli rakyatnya, bisa begitu konsisten dan sabar dalam merancang program nan hasilnya baru bisa dipanen satu, dua, apalagi tiga dasawarsa kemudian? Jawabannya, saya kira, terletak pada langkah pandang. Turki tidak memandang danasiwa sebagai shopping sosial semata, melainkan juga sebagai investasi geopolitik jangka panjang. Turki menganggap memberikan danasiwa sama pentingnya dengan investasi di sektor pertahanan alias prasarana energi.

Pagi itu, di Bandar Udara Esenboga Ankara saya kembali menginjakkan kaki di negeri dua benua dan warisan Kesultanan Utsmaniyah, setelah pertama kali datang pada 2011 untuk menempuh studi master dengan danasiwa dari pemerintah Turki/Turkiye Burslari.

Kehadiran saya kali ini dalam rangka memenuhi undangan pemerintah Turki menerima Alumni Award 2026 sekaligus wisuda mahasiswa internasional penerima YTB Turkiye Burslari. Acara seremoni dihadiri Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz, menteri, Presiden YTB, para duta besar, dan wisudawan. Tahun ini ada tujuh kategori penerima hidayah alumnus berprestasi.

Pertama, kategori kehormatan seumur hidup diraih Prof Dr Tadashi Suzuki (Jepang); kedua, kategori ekonomi dan kewirausahaan diraih Budy Sugandi (Indonesia); ketiga, kategori media dan komunikasi diraih Lamis Alsoradi (Palestina); keempat, kategori budaya dan seni diraih Prof Dr Halid Tadmori (Libanon); kelima, kategori akademik dan penelitian ilmiah diraih Prof Dr Ali Ovgun (Siprus); keenam, kategori kontribusi terhadap hubungan internasional diraih Abdulkadir Mohamed Nur (Somalia), dan ketujuh, kategori penghargaan kesetiaan diraih Jenderal Dr Amran Amir Hamzah (Malaysia). Bagi saya, penghargaan itu menjadi daya tambahan untuk terus belajar, berbakti, dan terus berproses menjadi manusia profesional.

Ada satu momen nan membekas ketika nama saya dipanggil naik ke podium untuk menerima penghargaan. Di ruangan itu berkumpul lulusan Turkiye Burslari dari puluhan negara; Eropa, Afrika, Asia Tengah, Balkan, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara. Saat diberi piala dan kesempatan pidato, saya menyadari sesuatu nan lebih besar daripada sekadar prestasi pribadi, saya sedang berdiri di tengah hasil panen dari sebuah investasi jangka panjang nan dirancang dengan sangat sabar dan rapi oleh sebuah negara. Melalui danasiwa Turkiye Burslari, negara itu tidak sekadar memberi beasiswa, tetapi juga menyemai pemimpin-pemimpin masa depan.

Pengalaman itulah nan mendorong saya membujuk kita, Indonesia, memandang cermin. Di kembali gegap gempita program danasiwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) nan kita banggakan, ada pelajaran krusial nan bisa dipetik dari langkah Turki merancang, mengelola, dan memetik hasil dari program danasiwa internasional mereka, Turkiye Burslari.

AMBISI YANG DIBANGUN DI ATAS ANGKA

Turkiye Burslari lahir pada 2012, di bawah kendali Presidency for Turks Abroad and Related Communities/Yurtdisi Turkler ve Akraba Topluluklar Baskanligi (YTB). Programnya sederhana dalam konsep, tetapi raksasa dalam skala, ialah memberikan danasiwa penuh kepada mahasiswa asing nan meliputi biaya kuliah, biaya hidup, tempat tinggal, asuransi kesehatan, tiket pesawat pulang-pergi, apalagi kursus bahasa Turki cuma-cuma selama satu tahun kepada pelajar dari seluruh dunia, tanpa memandang kewarganegaraan.

Skalanya terus membesar setiap tahun. Pada 2025, lebih dari 120 ribu pelamar dari sekitar 170 negara memperebutkan sekitar 5.000 bangku beasiswa, menjadikan tingkat penerimaannya berada di kisaran 2%-5%, setara dengan ketatnya seleksi masuk universitas-universitas elite dunia. Total jaringan alumnus Turkiye Burslari sekarang melampaui 150 ribu orang nan tersebar di lebih dari 160 negara, banyak di antara mereka menduduki posisi kepemimpinan di pemerintahan, bumi akademik, dan sektor swasta di negara asal mereka. Ambisi Turki tidak berakhir di situ. Pemerintah menargetkan jumlah mahasiswa asing di Turki mencapai 500 ribu orang pada 2028, melonjak drastis dari sekitar 340 ribu pada 2024-2025. Data itu membawa Turki menjadi negara nomor delapan dengan mahasiswa asing terbanyak di dunia.

Yang menarik bukan hanya soal angka, melainkan juga filosofi di baliknya. Turkiye Burslari dirancang sebagai instrumen soft power, langkah Turki memperluas pengaruh, membangun jaringan diplomatik informal, dan menanamkan gambaran positif negara mereka di akal generasi pemimpin masa depan dari beragam bagian dunia. Setiap penerima danasiwa diperlakukan bukan sekadar sebagai mahasiswa, melainkan juga sebagai calon duta bangsa Turki di negara mereka sendiri. Karena itu, YTB tak pernah berakhir merawat hubungan dengan para alumnus mereka lewat jaringan alumnus global, forum tahunan, hingga undangan kembali ke Turki untuk beragam aktivitas kebudayaan dan diplomasi publik.

Ada satu perincian mini nan menurut saya justru paling mengharukan, seluruh penerima mahasiswa asing, dari negara mana pun asalnya, diwajibkan mengikuti kursus bahasa Turki selama satu tahun sebelum memulai studi. Sepintas itu terlihat seperti kebijakan teknis biasa. Namun, sesungguhnya itulah inti strategi Turki memastikan setiap mahasiswa asing betul-betul menyerap budaya, langkah berpikir, dan nilai-nilai Turki sebelum mereka larut dalam disiplin pengetahuan masing-masing. Ketika kelak mereka pulang bertahun-tahun kemudian, nan mereka bawa bukan hanya ijazah, melainkan juga kefasihan berbahasa, jejaring pertemanan, dan kedekatan emosional dengan Turki nan susah dihapus waktu.

LPDP: PRESTASI BESAR YANG SEDANG DIUJI

Bandingkan dengan LPDP, nan lahir setahun lebih dulu dari Turkiye Burslari, pada 2013. LPDP adalah salah satu penelitian kebijakan pendidikan paling ambisius nan pernah dilakukan Indonesia. Lembaga itu mengelola biaya kekal pendidikan nan berasal dari APBN dan hasil investasinya untuk membiayai studi lanjut putra-putri terbaik bangsa. Sampai akhir 2025, biaya kekal nan dikelola LPDP telah mencapai sekitar Rp154 triliun, apalagi disuntik tambahan Rp25 triliun sehingga totalnya menembus Rp180 triliun pada awal 2026. Sejak berdiri, LPDP tercatat telah memberikan kesempatan kepada lebih dari 58 ribu penerima manfaat.

Itu pencapaian nan layak dibanggakan. Namun, jika kita jujur membaca tren terbaru, ada tanda-tanda nan patut menjadi renungan bersama. Pada 2025, jumlah pendaftar LPDP melonjak signifikan menjadi nyaris 79 ribu orang, naik sekitar 33% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, jumlah penerima danasiwa justru dipangkas nyaris separuh, dari sekitar 8.600 orang pada 2024 menjadi sekitar 4.300 orang pada 2025. Penurunan itu paling terasa pada penerima danasiwa tujuan luar negeri, nan jumlahnya susut sekitar 48% dalam setahun.

Di sinilah letak kontras nan paling tajam di antara kedua program itu. Turkiye Burslari dirancang sebagai program nan menarik bumi untuk datang ke Turki (brain gain), investasi nan hasilnya kembali ke Turki dalam corak mahasiswa asing nan bayar biaya hidup di sana, memperkuat ekosistem kampus, riset, dan pariwisata pendidikan, sekaligus membangun jejaring pengaruh Turki di negara asal mereka setelah lulus. LPDP dirancang sebaliknya, mengirim putra-putri Indonesia ke luar negeri (brain circulation), dengan angan mereka pulang membawa pengetahuan untuk membangun negeri. Keduanya sah dan punya tujuan strategis masing-masing. Namun, Turkiye Burslari punya satu kelebihan struktural nan tidak dimiliki LPDP, ialah pengaruh dunia bagi Turki apalagi sebelum mahasiswanya lulus, sementara faedah LPDP baru terasa penuh setelah para alumnus mereka kembali dan berkarya di Indonesia.

PELAJARAN YANG BISA DIPETIK

Soal keberlanjutan pendanaan nan dirancang untuk krisis, bukan hanya masa jaya. LPDP sekarang mengalami apa nan oleh pengelolanya sendiri disebut tekanan defisit operasional lantaran shopping tumbuh lebih sigap daripada pendapatan investasi biaya kekal sejak 2023-2024. Itu bukan aib, melainkan sinyal bahwa kreasi finansial program perlu terus disempurnakan agar tidak berjuntai pada satu sumber pendapatan investasi nan fluktuatif. Turkiye Burslari relatif lebih stabil lantaran dibiayai langsung oleh APBN Turki sebagai instrumen diplomasi negara, bukan murni biaya kekal nan kudu menghasilkan imbal hasil investasi setiap tahun.

Berikutnya soal arah program. Selama ini kita terlalu konsentrasi mengirim anak bangsa keluar negeri, padahal Indonesia punya modal besar untuk menjadi pusat pendidikan tinggi regional. Indonesia mempunyai populasi usia muda terbesar di Asia Tenggara, biaya hidup kompetitif, kekayaan budaya, dan posisi strategis di jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Turki membuktikan bahwa sebuah negara berkembang dapat mengubah dirinya menjadi destinasi pendidikan dunia dalam waktu kurang dari satu dekade, dari 48 ribu mahasiswa asing pada 2013 menjadi nyaris 340 ribu pada 2024-2025. Mengapa Indonesia, dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi, tidak merancang program setara 'Beasiswa Nusantara' nan secara sengaja mengundang pelajar dari Afrika, Asia Selatan, dan Pasifik untuk belajar di sini sembari membangun pengaruh diplomatik dan ekonomi jangka panjang Indonesia di kawasan-kawasan itu?

Terakhir soal jaringan alumnus sebagai aset strategis negara, bukan sekadar formalitas ikatan dinas. Turkiye Burslari merawat 150 ribu alumnusnya di 160 lebih negara melalui portal digital, forum tahunan, dan program keterlibatan berkepanjangan nan menjadikan mereka mitra jangka panjang, bukan sekadar mantan penerima beasiswa. LPDP sejauh ini tetap terlalu berfokus pada tanggungjawab administratif pascastudi daripada membangun ekosistem alumnus nan hidup, saling terhubung, dan aktif menjadi kekuatan lunak Indonesia di panggung global. Padahal para alumnus LPDP nan tersebar di beragam negara dan sektor adalah aset diplomasi publik nan belum dioptimalkan.

Penghargaan nan diberikan pemerintah Turki kepada para alumnus bukan sekadar pengakuan atas perjalanan ahli mereka. Itu bukti hidup bahwa investasi pendidikan lintas negara, jika dirancang dengan visi jangka panjang dan dirawat dengan konsisten, dapat melahirkan pemimpin-pemimpin nan membawa nama baik negara pemberi danasiwa ke mana pun mereka melangkah. Mereka membawa nama Turki dalam setiap pencapaian mereka.

Pertanyaannya sekarang untuk kita semua, kapan Indonesia tidak hanya mengirim anak-anak terbaiknya ke luar negeri, tetapi juga mulai membangun sistem nan juga mengundang bumi untuk datang dan belajar dari kita. Kehadiran mahasiswa internasional juga membawa atmosfer akademik dan riset nan tinggi.

Turki telah menunjukkan jalannya. Modal dasar kita apalagi lebih besar. nan kita butuhkan hanyalah keberanian untuk merancang ulang visi, bukan sekadar mengelola anggaran nan ada. Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak dia mengirim pelajarnya ke luar negeri, tetapi dari seberapa besar bumi mau datang dan belajar darinya.

Ketika saya menerima penghargaan itu di atas panggung, nan terlintas di akal saya bukan hanya rasa syukur pribadi, melainkan juga gambaran tentang mahasiswa-mahasiswa Indonesia selanjutnya nan berdiri di panggung serupa, bukan sekadar penerima beasiswa, melainkan juga sebagai wakil dari Indonesia. Itu bukan mimpi nan mustahil. nan tersisa hanyalah keberanian untuk mulai menuliskan babak baru itu dan tidak ada waktu nan lebih tepat untuk memulainya selain sekarang.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia