Liputan6.com, Jakarta - Speaker bluetooth dan mic di genggaman, menjadi perangkat wajib nan dibawa Muhammad Sofi, pengamen jalanan berumur 45 tahun. Bukan kendaraan bermotor ataupun jas berdasi. Hanya sepasang kaki, juga busana seadanya.
Sofi berkeliling area Jakarta Timur. Tepatnya sekitaran Matraman dan Bukit Duri. Baginya, setiap melodi nan keluar dari pengeras bunyi adalah napas penyambung hidup bagi empat anaknya.
Begitulah potret singkat dari Sofi, pengamen jalanan dengan kelas ekonomi Desil 1 dan 2 namalain miskin ekstrem dan miskin. Sosok orang kecil, terpinggirkan, lemah dan tak terlihat atau the invisible people.
Saat berbincang dengan Liputan6.com di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06 Jakarta Timur, Sofi awalnya mengaku bingung gimana caranya untuk mengambil rapor putrinya. Sebab, setahun nan lalu, saat awal mengantarnya ke gedung nan berlokasi di Sentra Handayani, Cipayung, Jakarta Timur itu, Sofi terpaksa jalan kaki berdua lantaran keterbatasan ongkos.
“Awalnya saya dikabari, bahwa bakal ada pengambilan rapor kenaikan kelas lantaran anak saya sudah setahun sekolah di SR. Tapi bingung, kemeja saja tidak punya, ini saya minjem. Mau ke sini, awalnya mau jalan kaki lagi, tapi Alhamdulillah ada kerabat datang berkunjung, saya pinjam motornya dan sudah ada bensinnya,” kata Sofi di lokasi, Sabtu 20 Juni 2026.
Karena mendapat pinjaman kendaraan, Sofi tidak sendiri. Dia membujuk dua anaknya. Si bungsu dan salah satu dari putri kembarnya nan nomor dua.
“Kalau si kembar satunya di rumah, dijaga saudara, jika si bungsu tetap kelas 2 SD, enggak mau ditinggal, jadi tadi kami bertiga. Mau jemput si kakak lantaran udah masuk agenda libur,” tutur dia.
Saat libur tiba, Sofi mengaku tidak ada kepikiran untuk berekreasi seperti family pada umumnya. Dia hanya berterima kasih putrinya nan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat sudah menamatkan tahun kesatu di jenjang sekolah menengah pertama.
“Alhamdulillah, sekarang naik kelas dua, nilainya juga bagus-bagus,” bangga dia sembari menunjukkan kitab rapor milik putrinya nan berjulukan Fiska Sahwa.
Hal sesederhana itu menjadi kemenangan mini bagi seorang nan hidup tanpa ‘karpet merah’. Bahkan ujian ekonomi makin dipersulit, ketika jiwa dan batinnya kudu merelakan sang istri nan pergi tanpa musabab meninggalkan dirinya dan keempat anak.
“Tinggal saya nan kudu memperjuangkan hidup anak-anak,” tekad Sofi.
Harapan Nyata dari Sekolah Rakyat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8422051/original/017706500_1782308792-Muhammad_Sofi__pengamen_jalanan__dan_anak-anaknya_di_Sekolah_Rakyat_Menengah_Pertama__SRMP__06_Jakarta_Timur__Liputan6.comMuhammad_Radityo_Priyasmoro_.jpeg)
Sofi mengakui, Sekolah Rakyat nan dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto selama satu tahun terakhir sangat dirasakan manfaatnya. Sebagai orang tua, dia menuturkan jika sebelumnya putra-putrinya berguru cuma-cuma di SD Negeri dekat rumah. Namun sekarang si sulung bisa membawa asa semakin nyata lewat Sekolah Rakyat.
“Bersyukur banget, nan paling gede Fiska bisa sekolah di sini (SRMP 06 Jakarta Timur). Adik-adiknya juga sekolah, Alhamdulillah cuma-cuma juga. Sebab apa pun nan terjadi, anak-anak saya kudu tetap sekolah demi masa depan,” imbuhnya tegas.
Tidak hanya bersekolah, Sofi menyebut negara datang dengan memberikan hidup nan lebih layak bagi Fiska lantaran tinggal cuma-cuma di pondok Sekolah Rakyat. Kamar nan nyaman, akomodasi ruang belajar nan canggih, hingga gizi harian nan tercukupi dengan makan tiga kali sehari termasuk snack time.
“Karena jika di rumah, saya tinggal di pinggir kali di wilayah Kebon Pala, jika hujan deras, pasti banjir. Kini dengan Fiska hidup layak di asrama, konsentrasi saya gimana si kembar dan si bungsu bisa makan. Alhamdulillah mereka di sekolahnya juga dapat Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap harinya, tinggal setelahnya ketika pulang ada makanan di rumah,” tutur Sofi.
Di tengah obrolan kami, Fiska Sahwa si sulung datang menghampiri. Dengan membawa koper dan boneka beruang kesayangannya, dirinya siap untuk meninggalkan sejenak sahabat dan pembimbing juga wali asuh selama masa libur.
Saat ditanya, Fiska mengaku sedih kudu jauh dari mereka nan setiap harinya menemani aktivitas dari mulai bangun pagi. Namun dia juga tak bisa membohongi emosi kangen untuk berkumpul komplit berbareng ayah dan ketiga adiknya.
“Mau pulang dulu, main sama adik-adik dan kawan di rumah,” kata dia.
Coding Pelajaran Favorit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8421990/original/050302500_1782308710-Fiska_Sahwa__murid_Sekolah_Rakyat_Menengah_Pertama__SRMP__06_Jakarta_Timur__Liputan6.comMuhammad_Radityo_Priyasmoro_.jpeg)
Satu tahun telah berlalu sejak Fiska pertama kali menginjakkan kaki di pondok Sekolah Rakyat. Masa-masa homesick sudah berganti dengan semangat belajar dan pengalaman hidup mandiri. Tujuannya satu, mengejar cita-cita.
“Mau jadi master alias guru,” ucap Fiska malu-malu.
Fiska mengaku tak ada paksaan dari orang tua alias siapa pun untuk menggapai dua pekerjaan mulia tersebut. Alasannya sederhana, master agar dapat menyembuhkan pasien nan sakit dan pembimbing demi menyampaikan pengetahuan bermanfaat.
"Kalau master itu bisa merawat pasien lain. Kalau pembimbing itu biar bisa mengajar anak-anak lain buat belajar," imbuhnya.
Meski demikian, ada mata pelajaran nan menarik perhatiannya selama setahun terakhir. Dia mempunyai semangat lebih besar ketika kudu belajar materinya, ialah coding. Lewat akomodasi laptop dan hubungan internet, jari dan pikirannya berseluncur merakit logika lewat platform Scratch.
“Suka coding lantaran seru aja!” ujar dia.
Fiska berjanji, pada tingkat dua kelak dirinya mau belajar lebih giat lagi dan mandiri. Dia takkan menyia-nyiakan kesempatan nan sudah diberikan negara dalam merajut masa depan nan lebih baik.
Tak lupa, dia berpesan agar Presiden Prabowo terus diberikan kesehatan agar dapat menjawab kebutuhan rakyat mini seperti dirinya agar setara dengan nan lainnya.
“Semoga maju terus dan semoga Sekolah Rakyat bisa mewadahi anak-anak lain buat masuk ke sini. Semoga Pak Prabowo sehat selalu," tutupnya dengan senyum optimistis.
Sekolah Rakyat: Cerdas Bersama, Tumbuh Setara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339735/original/009714000_1757122749-9a5067c0-e896-4fae-89c1-79792355bf9f.jpeg)
Diketahui, Sekolah Rakyat adalah salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya, memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan umum setara SD, SMP, hingga SMA dengan model pondok nan dikelola Kementerian Sosial.
Lewat support APBN, Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam menjamin kewenangan pendidikan sebagaimana diamanatkan UUD 1945 Pasal 31. Khususnya, mereka dari family miskin dan miskin ekstrem, golongan desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sebagai informasi, desil merupakan pengkategorian rumah tangga berasas tingkat kesejahteraannya. Desil 1 mewakili golongan termiskin dan desil 10 mewakili golongan terkaya.
Menurut Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, sebanyak 183 Sekolah Rakyat dapat beraksi hingga akhir 2026 di tiga jenjang pendidikan. Total, sudah ada 45 ribu pelajar dari family miskin dan miskin ekstrem dari seluruh Indonesia.
"Perkembangan jumlah dan infrastruktur. Dari 166 Sekolah Rakyat rintisan di tahun 2025/2026, sekarang hingga akhir 2026 insyaallah menjadi 183 unit beraksi pada tahun 2026/2027," ujar laki-laki karib disapa Gus Ipul saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Rabu 10 Juni 2026.
Gus Ipul merinci, nomor 183 itu terdiri dari 80 Sekolah Rakyat Rintisan dan 93 Sekolah Rakyat permanen dan 10 Sekolah Rakyat tambahan.
“Pembangunan 93 titik Sekolah Rakyat permanen ditargetkan selesai pada 20 Juni 2026 dan siap operasional pada 14 Juli tahun 2026," jelas dia.
Gus Ipul optimistis, Sekolah Rakyat pada tahun 2027 bisa lebih banyak menampung pelajar nan berasal dari golongan masyarakat miskin dan miskin ekstrem. Dia menargetkan, jumlahnya 100 ribu pelajar lebih.
“Untuk tahun 2027, kita bakal menambah lagi jumlah siswa nan mencapai lebih dari 100.000 siswa. Rinciannya, SD 31.000 lebih, SMP 34.000 lebih siswa, SMA 36.000 lebih siswa. Kebutuhan pembimbing sebanyak 16.754 orang, kepala sekolah 498 orang, tenaga kependidikan 19.460 orang," catat dia.
Dia meyakini, dengan semakin banyaknya the invisible people nan mendapatkan kesempatan untuk bisa setara, maka masa depan mereka menjadi lebih baik.
“Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan perspektif negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang bakal berbicara pelan: di masa itu, pernah ada seorang Presiden nan menanam angan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto,” pungkas Gus Ipul di Banjarbaru, 12 Januari 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·