Komisi X DPR menyoroti seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16), nan diduga meninggal bumi akibat penggunaan sepatu sekolah nan sudah tidak sesuai ukuran.
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani, mengatakan peristiwa tersebut menjadi sirine keras bagi sistem pendidikan nasional untuk lebih memperhatikan kesejahteraan peserta didik secara menyeluruh.
“Bagi kami, peristiwa meninggalnya siswa SMK di Samarinda menjadi pengingat keras bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan beririsan langsung dengan aspek kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi keluarga,” ujar Lalu saat dihubungi, Selasa (5/5).
Ia menambahkan, dugaan penggunaan sepatu nan kekecilan berkontribusi terhadap kondisi medis Mandala, perlu ditelusuri lebih lanjut.
“Dugaan bahwa penggunaan sepatu nan sudah kekecilan berkontribusi pada pembengkakan hingga berujung fatal tentu perlu ditelusuri secara medis secara menyeluruh,” katanya.
Meski demikian, dia menilai kasus ini tidak semata soal penyebab langsung, melainkan menunjukkan persoalan nan lebih dalam mengenai kerentanan ekonomi dan keterbatasan akses jasa kesehatan.
“Namun, di luar aspek penyebab langsung, kasus ini menegaskan adanya kerentanan nan lebih dalam, ialah keterbatasan ekonomi nan membikin kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi secara layak, serta kemungkinan keterlambatan akses jasa kesehatan nan semestinya bisa mencegah kondisi memburuk,” jelasnya.
Menurut Lalu, sekolah tidak hanya berfaedah sebagai tempat belajar, tetapi juga kudu mempunyai sistem nan bisa mendeteksi kondisi kesehatan dan sosial siswa sejak dini.
“Kami memandang peristiwa ini sebagai sirine krusial bagi sistem pendidikan nasional untuk lebih peka terhadap kesejahteraan peserta didik secara utuh,” ujar Lalu.
“Sekolah tidak cukup hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga kudu mempunyai sistem penemuan awal terhadap kondisi kesehatan dan sosial siswa, termasuk memastikan tidak ada peserta didik nan mengalami keterbatasan perlengkapan dasar,” sambung dia.
Politikus PKB itu juga mendorong pemerintah memperkuat intervensi lintas sektor guna mencegah kejadian serupa terulang, mulai dari support perlengkapan sekolah hingga jasa kesehatan berbasis sekolah.
“Negara, melalui sinergi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, kudu terus memperkuat intervensi, seperti support perlengkapan sekolah, jasa kesehatan berbasis sekolah (UKS) serta integrasi dengan program perlindungan sosial,” tutur Lalu.
Ia menegaskan, Komisi X bakal terus mendorong kebijakan nan menjamin seluruh anak mendapatkan lingkungan belajar nan layak.
“Kami Komisi X selalu mendorong terhadap penguatan kebijakan nan memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan lingkungan belajar nan aman, sehat, dan manusiawi, sehingga kasus serupa tidak kembali terulang,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16), meninggal bumi setelah mengalami sakit nan disertai pembengkakan pada kaki. Kondisi tersebut diduga berangkaian dengan penggunaan sepatu sekolah nan sudah tidak sesuai ukuran.
Peristiwa ini menjadi sorotan lantaran memperlihatkan kombinasi masalah kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses jasa nan tidak optimal.
Mandala merupakan anak yatim nan tinggal berbareng kakak dan tiga adiknya. Ibunya, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan kondisi family nan terbatas membikin kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan sekolah, susah terpenuhi.
“Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak,” ujar Rina.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun saat naik kelas, ukuran kakinya bertambah menjadi 45.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·