Siswa Meninggal Pakai Sepatu Kekecilan, Gus Ipul: Bantuan Harus Tepat Sasaran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menghadiri peringatan satu tahun program Sekolah Rakyat di Gedung Heritage Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta, Rabu (29/4/2026). Foto: Dok. Kemensos

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) angkat bicara soal meninggalnya siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16). Mandala meninggal bumi setelah mengalami sakit di bagian kaki.

Kaki Mandala bengkak diduga akibat penggunaan sepatu sekolah nan tidak sesuai ukuran alias kekecilan. Ukuran sepatu Mandala harusnya 45 tetapi dia tetap memakai sepatu nomor 43 lantaran tidak punya duit untuk membeli sepatu baru.

Keluarga juga tidak membawa Mandala ke rumah sakit lantaran keterbatasan biaya. Ia hanya dirawat seadanya.

Terkait kasus ini, Gus Ipul menekankan pentingnya info nan jeli agar support pemerintah tepat sasaran. Harapannya kejadian serupa bisa dicegah.

"Dari awal Pak Presiden (Prabowo Subianto) minta kita mempertajam info agar anak-anak dari family nan memang memerlukan support pemerintah bisa kita jangkau," kata Gus Ipul di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).

Menurut Gus Ipul, pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri menjangkau masyarakat hingga ke daerah. Termasuk cek langsung ke lapangan. Kolaborasi dengan pemerintah wilayah menjadi kunci utama.

"Di sini inilah, kata kuncinya adalah data. Dan kita perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin Jakarta ini bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Maka itu kita kerja sama dengan pemerintah daerah," jelasnya.

Kementerian Sosial juga memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki kecermatan info penerima bantuan.

"Yang kedua kita juga menggunakan teknologi. Maka itu sekarang ada SIKS-NG, aplikasi untuk operator-operator info desa nan sampai juga ke desa. Sampai ke Jakarta. Nah kita sudah terhubung lewat teknologi," ujar Gus Ipul.

Ia menjelaskan, dengan info nan akurat, pemerintah semestinya dapat melakukan intervensi lebih awal terhadap masyarakat nan membutuhkan.

"Jadi semestinya kita, jika misalnya kita ketahui sebelumnya dengan info nan ada kita bakal bisa melakukan intervensi. Jadi kita bisa mencegah adanya hal-hal nan memang menjadi bagian dari tugas kita untuk memberikan bantuan," ungkap Gus Ipul.

Ada pula kasus lain menurut Gus Ipul akibat keterbatasan akses dan data. Contohnya, siswa nan tidak bisa menebus ijazah.

"Jadi kita ini nan sedang terus kita lakukan, jangan sampai misalnya ada family nan tidak bisa menebus piagam anaknya di sekolah," katanya.

Kemensos mengembangkan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di tingkat desa untuk menjangkau masyarakat tingkat bawah.

"Nah, Kementerian Sosial mempunyai program berbareng wilayah untuk menghadirkan Puskesos di tingkat desa. Pusat Kesejahteraan Sosial nan ini diharapkan menjadi tempat untuk menampung seluruh keluhan, seluruh aspirasi, dan mungkin kebutuhan-kebutuhan family dari desa tersebut," jelasnya.

Gus Ipul mengatakan pemerintah juga menggandeng beragam pihak untuk membantu masyarakat.

"Saya sering sampaikan juga bahwa kita itu pun sumber daya nan cukup untuk membantu keluarga-keluarga kita nan memerlukan jika tidak dengan APBN, kita banyak filantropi. Kami kerja sama dengan Baznas kami bekerja sama dengan banyak lembaga-lembaga ya, nan siap bekerja sama untuk memberikan support kepada keluarga-keluarga nan membutuhkan," kata dia.

Meski begitu, Gus Ipul kembali menegaskan persoalan utama tetap terletak pada validitas data.

"Data kita alhamdulillah insya Allah makin tahun makin jeli dan ini bisa jadi salah satu pedoman kita untuk membantu mereka-mereka nan membutuhkan," ungkapnya.

Gus Ipul menyebut kasus di Samarinda merupakan bagian dari upaya nan tetap terus diperbaiki.

"Sebenarnya bukan kecolongan, kita sedang berusaha. Kita berupaya untuk tidak kecolongan lewat menghadirkan info nan akurat," tuturnya.

Ia juga mengaitkan program Sekolah Rakyat sebagai salah satu solusi untuk menjangkau golongan masyarakat nan belum terdata.

"Ini nan sedang dilakukan, hadirnya Sekolah Rakyat sebenarnya itu bagian dari upaya untuk mengatasi mereka-mereka nan belum masuk data. Mereka nan oleh Presiden disebut the invisible people. Yang penderitaannya tidak terlihat oleh kita," jelas dia.

Menurutnya, golongan nan belum terjangkau inilah nan berisiko mengalami kesulitan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah.

"Jadi mereka nan tadi itu mungkin sepatu dan lain sebagainya nan belum terjangkau nan tidak terlihat oleh kita. Maka dengan data-data nan lebih jeli ini kita bisa menjangkau mereka," pungkasnya.

Adapun peristiwa meninggalnya Mandala ini menjadi sorotan lantaran memperlihatkan kombinasi masalah kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses jasa nan tidak optimal.

Mandala merupakan anak yatim nan tinggal berbareng kakak dan tiga adiknya. Ibunya, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling.

Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan kondisi family nan terbatas membikin kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan sekolah, susah terpenuhi.

"Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak," ujar Rina.

Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun saat naik kelas, ukuran kakinya bertambah menjadi 45.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan