Jakarta -
Yani sedang menidurkan buah hatinya meski di luar 'kamar' riuh. Dia mengusap-usap punggung anak laki-laki usia 1,5 tahun itu.
Riuh di luar dikarenakan hilir mudik rekan-rekan Yani lainnya. Para penduduk bimbingan namalain narapidana (napi) sedang mempersiapkan aktivitas pisah sambut Kepala Lapas Perempuan Bandung, dari pejabat lama Gayatri Rachmi Rilowati ke pejabat baru Rika Aprianti.
Meski umumnya susah tidur jika kondisi berisik, namun anak Yani tetap terlelap. Yani menjelaskan anaknya sudah terbiasa dengan suasana ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini banyak nan sayang sama anak saya," ucap Yani kepada detikcom di letak pada Jumat (21/8/2026).
Foto: Sisi lain Lapas wanita Bandung: Ada bayi, MPASI hingga jalan-jalan keluar. (Audrey/detikcom).
Sudah 1 tahun 3 bulan Yani mendekam di kembali tembok Lapas Perempuan Bandung, tepatnya sejak 20 Mei 2025. Kasus penggelapan dan korupsi nan mengantarkannya ke ruji-ruji besi.
Yani mengatakan dia diketahui mengandung saat sedang menjalani proses norma di Kejaksaan Banjar. Kala itu pihak kejaksaan memeriksa kesehatan Yani sebelum wanita 43 tahun ini menjalani tahap tuntutan mengenai kasusnya, dan tak dinyana, dia dinyatakan sedang mengandung janin usia 4 bulan.
"Waktu itu saya baru tahu mengandung saat di Kejaksaan Banjar, saat cek kesehatan. Ternyata sudah berumur empat bulan. nan saya pikirkan saat itu adalah kandungan saya," cerita Yani.
Hamil dalam kondisi kudu menjalani proses norma menjadi pukulan untuk ibu dari tiga anak ini. Ditambah lagi anaknya nan duduk di kelas 5 SD mengalami perundungan oleh teman-teman di sekolah lantaran publik mengetahui status Yani.
"Yang saya takutkan pada saat saya tahu kondisi saya mengandung di dalam sel, nan saya bayangkan adalah ketakutan saat melahirkan alias gimana kebutuhan anak di dalam sel. Itu seperti mimpi buruk," tutur Yani.
"Saya juga memikirkan anak nan di luar. Saya agak trauma dengan media lantaran kasus saya itu kan masum berita, anak akhirnya tahu, teman-temannya juga tahu, dia dibully," sambung dia.
Foto: Sisi lain Lapas wanita Bandung: Ada bayi, MPASI hingga jalan-jalan keluar. (Audrey/detikcom).
Kekhawatiran Berkurang Usai Mapenaling
Persepsi Yani mengenai nan bakal dihadapinya perlahan berubah, terutama saat menjalani masa pengenalan lingkungan alias mapenaling di rumah tahanan (rutan), tempat dia ditahan sebelum dipindah ke Lapas Perempuan Bandung. Status ibu mengandung namalain bumil membikin Yani merasa dispesialkan.
Awal menginjakkan kaki di rutan, dia diedukasi mengenai jasa pemeriksaan kehamilan hingga gambatan proses persalinan seorang tahanan. Petugas poliklinik di rutan juga memastikan proses persalinan bakal dilakukan di rumah sakit.
Yani mengatakan rupanya tahanan bumil tak hanya dirinya sendiri. Ada tahanan lainnya nan mempunyai bayi, dan Yani menyaksikan bayi tersebut mendapat kasih sayang baik dari sesama tahanan maupun petugas rutan.
"Waktu awal mapenaling, saya mendapatkan perlakuan baik. Lalu didatangkan petugas poliklinik dan saya diedukasi serta diberi tahu bahwa persalinannya kelak di rumah sakit. Jadi ketakutan-ketakutan itu sedikit berkurang lantaran ada beberapa bayi juga di sana," kata Yani.
Selama mengandung, menurut Yani, akomodasi pemeriksaan kehamilan di rutan dapat dimanfaatkan sepekan sekali dan gratis. Padahal umumnya ibu mengandung di luar memeriksakan kandungan sebulan sekali.
Untuk pemeriksaan ultrasonografi alias USG, dia dibawa ke akomodasi di luar lapas dengan pendampingan petugas rutan. "Mungkin jika ibu mengandung kan rentan ya, mereka (pihak rutan) takut jika terjadi apa-apa. Bagaimana pun ibunya melakukan salah, tapi nan dalam kandungan ini kan tidak bersalah, tidak tahu apa-apa," imbuh Yani.
Yani kemudian melahirkan secara caesar di RS Hermina dengan baya persalinannya ditanggung BPJS, sehingga dia mengatakan tidak mengeluarkan biaya. Dia sangat mensyukuri perihal tersebut lantaran kondisi finansial suami kala itu tak stabil.
"Saya melahirkan secara caesar. Alhamdulillah, bisa memakai BPJS dan tidak mengeluarkan biaya sama sekali," ujar Yani.
Kamar Khusus Ibu dan Anak
Kasus norma nan menjerat Yani inkrah dan usai tiga bulan melahirkan, dia ditransfer ke Lapas Perempuan Bandung. Ia mengaku sudah tak terlalu cemas lantaran pengalaman nan menurutnya cukup baik di rutan.
Justru dia tercengang lantaran akomodasi dan suasana di Lapas Perempuan Bandung lebih baik. Di sini terdapat bilik unik untuk ibu dan anak, mereka tak tidur terpisah.
Saat Yani diwawancarai, terdapat dua napi wanita dengan masing-masing satu anak lakinya di dalam 'kamar khusus'. Mereka semua menghuni bilik nan sama dengan Yani.
"Di sini ada bilik unik untuk bayi. Di sini juga ada tiga bayi. Jadi tidak dipisahkan. Kami tidur berbareng anak-anak, ibu dan anak," kata Yani.
Meski merasa sangat dipenuhi dari sisi kewenangan asasi manusia (HAM), Yani tidak menampik adanya keterbatasan ketika seorang anak kudu bertumbuh dan berkembang di lingkungan lapas. Di usia emas alias golden age, tutur Yani, anak harusnya dapat belajar maksimal tentang bumi luar.
"Sebenarnya sedih mereka tumbuh di dalam lapas. Anak umur segini sudah mulai mengerti. Karena sebagus-bagusnya treatment di dalam sini, tidak bakal semaksimal tumbuh kembang seperti di luar," sebut Yani.
Dukungan MPASI dan Jalan-jalan Anak
Terkait pemenuhan kebutuhan makanan bayi, para ibu dapat membikin sendiri Makanan Pengganti Air Susu Ibu (MPASI). Bagi napi bumil, Yani menyaksikan pihak lapas juga memperhatikan soal asupan gizinya.
"Dengan Ibu Gayatri ini banyak penemuan dan perbaikan untuk anak, seperti membikin MPASI oleh ibunya sendiri. Bahkan, waktu hamil, makanan saya juga didukung oleh Ibu Gayatri," ujar Yani.
Yani menyampaikan ada pula program nan memberi anak-anak kesempatan sesekali memandang lingkungan di luar tembok lapas. Petugas membawa anak-anak ke taman bermain.
"Ada program juga agar anak bisa memandang bumi luar. Ibu Gayatri dan petugas, seminggu sekali, membawa anak-anak untuk jalan-jalan ke luar. Tetapi sayanya tidak ikut, hanya anak-anaknya saja nan boleh keluar," terang Yani.
Dengan mata berkaca-kaca, Yani menceritakan anaknya sangat senang saat diajak ke luar lapas. Hal sederhana seperti memandang kendaraan bermotor lampau lalang di jalan rupanya menjadi pemandangan nan sangat menarik bagi anak Yani.
"Kadang dua petugas membawa mereka ke tempat bermain. Sampai anak saya, saat memandang mobil dan kendaraan, sangat excited sekali. Tepuk tangan dan senang jika lihat mobil," ungkap Yani.
Soal akomodasi anak, Yani tetap mempunyai satu angan ialah ada televisi dengan program tayangan unik untuk anak-anak. Sehingga anak-anak mendapatkan intermezo maupun edukasi.
"Harapan saya, semoga ada TV unik untuk anak saja agar mereka tahu animasi alias edukasi di internet untuk anak. Karena kadang ketika anak rewel, hidup dengan orang banyak, dan dia mulai bosan," ujarnya.
Berkebun Bersama Anak
Selain mengurus anak, Yani mengikuti program kerja bertani di area lapas. Anaknya kerap ikut ke kebun.
Bagi Yani, aktivitas bertani menjadi sarana bermain sekaligus pembelajaran anak soal sayuran. Di kebun, Yani menanam pakcoy, kangkung, dan sayuran lainnya.
Kegiatan bekerja di lapas dimanfaatkan Yani sebagai penjelasan kepada sang buah hati soal alasannya berada di lapas. "Sekaligus saya mengedukasi bahwa saya kudu bekerja di sini, agar dia mengerti," lanjut Yani.
Yani mengatakan dirinya tetap bakal berada di lapas kurang lebih dua tahun. Sementara ketika anak mencapai usia tiga tahun, anak tersebut kudu keluar dari lapas.
"Saya di sini, insyaallah, kurang lebih dua tahun. Saat anak berumur tiga tahun, anak kudu dipulangkan, sementara saya tetap berada di sini. Semoga anak saya bisa beradaptasi saat saya tetap berada di sini," ujarnya.
Yani mulai memikirkan langkah mempersiapkan anak menghadapi masa tersebut. Ia memandang pengalaman penduduk bimbingan lain nan anaknya sejenak lagi kudu meninggalkan lapas.
"Ketika saya memandang kawan saya nan anaknya sejenak lagi bakal dipulangkan, langkah mengedukasinya dengan mengatakan bahwa ibu kudu bekerja," tutur Yani.
Foto: Sisi lain Lapas wanita Bandung: Ada bayi, MPASI hingga jalan-jalan keluar. (Audrey/detikcom).
(aud/whn)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·