Di kembali pesatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok nan sering kita kagumi, terdapat sebuah realita kelam nan kerap tertutup oleh gemerlap gedung pencakar langit di Shenzhen alias Beijing. Realita itu berjulukan 996: sebuah sistem kerja di mana tenaga kerja dituntut bekerja dari jam 09.00 pagi hingga 09.00 malam, selama enam hari dalam seminggu. Totalnya, 72 jam per minggu. Angka ini tidak hanya jauh melampaui standar kesehatan, tetapi juga melanggar pemisah legal pemerintah Tiongkok sendiri nan menetapkan 44 jam seminggu.
Budaya ini bukanlah kejadian baru. Akarnya ditarik ke tahun 1970-an, saat Tiongkok membuka diri terhadap ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi menjadi nilai meninggal untuk keluar dari kemiskinan. Dalam konteks itu, lembur bukan lagi soal produktivitas, melainkan simbol dedikasi dan nasionalisme. Ironisnya, budaya ini terus diwariskan hingga ke era startup teknologi. Perusahaan besar, demi mengejar sasaran pertumbuhan nan ambisius namun enggan merekrut lebih banyak staf, justru memeras tenaga tenaga kerja nan ada.
Yang lebih menyesakkan adalah gimana sistem ini menormalisasi kehadiran bentuk di instansi sebagai tolok ukur kesetiaan. Sering kali, tenaga kerja tetap berada di meja kerja bukan lantaran pekerjaan belum selesai, melainkan lantaran takut dicap sebagai orang nan "tidak tahu malu" jika pulang lebih awal.
Kita sering mendengar narasi dari para petinggi perusahaan, seperti Jack Ma, nan menyebut sistem 996 sebagai "berkah". Namun, realita di lapangan berbincang sebaliknya. Dampak kesehatan bentuk dan mental nan ditimbulkan sangat nyata. Kelelahan kronis, gangguan tidur, nyeri otot, hingga tekanan mental nan memicu depresi adalah akibat nan tak terelakkan.
Lebih dari itu, sistem ini justru kontraproduktif. Secara medis dan psikologis, otak nan dipaksa bekerja 72 jam seminggu bakal kehilangan konsentrasi dan rentan melakukan kesalahan. Alih-alih mendapatkan efisiensi, perusahaan justru menghadapi akibat burnout massal. Bahkan, sejarah mencatat kasus-kasus tragis di mana pekerja nekat mengakhiri hidupnya lantaran tidak kuat menanggung beban kerja dan ketidakadilan upah.
Namun, perlawanan mulai muncul. Sejak 2019, gelombang protes dari generasi muda Tiongkok kian menguat. Mulai dari pembuatan blacklist perusahaan nan mempraktikkan 996 oleh para programmer, hingga aktivitas televisi nan secara berani membahas rumor overwork. Pemerintah pun akhirnya mulai mengambil langkah tegas dengan patokan nan lebih berpihak pada pekerja, demi mencegah krisis depopulasi dan menjaga keberlangsungan tenaga kerja di masa depan.
Yang paling ironis dari kejadian ini adalah ketika Tiongkok perlahan mulai mencoba membenahi sistem kerja mereka, beberapa penanammodal di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru mau mengangkat sistem 996. Ini adalah bukti bahwa obsesi terhadap pertumbuhan ekonomi nan sigap sering kali membutakan kita terhadap martabat manusia.
Sebagai penutup, kita perlu merenungkan kembali apakah sukses kudu dibayar dengan mengorbankan hidup itu sendiri? Kerja keras adalah kebaikan, namun pemanfaatan bukanlah sebuah "berkah". Kita kudu berakhir mengagungkan budaya lembur nan tidak manusiawi. Produktivitas sejati tidak diukur dari berapa lama seseorang duduk di depan layar, melainkan dari kualitas output dan keseimbangan hidup nan terjaga. Jika bumi mau maju, kita tidak butuh sistem kerja nan menguras nyawa, melainkan sistem nan menghargai setiap detik waktu manusia di dalamnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·