Sisa-Sisa Ledakan Supernova Ditemukan Dekat Jantung Galaksi Bima Sakti

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sisa-Sisa Ledakan Supernova Ditemukan Dekat Jantung Galaksi Bima Sakti Teleskop Chandra milik NASA mendeteksi puing-puing supernova nan melaju 3,2 juta km/jam di dekat Sagittarius A*, lubang hitam pusat Bima Sakti.(NASA/CXC/UCLA/Z. Zhu et al.; ESA/XMM-Newton; Optical: PanSTARRS; Radio: MeerKAT; Image Processing: NASA/CXC/SAO/L. Frattare and P. Edmonds)

WAHANA antariksa sinar-X milik NASA, Chandra, sukses mendeteksi puing-puing sisa ledakan bintang meninggal (supernova) di letak nan sangat dekat dengan pusat galaksi kita. Puing-puing kosmik ini ditemukan berada di sekitar lubang hitam supermasif nan menjadi jantung Galaksi Bima Sakti, Sagittarius A* (Sgr A*), berjarak sekitar 26.000 tahun sinar dari Bumi.

Para astronom nan terlibat dalam penemuan ini memperkirakan bahwa bintang nan menjadi asal-usul puing tersebut meledak sekitar 1.700 tahun nan lalu. Penemuan ini resmi menjadi sisa-sisa kehancuran supernova terdekat nan pernah ditemukan dari lubang hitam pusat kita.

Puing-puing tersebut terletak di dalam sebuah gelembung gas hidrogen terionisasi nan memancarkan gelombang radio kuat, sebuah wilayah nan dinamakan Sagittarius C (Sgr C). Teleskop Chandra, nan bekerja sama dengan teleskop luar angkasa XMM-Newton milik ESA, menangkap sisa ledakan ini sebagai sebuah "gumpalan" sinar-X nan terang. Luar biasanya, cangkang material nan dimuntahkan oleh ledakan purba tersebut terdeteksi tetap bergerak dengan kecepatan fantastis, ialah mencapai 3,2 juta kilometer per jam.

Penemuan sisa-sisa supernova seperti ini mempunyai peran krusial bagi para intelektual untuk memahami pengayaan kimiawi di dalam galaksi. Ketika sebuah bintang masif meledak, mereka melontarkan elemen-elemen berat nan sebelumnya mereka tempa dari hidrogen dan helium ke ruang angkasa di sekitarnya.

Elemen-elemen berat inilah nan nantinya bakal bercampur dengan awan gas dan debu antarbintang. Seiring berjalannya waktu, wilayah nan dingin dan padat pada awan molekul tersebut runtuh akibat gravitasinya sendiri, lampau melahirkan generasi bintang baru serta membentuk planet-planet di sekitarnya.

Meski demikian, para intelektual mencatat tetap ada sedikit teka-teki di kembali penemuan ini. Tim peneliti belum menemukan peningkatan jumlah komponen berat nan biasanya dilepaskan secara masif oleh bintang nan meledak.

Ada dua kemungkinan mengenai kondisi tersebut. Pertama, material sisa ledakan kemungkinan sudah sepenuhnya bercampur dengan gas dan debu di sekitarnya. Kedua, ada asumsi pengganti nan menyebut bahwa gumpalan sinar-X itu bukanlah hasil dari supernova, melainkan gas nan dipanaskan oleh gugusan bintang muda nan masif di wilayah tersebut. Namun, tim peneliti menilai kemungkinan kedua sangat mini lantaran pancaran sinar-X nan terdeteksi di Sgr C ini sepuluh kali lipat lebih terang daripada emisi tipikal gugusan bintang muda.

Studi mendalam mengenai kejadian astronomi ini telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal. (Space/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia