Singapura Terancam "Kiamat", Bocah-Bocah Kini Mau Diberi Rp 835 Juta

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura menghadapi ancaman "kiamat" demografi setelah tingkat kelahiran terus merosot. Krisis tersebut akhirnya membikin pemerintah menggelontorkan insentif besar dan memperluas support family untuk mendorong warganya mempunyai lebih banyak anak.

Negara kota itu meluncurkan serangkaian kebijakan baru, termasuk support lebih dari SG$60.000 alias sekitar Rp835,7 juta (kurs Rp13.929/SG$) untuk setiap anak penduduk negara sejak lahir hingga usia 17 tahun. Paket tersebut menjadi salah satu upaya terbesar Singapura untuk mengatasi halangan finansial dan sosial dalam mempunyai serta membesarkan anak.

"Kami mau melakukan perubahan mendasar dalam langkah kami mendukung keluarga," ujar Perdana Menteri Lawrence Wong, seperti dikutip CNBC International, Senin (31/8/2026) menegaskan kebijakan tersebut bukan sekadar perubahan mini pada program nan sudah ada.

Sebelumnya, dalam pidato National Day Rally, Wong menjelaskan pemerintah mau mengubah pola support nan sebelumnya lebih banyak berfokus pada periode kelahiran anak. Kebijakan baru mencakup biaya penitipan anak nan lebih rendah, libur orang tua nan lebih panjang, serta kesempatan lebih besar mendapatkan perumahan publik.

Namun, akibat kebijakan itu diperkirakan tidak bakal terlihat dalam waktu dekat. "Ini seumpama mengubah arah pergerakan gunung es nan sangat lambat... Butuh waktu. Perlu beberapa dasawarsa untuk memandang sedikit perubahan," tegas peneliti senior di Institute of Policy Studies, Kalapana Vignehsa.

Menurut Vignehsa, kebijakan baru tersebut merupakan "perubahan total dari apa nan ada sebelumnya". Ia menilai support finansial relatif mudah diberikan dibandingkan mengatasi persoalan sosial dan budaya nan lebih kompleks.

Sementara itu, asisten guru besar ekonomi Nanyang Technological University, Chua Yeow Hwee, menilai pendekatan baru Singapura lebih menjanjikan dibandingkan bingkisan sekali bayar. "Pendekatan baru ini mengakui bahwa biaya finansial dan waktu untuk membesarkan anak berjalan selama bertahun-tahun," ujarnya.

Namun, dia mengingatkan kebijakan libur nan lebih panjang juga dapat menambah biaya operasional perusahaan. "Jika seseorang tidak masuk kerja, pekerjaannya kudu dilakukan oleh orang lain. Jadi, siapa nan bakal menanggung biayanya?" kata Chua.

Tekanan demografi Singapura sendiri semakin besar. Tingkat kesuburan total (total fertility rate/TFR) turun menjadi 0,87 pada 2025, dari 0,97 pada tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah tingkat 2,1 nan dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil tanpa mengandalkan migrasi.

Pengalaman negara Asia lain menunjukkan tantangan nan dihadapi Singapura tidak mudah. Korea Selatan tetap mencatat TFR sekitar 0,8 meski memperluas support pengasuhan anak, sementara Jepang mencatat penurunan TFR selama satu dasawarsa hingga mencapai rekor terendah 1,14 pada 2025.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News