Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah merancang undang-undang baru untuk mencabut kebangsaan orang-orang nan dianggap mencemarkan nama baik tentara Israel. Manuver norma ini menjadi eskalasi serangan langsung terhadap sutradara pemenang Oscar di kembali movie dokumenter Gaza berjudul NAZA.
Mengutip The Guardian, Kamis (17/9/2026), dokumenter nan mengungkap pembunuhan massal penduduk sipil di Gaza ini baru saja memenangkan bingkisan unik juri di Festival Film Venesia akhir pekan lalu, usai mendapat rekor standing ovation selama 25 menit. Namun nahasnya, tak lama setelah kemenangannya, para sutradara ialah Yuval Abraham dan Rachel Szor justru dibanjiri ancaman dari pejabat senior hingga milisi sayap kanan Israel.
Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, menuduh para sineas tersebut telah melakukan pengkhianatan terhadap negara dan berterima kasih kepada Netanyahu atas rencana mengubah undang-undang demi mencabut kebangsaan mereka.
"Kami bakal mencabut kebangsaan siapapun nan mencemarkan nama baik tentara IDF di seluruh dunia, dia bakal sangat terluka secara finansial," tegasnya.
Netanyahu diketahui bermaksud mempromosikan dua RUU. RUU pertama bakal melipatgandakan nilai gugatan pencemaran nama baik menjadi 1 juta shekel tanpa perlu bukti kerugian, sedangkan RUU kedua bakal mengatur pencabutan kebangsaan bagi siapa saja nan mencemarkan nama baik IDF dan negara Israel di mata dunia.
Teror Pembunuhan & Perburuan
Pada Rabu malam, puluhan aktivis sayap kanan nan terafiliasi dengan partai ekstremis Otzma Yehudit ketua Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengepung rumah orang tua Rachel Szor. Demonstran secara beringas menyerukan balasan meninggal bagi para "pengkhianat" dan menuntut agar rumah family kreator movie itu dihancurkan rata dengan tanah.
Ben-Gvir secara terbuka menyebut sutradara itu "memalukan", sementara Netanyahu mengecam movie tersebut lantaran menggambarkan tentara IDF sebagai penjahat perang. Netanyahu apalagi sengaja mengunggah klip video lama nan memperlihatkan Abraham saat berkonfrontasi dengan tentara di Tepi Barat untuk memanaskan situasi.
Hal serupa juga dilontarkan oleh Kepala Staf IDF, Eyal Zamir. Ia berjanji bakal menggunakan setiap perangkat nan dimiliki untuk melawan movie tersebut.
"Militer tidak bakal membiarkan tentara IDF menjadi sasaran ketidakejujuran dan tuduhan darah," paparnya.
Militer Israel dilaporkan telah membuka penyelidikan kebocoran info dan meminta support pemasok keamanan domestik Shin Bet. Jurnalis Channel 14 Yehuda Schlesinger apalagi mendesak agar para sutradara itu diburu ke mana pun mereka pergi dan dilarang pulang ke Israel. Di Ashdod, muncul mural nan disponsori oleh rapper sayap kanan Yoav Eliasi, nan menggambarkan Abraham dan Szor dengan tanda bidik, lambang swastika, dan tulisan "pengkhianat" di atasnya.
Menghadapi kampanye teror ini, Abraham menyatakan keputusasaannya di saluran televisi Channel 13.
"Tentu saja sulit, Israel adalah rumah saya, satu-satunya tempat saya mau tinggal. Jadi tentu saja saya takut tidak bakal bisa kembali," ungkapnya.
Banjir Dukungan Internasional
Sebagai informasi, nama "NAZA" diambil dari akronim dinas intelijen Israel nan digunakan untuk memprediksi berapa banyak penduduk sipil nan bakal tewas dalam sebuah serangan udara. Sebelum NAZA, Szor dan Abraham juga memenangkan Oscar untuk movie dokumenter No Other Land nan menyoroti perlawanan Palestina di Tepi Barat.
Menyusul teror nan terjadi, 43 organisasi kewenangan asasi manusia lokal (termasuk Peace Now dan B'Tselem) mengecam respons pemerintah Israel nan dianggap meniru style rezim diktator. Mereka berbareng 1.500 kreator movie Israel menandatangani petisi nan memihak kebebasan berekspresi. LSM-LSM tersebut sekarang mendesak penyelidikan menyeluruh atas tingginya nomor korban sipil di Gaza dan menuntut akses masuk bagi wartawan asing.
Sutradara pemenang Oscar Laura Poitras turut mengecam tindakan rezim Netanyahu sebagai "ancaman bagi wartawan di seluruh dunia". Beruntungnya, pada Rabu malam, majalah +972 mempublikasikan video nan memperlihatkan seseorang mengecat ulang mural kebencian di Ashdod dan mengganti kata pengkhianat menjadi "pahlawan".
Lebih lanjut, sumber kementerian luar negeri Israel justru menilai bahwa ancaman pemerintah ini pada akhirnya menjadi bumerang nan mendongkrak ketenaran movie dokumenter tersebut.
"Fakta bahwa pemerintah merespons justru menarik perhatian dan buletin utama," ucapnya.
The Guardian, nan turut memproduksi movie berasas hasil kewartawanan investigasi dan sumber rahasia selama tiga tahun tersebut, berjanji bakal melawan segala upaya penyensoran.
"Yuval Abraham dan Rachel Szor adalah wartawan dan kreator movie nan berani," pungkasnya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·