Shockbyte Pakai CPU AMD EPYC untuk Perluas Server Game ke AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Shockbyte Pakai CPU AMD EPYC untuk Perluas Server Game ke AS Ilustrasi(MI/HO)

INDUSTRI gim sekarang berkembang menjadi salah satu sektor intermezo paling besar, apalagi disebut menghasilkan pendapatan lebih tinggi dibandingkan campuran industri movie dan musik. Dengan sekitar dua pertiga gamer bermain secara online, kebutuhan terhadap prasarana server nan cepat, stabil, dan efisien menjadi semakin krusial.

Di tengah kebutuhan itu, Shockbyte memperkuat posisinya sebagai penyedia jasa server untuk Minecraft dan beragam gim terkenal lain. Perusahaan tersebut mengandalkan prosesor AMD Ryzen dan AMD EPYC untuk meningkatkan kepadatan server, performa single-thread, efisiensi daya, serta mendukung ekspansi upaya ke pasar Amerika Serikat.

Fokus utamanya jelas: menghadirkan pengalaman server gim online nan mulus, minim gangguan, dan bisa menangani lonjakan pemain saat peluncuran game baru.

Dari Server Minecraft ke Infrastruktur Cloud Game

Shockbyte berdiri pada 2013, ketika permintaan terhadap server Minecraft sedang sangat besar. Mitch Smith, CEO and Founder Shockbyte, mengatakan salah satu tujuan awal perusahaan adalah menyederhanakan pengelolaan server game, apalagi saat upaya tumbuh hingga tiga kali lipat selama beberapa tahun berturut-turut.

“Perusahaan berdiri pada 2013. Saat itu terdapat permintaan nan sangat besar terhadap server Minecraft,” ujar Mitch Smith.

Bisnis Shockbyte kemudian berkembang melampaui Minecraft. Saat ini, perusahaan mendukung sekitar 65 gim  nan berfokus pada server milik pemain. Di sisi lain, Shockbyte juga membangun lini upaya B2B berjulukan Shockbyte for Game Studios sebagai penyedia prasarana cloud.

Smith menyebut Shockbyte bekerja sama dengan Facepunch sebagai mitra resmi dedicated server untuk Rust, salah satu gim survival terkenal dengan organisasi besar. Perusahaan juga bekerja sama dengan Discord.

Tantangan: Lonjakan Pemain, Konsolidasi Server, dan Micro-Stutter

Model upaya server gim mempunyai tantangan unik. Ketika sebuah gim baru diluncurkan, jumlah pemain bisa melonjak tajam selama beberapa minggu pertama. Setelah itu, pedoman pemain dapat turun hingga sekitar 10% dari nomor awal. Kondisi ini memaksa penyedia prasarana melakukan scaling cepat, lampau memigrasikan dan mengonsolidasikan beban kerja ke mesin nan lebih sedikit.

Untuk pemain nan tetap aktif, proses tersebut berisiko menimbulkan gangguan. Bahkan micro-stutter mini dapat menjadi sumber keluhan pelanggan. Karena itu, Shockbyte memerlukan prasarana nan tidak hanya kuat saat beban puncak, tetapi juga efisien ketika beban mulai menurun.

Awal Peralihan ke AMD

Liam Charles, Director of IT Shockbyte, menjelaskan bahwa selama sebagian besar masa operasionalnya, perusahaan menyewa server bare-metal dari pihak ketiga. Sekitar 2023, Shockbyte mulai mempertimbangkan pengoperasian server di data center sendiri. Saat itu, sebagian besar prasarana tetap menggunakan Intel.

Pada periode nan sama, prosesor AMD Ryzen berbasis socket AM5 mulai tersedia. Shockbyte sebelumnya telah mempunyai sejumlah sistem berbasis Ryzen 3000 dan 5000 Series. Menurut Charles, beberapa sistem tersebut telah melangkah lebih dari enam tahun tanpa pernah di-reboot dan tetap beraksi dengan baik.

“Beralih ke AMD EPYC Server Processor merupakan keputusan nan sangat mudah,” kata Liam Charles.

Peran DiGiCOR dan Supermicro MicroCloud

Dalam proses transisi, mitra hardware DiGiCOR membantu Shockbyte menemukan konfigurasi AMD nan sesuai dengan kebutuhan workload server game. Dez Nguyen, Lead Systems Engineer DiGiCOR, mengatakan kerjasama dimulai pada awal 2024.

Menurut Nguyen, industri gim kerap mengandalkan CPU kelas konsumen nan dipasang pada sistem rackmount unik lantaran belum banyak solusi enterprise nan dirancang spesifik untuk kebutuhan tersebut.

Supermicro kemudian menghadirkan MicroCloud, solusi high-density untuk AMD Ryzen 7000 Series. Sistem ini memungkinkan delapan node ditempatkan dalam satu rackmount 3U. MicroCloud menjadi fondasi penerapan bare-metal pertama Shockbyte di Melbourne, Australia.

Performa Single-Thread Jadi Faktor Kunci

Dalam pengetesan internal nan disampaikan perusahaan, sistem lama Shockbyte mencatat skor rata-rata sekitar 2.750 pada benchmark PassMark single-thread. Dengan sistem AMD terbaru, skor rata-rata dunia meningkat menjadi sekitar 4.200, alias naik sekitar 53%.

Performa single-thread menjadi parameter krusial untuk server game, terutama untuk Minecraft. Charles menyebut Shockbyte memandang peningkatan performa single-thread setidaknya 40% sejak beranjak dari Intel Xeon nan digunakan sebelumnya ke AMD.

Aspek Sistem Lama Sistem AMD Baru
Benchmark single-thread Sekitar 2.750 Sekitar 4.200
Peningkatan performa Baseline Sekitar 53% dalam benchmark; setidaknya 40% untuk single-thread menurut Shockbyte
Kapasitas RAM per sistem Sebelumnya terbatas 128GB 256GB hingga 1,5TB pada platform AMD EPYC 9000 Series
Efisiensi daya 0,93 watt per GB memori 0,65 watt per GB memori

Dari Ryzen 7700 ke EPYC 9555P

Implementasi hardware dilakukan bertahap. Shockbyte memulai penyebaran dengan Ryzen 7700. Setelah itu, perusahaan beranjak ke AMD EPYC 4464P saat memerlukan lebih banyak core untuk menjalankan lebih banyak server klien.

EPYC 4464P disebut mempunyai 24 thread dan mendukung RAM hingga 192GB. Infrastruktur kemudian berkembang ke AMD EPYC 4545P dan AMD EPYC 9555P. Prosesor EPYC 9555P disebut menghadirkan 64 core CPU dengan support memori hingga 1,1TB per sistem dalam konfigurasi nan digunakan Shockbyte.

Bagi penyedia server game, performa single-thread tetap krusial lantaran banyak workload game belum sepenuhnya terdistribusi secara merata ke banyak core. Namun, jumlah core dan kapabilitas memori besar tetap dibutuhkan untuk menjalankan lebih banyak instance server pengguna dalam satu sistem fisik.

Kepadatan Lebih Tinggi, Mesin Lebih Sedikit

Efisiensi ekonomi menjadi aspek krusial bagi Shockbyte lantaran perusahaan beraksi layaknya penyedia cloud nan konsentrasi pada gim. Dengan CPU AMD terbaru, Shockbyte menyebut jumlah mesin dapat dikurangi dari lebih dari 2.000 unit menjadi kurang dari 1.000 unit.

Konsumsi daya juga turun. Build lama rata-rata mengonsumsi 0,93 watt per GB memori, sedangkan sistem AMD terbaru sekitar 0,65 watt per GB memori. Angka tersebut setara pengurangan konsumsi daya sekitar 30% untuk kapabilitas nan sama.

Pros and Cons Implementasi AMD di Infrastruktur Shockbyte

  • Kelebihan: peningkatan performa single-thread, kepadatan server lebih tinggi, kapabilitas memori lebih besar, dan konsumsi daya lebih efisien.
  • Kelebihan: membantu konsolidasi prasarana dari banyak mesin ke jumlah mesin nan lebih sedikit.
  • Kelebihan: mendukung ekspansi ke pasar Amerika Serikat, termasuk penyebaran terbaru di Dallas, Texas.
  • Tantangan: workload game tetap sensitif terhadap micro-stutter, sehingga proses migrasi dan konsolidasi kudu dikelola hati-hati.
  • Tantangan: kebutuhan ruang info center dan alokasi daya tetap menjadi halangan ketika permintaan tumbuh cepat.

Dorong Ekspansi ke Amerika Serikat

Charles mengatakan ekspansi jangkauan di Amerika Serikat menjadi area pertumbuhan utama Shockbyte saat ini. Prosesor AMD EPYC 9555P disebut nyaris seluruhnya dikirim ke Amerika, dengan penyebaran terbaru berada di Dallas, Texas.

“Mampu mengonsolidasikan ke dalam dua rak apa nan sebelumnya memerlukan enam hingga delapan rak memungkinkan kami untuk memanfaatkan apa nan tersedia secara maksimal,” kata Charles.

Dengan kebutuhan server gim online nan terus meningkat, strategi Shockbyte menunjukkan bahwa performa CPU bukan hanya soal kecepatan mentah. Untuk upaya prasarana game, kombinasi single-thread cepat, jumlah core besar, kapabilitas memori tinggi, dan efisiensi daya menjadi fondasi krusial untuk menjaga pengalaman pemain tetap mulus sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia