
Shanghai menjadi salah satu kota terdampak paling parah oleh Topan Dolphin.
JAKARTA - Topan Dolphin nan melanda China pekan lampau membawa angin dan hujan nan merendam sejumlah kota di Negeri Tirai Bambu. Situasi ini memperlihatkan pemandangan nan tampaknya bertolak belakang dengan "tata kelola ekologis" nan digembar-gemborkan Beijing.
Shanghai, pusat finansial China nan gemerlap dan kota nan kerap dipamerkan Partai Komunis China (PKC) sebagai bukti modernisasinya, berubah menjadi waduk dalam hitungan jam. Jalanan berubah menjadi sungai, pintu masuk kereta bawah tanah menjadi air terjun, dan toko-toko mewah di area The Bund kudu menyaksikan peralatan dagangan senilai lebih dari satu juta yuan hanyut terbawa air.
Seharusnya Bisa Ditangani
Kritik mengatakan apa nan terjadi sepenuhnya bisa diprediksi dari model tata kelola nan lebih mengutamakan beton dan kontrol alih-alih prasarana nan betul-betul berfungsi. Mereka mengatakan bahwa meski Topan Dolphin dahsyat, intensitasnya bukanlah sesuatu nan belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala global, dengan kota-kota di Jepang, Taiwan, dan wilayah Asia lainnya secara rutin menghadapi angin besar dengan kekuatan serupa tanpa berujung pada kekacauan.
Yang membikin Dolphin menjadi musibah besar di China adalah kombinasi antara curah hujan ekstrem dan pengabaian prasarana selama berpuluh-puluh tahun.
Dilansir Khabarhub, Jumat (21/8/2026), stasiun cuaca pusat Shanghai mencatat curah hujan sekitar 313 hingga 316 milimeter dalam waktu 24 jam—sebuah rekor nan melampaui catatan sejak stasiun tersebut mulai mendata cuaca pada tahun 1873, lebih dari 150 tahun nan lalu. Lebih dari satu juta orang dievakuasi di wilayah China timur, nyaris 950 penerbangan dibatalkan di dua airport Shanghai, dan seluruh distrik seperti Jiading serta Qingpu terendam air selama berhari-hari.
Supermarket di lantai bawah tanah kebanjiran hingga menyerupai akuarium. Seorang pemilik toko, nan baru setahun sebelumnya menginvestasikan seluruh tabungannya untuk usahanya, menceritakan gimana dia menyaksikan air banjir naik hingga ke lantai tiga dan melenyapkan segala sesuatu nan telah dia bangun.
Semua ini bukanlah perihal baru. Skenario serupa pernah terjadi di Zhengzhou pada 2021, ketika angin besar "sekali dalam seribu tahun" menewaskan ratusan orang nan terjebak di dalam terowongan kereta bawah tanah nan terendam banjir. Hal nan sama juga terjadi di Beijing pada 2023, saat sisa-sisa Topan Doksuri menewaskan puluhan orang dan memaksa pemerintah untuk sengaja membanjiri kota nan lebih kecil, Zhuozhou, demi menyelamatkan ibu kota—sebuah keputusan nan memicu kemarahan publik.
Setiap kali, para pejabat menjanjikan reformasi. Setiap kali pula, angin besar berikutnya datang dan kota-kota kembali tenggelam.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·