Setiap Anak Memiliki Kebutuhan Belajar yang Berbeda

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Seorang pembimbing sedang mendengarkan muridnya dengan seksama (Foto Pribadi)

Ada seorang siswa nan sampai hari ini tetap sering saya ingat. Ia bukan siswa nan paling pandai di kelas, bukan pula nan paling sering membikin masalah. Namun nyaris setiap hari namanya muncul dalam pikiran saya lantaran satu argumen sederhana: dia tidak pernah bisa tak bersuara terlalu lama.

Ketika teman-temannya duduk mendengarkan pelajaran, dia sering berdiri. Saat aktivitas belajar berlangsung, dia kerap melangkah ke sana kemari. Tidak jarang dia terlihat lebih tertarik berbincang dengan orang lain daripada memperhatikan penjelasan pembimbing di depan kelas.

Sebagai guru, saya pernah menganggap perilaku itu sebagai masalah nan kudu segera diperbaiki. Saya mencoba beragam langkah agar dia lebih tenang dan lebih lama duduk di tempatnya. Namun suatu hari saya melakukan sesuatu nan selama ini justru tidak pernah saya lakukan. Saya bertanya kepadanya, “Kamu lebih suka belajar seperti apa?”

Ia berakhir bergerak, menatap saya beberapa saat, lampau menjawab dengan sangat serius, “Sambil ngobrol, Pak. Saya lebih ngerti jika sembari ngobrol.”

Jawaban itu sederhana, tetapi saya terdiam cukup lama setelah mendengarnya. Bukan lantaran terkejut, melainkan lantaran saya baru menyadari bahwa selama ini saya lebih sibuk mencari langkah agar dia menyesuaikan diri dengan kelas daripada berupaya memahami gimana dia belajar.

Pengalaman itu mengubah langkah saya memandang murid-murid di kelas. Selama bertahun-tahun, saya memahami istilah anak berkebutuhan unik sebagaimana kebanyakan orang memahaminya, ialah anak-anak nan mempunyai kondisi tertentu dan memerlukan jasa pendidikan nan berbeda dari anak lainnya. Pemahaman itu tentu tidak salah. Anak-anak dengan autisme, disleksia, down syndrome, dan beragam kondisi lainnya memang memerlukan support nan nyata. Orang tua dan pembimbing nan mendampingi mereka menjalani perjuangan nan tidak ringan dan layak mendapatkan penghargaan nan besar.

Namun siswa nan berdiri di hadapan saya hari itu tidak mempunyai pemeriksaan apa pun. Kemampuan akademiknya cukup baik dan dia diterima oleh teman-temannya. Akan tetapi, rupanya dia mempunyai kebutuhan belajar nan selama ini tidak saya lihat. Ia lebih mudah memahami sesuatu melalui percakapan dan hubungan dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan. Sejak saat itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak anak lain nan sebenarnya mempunyai kebutuhan serupa, tetapi tidak pernah kita ketahui lantaran kita tidak pernah bertanya?

Semakin lama mengajar, semakin saya menyadari bahwa setiap anak datang ke sekolah dengan langkah belajar nan berbeda-beda. Ada anak nan berkembang melalui diskusi, ada nan memerlukan suasana tenang untuk berpikir, ada nan menyukai tantangan, dan ada nan memerlukan support lebih untuk membangun kepercayaan diri. Ada anak nan perlu bergerak agar tetap fokus, sementara anak lain memerlukan struktur dan rutinitas nan jelas agar merasa aman. nan berbeda bukan hanya keahlian mereka, tetapi juga langkah mereka memahami bumi dan langkah mereka belajar.

Sayangnya, sistem pendidikan sering kali dibangun dengan dugaan bahwa sebagian besar anak bakal belajar dengan langkah nan sama. Kurikulum, target, ritme pembelajaran, apalagi ukuran keberhasilan sering dirancang secara seragam untuk anak-anak nan sesungguhnya sangat beragam. Ketika ada anak nan tidak cocok dengan pola tersebut, perhatian kita sering kali langsung tertuju pada kekurangan nan tampak pada diri anak itu. Kita bertanya kenapa dia tidak bisa mengikuti. Kita mencari langkah agar dia menyesuaikan diri. Padahal mungkin pertanyaan nan lebih krusial adalah apakah langkah kita mengajar sudah cukup lentur untuk mengakomodasi keragaman mereka.

Perubahan pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Ketika kita berakhir memandang perbedaan sebagai masalah, kita mulai melihatnya sebagai informasi. Ketika kita berakhir bertanya kenapa seorang anak tidak seperti teman-temannya, kita mulai bertanya apa nan dibutuhkan anak tersebut untuk berkembang. Pergeseran langkah pandang inilah nan menurut saya menjadi inti dari pendidikan nan lebih manusiawi.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa pembimbing kudu bisa memenuhi seluruh kebutuhan setiap siswa secara sempurna. Guru mempunyai keterbatasan waktu, energi, jumlah murid, dan beragam tuntutan pekerjaan nan tidak sedikit. Namun perubahan besar sering kali dimulai dari langkah nan sederhana, ialah kemauan untuk mengenal siswa lebih dalam. Murid nan lebih suka belajar sembari mengobrol itu mengajarkan sesuatu nan tidak saya temukan dalam training mana pun. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan semata-mata proses membikin anak menyesuaikan diri dengan sistem, melainkan juga proses memahami manusia nan sedang bertumbuh.

Karena itulah saya mulai memaknai inklusi secara berbeda. Inklusi bukan hanya tentang menerima anak-anak tertentu nan secara resmi dikategorikan berbeda. Inklusi adalah kesediaan untuk menerima realita bahwa keragaman merupakan kondisi normal di setiap ruang kelas. Setiap tahun, murid-murid baru terus mengajarkan pelajaran nan sama kepada saya: bahwa tugas pembimbing bukan mencetak manusia dalam corak nan seragam, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, setiap anak membawa kebutuhan belajar nan unik. Mereka mungkin tidak semuanya memerlukan pemeriksaan alias jasa khusus, tetapi masing-masing memerlukan pendekatan nan berbeda agar dapat berkembang secara optimal. Pertanyaannya bukan lagi apakah anak-anak itu berbeda. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita cukup mengenal mereka untuk memahami perbedaan tersebut?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan