Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya menegaskan intensitas kunjungan luar negeri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dilakukan sebagai bagian dari strategi diplomasi untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah situasi dunia nan penuh ketidakpastian.
Pernyataan itu disampaikan Teddy melalui unggahan akun IG @sekretariat.kabinet, Senin (1/6), saat menjelaskan beragam kritik mengenai gelombang perjalanan luar negeri Presiden dalam satu separuh tahun terakhir.
Menurut Teddy, Prabowo mulai memimpin Indonesia di tengah beragam bentrok internasional nan terus berkembang. Ia menilai kondisi tersebut menuntut setiap pemimpin bumi membangun hubungan nan erat dengan negara lain.
"Kemudian nan keempat, masalah protokoler dan gelombang ke luar negeri dalam satu separuh tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru nan mulai menjabat saat bumi sedang krisis. Sebelumnya ada bentrok di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE dan lain sebagainya," kata Teddy.
Teddy mengatakan diplomasi tidak dapat dilakukan secara instan ketika sebuah negara menghadapi krisis. Karena itu, hubungan antar pemimpin bumi perlu dibangun sejak awal melalui komunikasi nan intensif dan kedekatan personal.
"Jadi setiap pemimpin tentunya kudu bangun hubungan nan dekat antar pemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa hubungan baik antarnegara kudu dirawat secara berkepanjangan agar dapat memberikan faedah ketika muncul situasi darurat di masa depan.
"Kita kudu panen hubungan nan baik. Lalu jika suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta support dan begitu pula sebaliknya," terang dia.
Menurut Teddy, diplomasi juga memerlukan kedekatan emosional antar pemimpin nan dibangun baik melalui pertemuan terbuka maupun komunikasi tertutup.
"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi," imbuhnya.
Karena itu, Teddy menilai dugaan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya berkarakter seremonial tidak tepat. Ia menegaskan beragam lawatan nan dilakukan Prabowo mempunyai tujuan strategis dan menghasilkan capaian konkret bagi Indonesia.
"Jadi salah besar jika dibilang hanya gagah-gagahan seremonial. Jadi kita kudu lihat apa nan sudah dicapai dalam satu separuh tahun terakhir ini," tandas dia.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·