Ilustrasi(magnifik)
SERING terbangun di malam hari lantaran mau buang air kecil kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi nan dikenal sebagai nocturia ini bisa menjadi salah satu tanda benign prostatic hyperplasia (BPH) alias pembesaran prostat jinak, terutama pada laki-laki berumur di atas 50 tahun. Jika terjadi berulang dan mengganggu kualitas tidur, indikasi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), pembesaran prostat merupakan masalah prostat nan paling umum dialami laki-laki lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, ukuran prostat dapat membesar dan menekan saluran kemih (uretra), sehingga aliran urine menjadi terganggu dan kandung kemih kudu bekerja lebih keras untuk mengeluarkan urine.
Salah satu indikasi nan paling sering muncul adalah nocturia, ialah kondisi ketika seseorang kudu bangun satu kali alias lebih setiap malam untuk buang air kecil.
Selain itu, penderita BPH juga dapat mengalami aliran urine nan lemah, susah memulai buang air kecil, rasa tidak tuntas setelah berkemih, hingga kemauan buang air mini nan datang tiba-tiba.
NIDDK menjelaskan bahwa pembesaran prostat tidak selalu berasosiasi dengan kanker prostat.
Namun, indikasi nan muncul tetap memerlukan pemeriksaan medis lantaran keluhan serupa juga dapat disebabkan oleh jangkitan saluran kemih, prostatitis, maupun penyakit lain pada saluran kemih. Oleh lantaran itu, laki-laki nan mengalami gangguan berkemih secara terus-menerus dianjurkan segera berkonsultasi dengan master untuk mendapatkan pemeriksaan nan tepat.
Selain mengganggu kualitas tidur, nocturia nan tidak ditangani juga dapat berakibat pada kesehatan secara keseluruhan. Penelitian nan dipublikasikan melalui PubMed menyebut bahwa nocturia merupakan salah satu indikasi saluran kemih bawah nan paling sering dikeluhkan laki-laki dengan BPH.
Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kelelahan pada siang hari, tetapi juga dikaitkan dengan meningkatnya akibat jatuh pada lansia serta penurunan kualitas hidup.
Risiko pembesaran prostat meningkat seiring bertambahnya usia. Data Urologic Diseases in America Annual Data Report 2024 menunjukkan bahwa BPH dialami sekitar 5-6 persen laki-laki usia 40-64 tahun, dan meningkat menjadi 29-35 persen pada laki-laki berumur 65 tahun ke atas.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa indikasi seperti sering buang air kecil, rasa mau berkemih mendadak, dan nocturia merupakan keluhan nan paling sering ditemukan pada penderita BPH.
Apabila indikasi tetap ringan, master biasanya menyarankan perubahan style hidup, seperti mengurangi konsumsi minuman berkafein alias beralkohol pada malam hari, membatasi asupan cairan sebelum tidur, serta menjaga aktivitas fisik. Namun, jika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari alias menyebabkan retensi urine, pengobatan maupun tindakan medis mungkin diperlukan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, sering bangun malam untuk buang air mini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai perihal nan wajar.
Mengenali indikasi sejak awal dan melakukan pemeriksaan dapat membantu mencegah komplikasi serta menjaga kualitas hidup, terutama pada laki-laki nan memasuki usia paruh baya dan lanjut usia.
Sumber: National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·