Delapan penduduk negara Indonesia (WNI) diduga direkrut menjadi tentara penghasilan Rusia. Para WNI itu berasosiasi dengan militer Rusia disebut lantaran dijanjikan penghasilan tinggi.
Dirangkum detikcom, Rabu (2/9/2026), berita tentang delapan WNI menjadi tentara penghasilan Rusia ini dirilis Foreign Intelligence Service of Ukraine (FISU) alias Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina.
"Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina telah memperoleh arsip tentang setidaknya delapan penduduk negara Indonesia nan direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan RF," demikian pernyataan FISU di situs resminya, dikutip detikcom, Selasa (1/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini serba-serbi mengenai delapan WNI menjadi tentara Rusia:
1. Daftar Nama 8 WNI Jadi Tentara Rusia
Dalam rilisnya, Intelijen Ukraina membeberkan info identitas delapan WNI nan disebut berasosiasi dengan tentara Rusia. Ini daftar namanya:
1. Yuda Putra Pratama (kelahiran 9 Agustus 1997)
2. Haryanto Dwi Kencana (kelahiran 14 Juli 1983)
3. Erwanda (kelahiran 5 Agustus 1988)
4. Ngangun Hudri Fadli (kelahiran 17 Sptember 1978)
5. Muhammad Syaripudin (kelahiran 3 Agustus 1994)
6. M Hadi Maulana (kelahiran 7 April 1987)
7. Wahyu Oktavian Iskandar (kelahiran 22 Oktober 1985)
8. Helmi Nuraha Hakim (kelahiran 27 Januari 1983)
2. WNI Dijanjikan Bayaran Tinggi
Intelijen Ukraina mengungkap delapan WNI direkrut menjadi tentara penghasilan Rusia. Para WNI itu berasosiasi menjadi bagian militer Rusia dengan iming-iming janji penghasilan tinggi dan tugas non-tempur.
"Janji berupa penghasilan tinggi, tugas non-tempur, percepatan kebangsaan Rusia, dan tunjangan sosial menarik minat orang-orang yang-sering kali-tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka bakal dikirim," tulis FISU.
Intelijen Ukraina mengatakan pola serupa sebelumnya telah diterapkan terhadap penduduk negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Mereka nan direkrut ditempatkan di garis depan peperangan tanpa pelatihan.
"Sebagian besar dari mereka akhirnya ditempatkan di garis depan tanpa training apa pun, dan beberapa di antaranya tewas dalam beberapa minggu pertama," kata FISU.
3. Respons Kemlu RI
Jubir I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, buka bunyi mengenai rilis info Intelijen Ukraina tersebut. Menurutnya, Pemerintah Indonesia mencermati info nan disampaikan otoritas Ukraina mengenai dugaan keterlibatan sejumlah WNI dalam angkatan bersenjata Federasi Rusia.
Yvonne mengatakan Pemerintah RI tengah melakukan verifikasi atas info itu melalui perwakilan RI di Rusia. Dia menyebut Kemlu RI juga berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait.
"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta corak keterlibatan perseorangan nan disebutkan tetap perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne dalam keterangannya, Senin (31/8).
Dia menyebut Indonesia mempunyai ketentuan norma nan jelas mengenai keterlibatan WNI dalam dinas militer negara asing, termasuk konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan. Penerapan ketentuan itu didasarkan pada kebenaran nan telah terverifikasi dan sesuai dengan prosedur norma nan berlaku.
"Pemerintah Indonesia juga bakal mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, alias perekrutan melalui tawaran pekerjaan nan tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya. Apabila terdapat WNI nan menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia bakal mengambil langkah pelindungan nan diperlukan sesuai dengan ketentuan norma nan berlaku," ujarnya.
Yvonne mengimbau agar para WNI berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di wilayah bentrok maupun tawaran nan berpotensi melibatkan mereka dalam aktivitas militer negara asing.
"Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, perihal tersebut merupakan tindakan perseorangan dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia," kata Yvonne.
Lebih jauh, Yvonne menegaskan Indonesia tetap konsisten mendorong penyelesaian tenteram bentrok Rusia dengan Ukraina serta pentingnya penghormatan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB dan norma internasional.
4. Respons Dubes Rusia untuk RI
Intelijen Ukraina menyebut delapan WNI direkrut menjadi tentara penghasilan Rusia. Duta Besar (Dubes) Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan pihaknya tidak merekrut WNI menjadi tentaranya.
"Kantor perwakilan Rusia di manapun di Indonesia sama sekali tidak melakukan rekrutmen untuk angkatan bersenjata Rusia," kata Dubes Tolchenov saat ditemui seusai konvensi pers roadshow Komite Pariwisata Kota Moskow (Mostourism) di Jakarta, dilansir Antara, Selasa (1/9/2026).
Ia tidak memungkiri adanya penduduk negara asing (WNA), seperti pekerja, mahasiswa, dan apalagi visitor nan memutuskan berasosiasi dalam angkatan bersenjata Rusia saat menetap di negara tersebut. Namun, dia mengatakan langkah tersebut menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing individu.
Tolchenov menegaskan, Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di mana pun berada sama sekali tidak terlibat dalam proses rekrutmen WNA ke dalam militer negaranya.
"Diakui memang tak sedikit penduduk negara asing di militer Rusia, tetapi kedutaan besar sama sekali tak terlibat melakukan rekrutmen di dalamnya," ucap dia.
Sementara itu, Tolchenov mengaku telah mengetahui adanya langkah penyelidikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terhadap keberadaan delapan WNI nan diduga berasosiasi ke militer Rusia itu. Dia mengatakan Kedubes Rusia siap membantu proses penyelidikan andaikan diminta Kemlu RI.
"Jika mereka mau menanyakan sesuatu pada kami, tentu saja kami siap memberi penjelasan maupun bekerja sama," kata dia.
(fas/maa)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·