Sepasang sepatu hitam tersimpan di pojok ruangan. Sepatu itu biasanya setiap hari dipakai Mandala Rizky Syaputra (16) untuk pergi ke sekolah dan tempat magangnya.
Sepatu kekecilan itu menjadi saksi bisu sakit dan bengkaknya kaki Mandala hingga akhirnya siswa kelas 2 SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, itu mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (24/4).
Duka kehilangan anak terkasih tetap dirasakan Ibunda Mandala, Ratnasari. Ditemui kumparan di rumah kontrakannya, Ratnasari bercerita bahwa Mandala merupakan anak nan tidak mau merepotkan orang tuanya.
Mandala tahu betul hidupnya jauh dari kenyamanan. Dia berbareng satu kakak dan 3 adiknya kudu hidup dalam kesederhanaan. Ibunya berdagang risoles, sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia.
Ratnasari menuturkan bahwa awalnya anaknya hanya mengeluhkan sakit ringan. Namun, dalam waktu sekitar tiga minggu, pembengkakan di kaki mulai terlihat dan rasa sakit semakin intens, bagian atas kaki mulai membesar.
Meski sakit, Mandala tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk magang. Ia lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat. Keluhan biasanya disampaikan setelah pulang ke rumah.
"Kesusahan apa pun tidak dilihatkan, tetap tersenyum. (katanya) buat apa bawa ke rumah sakit, kaki Mandala hanya pegal-pegal saja. Cuma pas dia berpijak kakinya itu agak sakit," kata Ratnasari kepada kumparan di rumahnya, Selasa (5/5).
Malam sebelum meninggal, Kamis (23/4), Mandala sempat menyampaikan kemauan terakhir untuk mempunyai sepatu baru. Namun, permintaan itu belum dapat dipenuhi oleh Ratnasari lantaran tidak ada uang.
"Siapa orang tua nan tidak mau kemauan anak terakhir itu (dipenuhi)," ucap Ratnasari sembari menitikkan air matanya.
Bahkan di saat itu, Mandala bilang bahwa jika kelak dia sudah selesai PKL dia bisa membeli sepatu sendiri tanpa merepotkan ibunya.
"Anak ini juga sama tidak mau merepotkan orang tua. Dia bilang, 'Mak InsyaAllah ini tetap muat sama Mandala. InsyaAllah jika kelak Mandala selesai PKL kan mandala bisa beli sendiri'," ucap Ratnasari.
Namun ternyata, hingga akhir hayatnya, sepatu baru nan nyaman di kaki itu tidak pernah dirasakan Mandala. Mandala meninggal pada Jumat (24/4) awal hari di rumahnya.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun, saat naik ke kelas 2, ukuran kakinya bertambah menjadi 45. Karena keterbatasan ekonomi, sepatu lama tetap digunakan dengan langkah dimodifikasi menggunakan busa agar terasa lebih longgar.
Kondisi tersebut diperparah saat Mandala menjalani aktivitas magang di pusat perbelanjaan nan mengharuskannya berdiri dalam waktu lama. Selama sekitar satu bulan, keluhan nyeri di kaki semakin memburuk dan menjalar hingga ke pinggang dan kepala.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·