Ilustrasi senjata(Medcom.id)
KOMISIONER Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini beranggapan aktivitas ekstrakurikuler (ekskul) menembak di sekolah tidak terlalu dibutuhkan. Itu disampaikan setelah temuan senjata di sekolah swasta di area Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel).
"Ekskul sebaiknya juga disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa," ujar Diyah di Jakarta, Kamis (13/8).
KPAI, kata dia, mendorong sekolahmengembangkan talenta dan minat siswa melalui beragam aktivitas ekstrakurikuler. Tetapi, ekskul juga kudu mempertimbangkan aspek keamanan serta kondisi peserta didik.
Ekskul menembak dinilai belum terlalu dibutuhkan oleh siswa. Ia mengatakan sekolah dapat mempertimbangkan aktivitas ekstrakurikuler lain nan lebih aman.
"Untuk menembak, sejauh ini belum terlalu dibutuhkan, mungkin bisa ekskul lainnya nan lebih aman," kata dia.
Berdasarkan peninjauan sementara KPAI, sejumlah siswa dinilai memerlukan asesmen dan pendampingan agar tidak mengalami ketakutan untuk kembali berguru menyusul penemuan senjata.
Ia menjelaskan KPAI berbareng Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) DKI Jakarta dan Jakarta Selatan bakal melakukan asesmen kondisi psikologis siswa. KPAI juga berencana melibatkan pekerja sosial untuk memandang kondisi pembimbing dan lingkungan sosial sekolah tersebut. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·