(MI/Seno)
KEMATIAN seekor orang utan berjulukan Sempurna di kebun sawit warga, Desa Laman Satong, Ketapang, Kalimantan Barat, semestinya tidak dibaca sekadar sebagai berita duka konservasi musiman. Ia ditemukan lemas, mendapat support oksigen darurat, sebelum akhirnya meninggal dengan hasil nekropsi mengarah pada dugaan gangguan kegunaan paru akibat paparan asap. Peristiwa ini adalah sinyal biologis nan kandas kita baca sebagai alarm, bukan sekadar buletin duka satwa nan menyayat hati sesaat lampau dilupakan begitu tenggat pemberitaan berlalu.
Selama ini, wacana penanganan karhutla Kalimantan nyaris seluruhnya berputar pada kalkulasi antroposentris: berapa hektare lahan terbakar, berapa juta manusia terpapar ISPA, berapa sekolah diliburkan. Nyawa nonmanusia nan gugur dalam kepungan asap nan sama diperlakukan sebagai catatan kaki ekologis, bukan info epidemiologis nan setara. Padahal, dalam pengetahuan kesehatan lingkungan, kematian Sempurna adalah persis apa nan disebut sebagai kejadian jenis sentinel, sinyal biologis awal atas ancaman nan sesungguhnya juga sedang menggerogoti kesehatan manusia di area nan sama.
SPESIES SENTINEL YANG TERABAIKAN
Konsep jenis sentinel bukan istilah baru dalam sains lingkungan. Ia merujuk pada organisme yang, lantaran kedekatan fisiologis alias posisi ekologisnya, menunjukkan indikasi keracunan lingkungan lebih sigap dan lebih jelas daripada manusia, layaknya burung kenari nan dulu dibawa penambang batu bara untuk mendeteksi gas berbisa sebelum manusia sempat merasakannya.
Orang utan, dengan struktur paru-paru dan sistem pernapasan nan secara evolusioner sangat dekat dengan manusia, adalah kandidat sentinel nan nyaris sempurna untuk polusi udara akibat karhutla. Ketika seekor orang utan dewasa nan sehari-hari hidup di kanopi rimba sampai kudu dievakuasi dalam kondisi kritis akibat udara nan dia hirup, itu adalah bukti empiris bahwa kualitas udara di area tersebut telah melampaui periode pemisah nan bisa ditoleransi sistem pernapasan mamalia besar, periode nan semestinya menjadi peringatan awal bagi manusia nan tinggal tidak jauh dari letak nan sama.
Ironisnya, sistem kesehatan masyarakat kita tidak dirancang untuk mendengarkan sinyal semacam ini. Data kematian dan pemindahan satwa dikelola terpisah oleh lembaga konservasi dan balai taman nasional, sementara info ISPA manusia dikelola Kementerian Kesehatan. Keduanya nyaris tidak pernah dipertemukan dalam satu kerangka kajian nan sama, padahal keduanya adalah indikasi dari satu sumber pencemaran nan identik.
KESENJANGAN PROTOKOL DARURAT
Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan abnormal struktural dalam arsitektur tanggap darurat musibah kita. Ketika ribuan personel gabungan, helikopter water bombing, dan armada modifikasi cuaca dikerahkan untuk memadamkan titik api, protokol pemindahan darurat bagi satwa liar nan terjebak di tengah kepungan asap nyaris tidak mempunyai tempat dalam struktur komando musibah nasional.
Organisasi konservasi seperti pusat rehabilitasi orang utan bergerak dengan sumber daya nan jauh lebih terbatas. Sering kali mereka baru menjangkau perseorangan satwa nan sudah dalam kondisi kritis, seperti nan dialami Sempurna, lantaran tidak ada sistem peringatan awal nan menghubungkan pemantauan kualitas udara dengan wilayah jelajah populasi satwa dilindungi. Padahal, secara teknis, info sebaran hotspot dan model dispersi asap nan sudah dimiliki BNPB dan BMKG bisa dengan mudah di-overlay-kan dengan peta area jelajah orang utan nan sudah dipetakan lembaga konservasi selama bertahun-tahun.
MERANGKUL KERANGKA ONE HEALTH
Kerangka nan paling relevan untuk menjembatani kesenjangan ini adalah pendekatan one health, sebuah paradigma nan secara definitif mengakui bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan ekosistem adalah satu kesatuan nan tidak bisa dikelola secara terpisah. Pendekatan ini sudah diadopsi secara dunia untuk menangani ancaman lintas jenis seperti zoonosis, tetapi nyaris tidak pernah diintegrasikan ke dalam arsitektur penanggulangan musibah karhutla di Indonesia.
Mengintegrasikan one health ke dalam manajemen musibah karhutla berfaedah tiga perihal konkret. Pertama, info kematian dan pemindahan satwa dilindungi perlu masuk sebagai salah satu parameter resmi dalam sistem peringatan awal kualitas udara nasional, sejajar dengan info ISPA manusia. Kedua, area jelajah satwa dilindungi seperti kediaman orang utan perlu mendapat prioritas dalam pemetaan area modifikasi cuaca dan sekat kanal pembasahan gambut, bukan diperlakukan sebagai wilayah residual di luar prioritas pemadaman. Ketiga, lembaga konservasi perlu diberi akses resmi ke rantai komando darurat musibah nasional, bukan bergerak sendirian dengan sumber daya seadanya seperti nan terjadi pada kasus Sempurna.
Kematian seekor orangutan di kebun sawit Ketapang tidak bakal mengubah kebijakan apa pun jika kita terus memperlakukannya sebagai kejadian konservasi nan berdiri sendiri. Namun, jika kita bersedia membaca kematian itu sebagai apa adanya, sinyal biologis dari sistem ekologi nan sama-sama kita hirup, maka Sempurna bisa menjadi titik kembali untuk membangun arsitektur tanggap darurat karhutla nan betul-betul menyatukan kesehatan manusia dan nonmanusia dalam satu kerangka nan utuh, bukan dua bumi paralel nan hanya berjumpa dalam buletin duka.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·