Seminar Internasional ITL Trisakti Dorong Penguatan Konektivitas Logistik Asia, Timur Tengah, dan Eropa

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Seminar Internasional ITL Trisakti Dorong Penguatan Konektivitas Logistik Asia, Timur Tengah, dan Eropa Ilustrasi(MI/FICKY RAMADHAN)

INSTITUT Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti menggelar seminar internasional berjudul "Strategic Connectivity and International Trade Corridors" nan mempertemukan akademisi, pemerintah, dan perwakilan diplomatik untuk membahas penguatan konektivitas logistik regional melalui jaringan transportasi multimoda nan menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Seminar tersebut mengangkat rumor transformasi rantai pasok dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, perubahan pola perdagangan internasional, perkembangan teknologi, hingga tuntutan pembangunan berkelanjutan. Para pembicara menilai penguatan koridor perdagangan internasional menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok global.

Rektor ITL Trisakti, Yuliantini mengatakan bahwa perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia nan bisa menjawab tantangan industri transportasi dan logistik nan semakin berkarakter global.

"ITL Trisakti datang untuk mempersiapkan tenaga ahli nan andal di bagian transportasi, logistik, dan teknik kedirgantaraan, bidang-bidang nan pada hakikatnya menuntut wawasan global," kata Yuliantini di Gedung ITL Trisakti, Jakarta, Selasa (14/7).

Menurutnya, perubahan geopolitik dan dinamika ekonomi bumi menjadikan pemahaman terhadap koridor perdagangan internasional sebagai kompetensi nan kudu dimiliki calon ahli logistik.

"Rantai pasok dunia menghadapi pergeseran geopolitik nan belum pernah terjadi sebelumnya serta lanskap ekonomi nan berubah sangat cepat. Karena itu, pemahaman mengenai jalur strategis seperti International North-South Transport Corridor (INSTC) beserta jaringan transportasi multimoda nan saling terhubung di dalamnya menjadi sangat penting. Hal tersebut bukan lagi sekadar topik akademis, melainkan realitas nan kudu dikuasai para ahli logistik masa depan," ujarnya.

Yuliantini berambisi seminar tersebut menjadi awal penguatan kerja sama antara ITL Trisakti dan Kedutaan Besar Republik Islam Iran, khususnya dalam bagian pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia sektor transportasi dan logistik.

Daya  Saing

Sementara itu, Koordinator Staf Khusus (Korsus) Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali, menilai bahwa konektivitas telah berkembang menjadi aspek strategis nan menentukan daya saing sebuah negara maupun kota di tengah perubahan ekonomi global.

"Belum pernah sebelumnya bumi menjadi sedemikian saling terhubung, namun pada saat nan sama juga begitu rentan terhadap beragam gangguan. Ketegangan geopolitik, perubahan dinamika perdagangan, pesatnya kemajuan teknologi, serta perubahan suasana secara mendasar sedang membentuk kembali langkah negara-negara memproduksi, berdagang, dan bekerja sama," kata Firdaus.

Ia menegaskan bahwa konektivitas saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai pembangunan jalan, pelabuhan, bandar udara, alias jalur kereta api.

"Konektivitas telah menjadi aset strategis nan menentukan daya saing ekonomi, daya tarik investasi, ketahanan rantai pasok, dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat. Negara dan kota nan bisa mengintegrasikan infrastruktur, logistik, digitalisasi, serta kemitraan internasional bakal berada pada posisi nan lebih baik dalam menghadapi ketidakpastian global," ucapnya.

Firdaus menambahkan Jakarta bakal terus memperkuat posisinya sebagai Kota Global dengan membangun ekosistem nan mendukung perdagangan, investasi, inovasi, dan sistem logistik nan efisien sekaligus berkelanjutan.

Jaringan perdagangan internasional

Dalam kesempatan nan sama, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menekankan bahwa pembangunan ekonomi modern semakin ditentukan oleh keahlian suatu negara membangun konektivitas dengan jaringan perdagangan internasional.

"Hari ini, lebih dari masa-masa sebelumnya, pembangunan ekonomi negara-negara sangat berjuntai pada tingkat konektivitas mereka dengan jaringan perdagangan global. Konektivitas tidak lagi hanya terbatas pada pembangunan jalan, pelabuhan, alias jalur kereta api, tetapi juga mencakup integrasi transportasi multimoda, teknologi digital, fasilitasi perdagangan, kerja sama kepabeanan, serta pengharmonisan izin antarnegara," ujar Boroujerdi.

Ia menjelaskan lebih dari 80 persen perdagangan peralatan bumi tetap diangkut melalui jalur laut sehingga pengembangan koridor perdagangan dan konektivitas antarmoda menjadi prasyarat utama bagi peningkatan perdagangan internasional.

Menurut Boroujerdi, area Asia, Timur Tengah, dan Eropa sekarang berkembang menjadi salah satu poros konektivitas dunia nan paling strategis. Dalam konteks tersebut, Indonesia dan Iran mempunyai posisi nan saling melengkapi.

"Indonesia merupakan negara maritim terbesar di Asia Tenggara dengan posisi strategis di Samudra Hindia dan Pasifik, sementara Iran berada di persimpangan Teluk Persia, Laut Oman, Laut Kaspia, Asia Tengah, dan Kaukasus. Sinergi kedua negara dapat melahirkan model kerja sama baru nan mengintegrasikan transportasi laut, kereta api, dan jalan raya dalam satu jaringan transportasi multimoda," katanya.

Boroujerdi menilai integrasi tersebut bakal mempercepat arus perdagangan sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok global.

"Pendekatan ini tidak hanya memangkas waktu dan biaya pengiriman barang, tetapi juga meningkatkan ketahanan rantai pasok dalam menghadapi krisis geopolitik serta membuka kesempatan baru bagi perdagangan, investasi, dan kerja sama industri antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa," tuturnya.

Ia secara unik menyoroti peran International North-South Transport Corridor (INSTC) sebagai salah satu koridor perdagangan paling strategis di kawasan. Koridor tersebut menghubungkan India, Iran, Rusia, area Kaukasus, hingga Eropa melalui kombinasi transportasi laut, kereta api, dan jalan raya.

"INSTC bisa memangkas waktu pengiriman peralatan hingga sekitar 40 persen dan menurunkan biaya perdagangan sebesar 30 hingga 40 persen. Keunggulan ini menjadikannya salah satu rute transit paling kompetitif nan menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa," jelasnya.

Selain INSTC, Boroujerdi juga menyoroti pentingnya Pelabuhan Chabahar sebagai pintu gerbang logistik nan menghubungkan area Samudra Hindia dengan Asia Tengah, Kaukasus, hingga Eropa.

Menurutnya, pelabuhan tersebut mempunyai potensi menjadi pusat pengedaran regional lantaran terhubung dengan jaringan kereta api, jalan raya, area perdagangan bebas, serta sistem kepabeanan nan terus dikembangkan.

"Iran tidak lagi sekadar menjadi negara transit, tetapi berkembang menjadi pusat logistik dan penghubung strategis nan mengintegrasikan pelabuhan, jaringan kereta api, jalan raya, area perdagangan bebas, dan sistem kepabeanan digital," katanya.

Boroujerdi menilai Indonesia dapat memanfaatkan koridor tersebut untuk memperluas akses ekspor menuju pasar Timur Tengah, Asia Tengah, Kaukasus, hingga Eropa.

"Kerja sama Indonesia dan Iran di bagian kepelabuhanan, pelayaran, logistik, transportasi multimoda, area perdagangan bebas, dan fasilitasi kepabeanan dapat menciptakan rute komplementer bagi perdagangan Selatan-Selatan sekaligus memperkuat konektivitas Asia dengan Timur Tengah dan Eropa," ujarnya.

Melalui seminar internasional ini, ITL Trisakti berambisi lahir beragam pendapat dan kerjasama konkret nan dapat memperkuat konektivitas perdagangan internasional, meningkatkan efisiensi sistem logistik global, serta mendorong pembangunan transportasi nan tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia