
Penggunaan wasit asing di semifinal IBL 2026 tidak lepas dari kontroversi (Foto: IBL)
BABAK semifinal IBL 2026 menghadirkan persaingan sengit dan kualitas permainan nan tinggi. Namun, sejumlah keputusan perwasitan kembali menjadi sorotan publik, pelatih, pemain, dan peNcinta basket Indonesia.
Kehadiran wasit asing diharapkan dapat meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kecermatan pengambilan keputusan. Namun, beberapa kejadian di semifinal justru menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas langkah tersebut.
1. Game-Game Bermasalah

Game 1 Pelita Jaya Jakarta vs Dewa United Banten
Pada possession terakhir pertandingan, terjadi kontak antara Troy Gillenwater dan Perrin Buford sebelum terciptanya poin penentu kemenangan. Banyak pihak menilai terdapat dorongan nan berpotensi dikategorikan sebagai offensive foul, namun pelanggaran tersebut tidak ditiup.
Game 2 Pelita Jaya Jakarta vs Dewa United Banten
Pelatih Kepala Dewa United Agustin Julbe Bosch menerima technical foul pada babak pertama. Keputusan tersebut memunculkan perdebatan lantaran dinilai diberikan tanpa adanya tahapan warning nan jelas sebelumnya.
Game 1 Satria Muda Bandung vs Bogor Hornbills
Pelatih Kepala Bogor Hornbills, Coach Cesar Camara Perez, menerima technical foul yang memunculkan tanda tanya. Bahkan komentator pertandingan turut mempertanyakan dasar keputusan tersebut.
Game 1 Satria Muda Bandung vs Bogor Hornbills
Muncul pertanyaan mengenai apakah Daniel Wenas telah memberikan ruang pendaratan (landing space) nan kondusif bagi Shandy Ibrahim sesuai interpretasi patokan modern nan melindungi pemain saat melakukan tembakan.
Keempat kejadian tersebut bukan soal tim mana nan diuntungkan alias dirugikan, melainkan soal konsistensi penerapan patokan dan standar pengambilan keputusan di level tertinggi bola basket Indonesia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·