Semangat Belajar Anak-anak Korban Banjir Aceh di Rumoh Harapan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Rak kayu di perspektif ruangan sekolah itu tetap terlihat lusuh. Ada bekas-bekas lumpur di setiap sudutnya. Buku-buku pelajaran nan biasanya tersusun di sana, sekarang tak terlihat lagi. Semua hanyut saat banjir bandang menerjang.

Kepala Sekolah MIN 4 Zulkarnaeni menceritakan, banjir bandang menyisakan endapan lumpur setinggi 1,5 meter. Kondisi terparah terjadi di gedung kelas lama. Bangku-bangku berserakan. Lantai berselimut lumpur.

"Enam lokal (ruang kelas) termasuk instansi tidak bisa kami pakai. Itu 1,5 meter lumpur semua," kata Zulkarnaeni.

Tidak hanya kitab pelajaran nan hanyut, rapor apalagi seragam siswa juga banyak nan hilang. Kondisi ini membikin proses belajar mengajar di sana sempat berjalan ala kadarnya.

Diakui Zulkarnaeni, penyaluran support saat itu terkendala akses jalan nan dipenuhi endapan lumpur. Tidak ada jalur nan aman. Kendaraan tidak bisa melintas. Hanya bisa dilewati dengan jalan kaki.

Kondisi ini berjalan untuk beberapa hari. Hingga akhirnya perangkat berat dikerahkan membuka kembali akses jalan.

"Satu bulan setelah banjir, pertama kali dibersihkan gedung baru sekolah. Untuk gedung lama tifak bisa, kita minta support perangkat berat," ucapnya.

Menurutnya, support nan pertama kali diterima berasal dari Dompet Dhuafa. Pihak sekolah mendapatkan kitab paket sekolah dan perlatan penunjang pendidikan.

"Peralatan sekolah,, kitab tulis, tas, Alquran dan Dompet Dhuafa," bebernya.

Sementara itu, salah satu pembimbing nan mengajar di MIN 4 menjelaskan bahwa support nan diberikan dari Dompet Dhuafa merupakan nan pertama datang dam diterima.

"Kami belum ada support dari nan lain saat itu. Iya (baru dari Dompet Dhuafa saat itu) nan pertama. Alhamdulillah kami sangat terbantu dengan Dompet Dhuafa. Ada ruang kelas, perlengkapan perangkat tulis," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita