Semakin Jujur, Semakin Viral?: Menelisik Fenomena Konten Curhat di Media Sosial

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

"Maaf ya, saya hanya mau jujur..."

Belakangan, media sosial semakin dipenuhi oleh konten-konten nan "akhirnya buka suara". Ada pembuat nan mengaku mengalami burnout setelah bertahun-tahun bekerja tanpa henti. Ada akun nan menceritakan kegagalan bisnisnya, konflik relasi personal, ada pula nan membagikan sisi hidup nan selama ini disembunyikan.

Menariknya, cerita-cerita individual seperti ini nyaris selalu memikat perhatian khalayak. Ribuan komentar berdatangan. Video dibagikan berkali-kali.

Tidak sedikit pula nan justru mendapatkan lebih banyak pengikut setelah berani menunjukkan sisi rapuhnya. Ini sejalan dengan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 nan menyatakan bahwa kebanyakan pengguna internet di Indonesia doyan memandang konten hiburan, salah satunya konten infotainment/gosip.

Fenomena tersebut kemudian membawa kesan bahwa semakin jujur cerita individual seseorang di media sosial, semakin relate pengalamannya dengan audiens, maka semakin tinggi pula kesempatan viralnya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menggelitik; Apakah media sosial sedang mendorong kita menjadi lebih jujur dan autentik? Atau konten autentik justru jadi sebuah strategi di bumi digital?

Beberapa waktu lalu, media sosial identik dengan konten liburan, kesuksesan, alias kehidupan nan tampak sempurna. Dulu orang berlomba-lomba untuk bisa memperlihatkan kehidupan terbaiknya; tubuh ideal, liburan mewah, hidup kaya dan bahagia, serta relasi individual nan tampak sempurna.

Namun saat ini situasinya berubah. Kerentanan, kesedihan, dan perjuangan hidup menjadi corak konten individual nan banyak mendapatkan empati dan komentar positif. Bukan berfaedah pencitraan sudah hilang, nan berubah hanya bentuknya.

Ilustrasi curhat masalah pribadi di media sosial Foto: Shutterstock

Di perspektif pengetahuan komunikasi, teori dramaturgi milik Erving Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial menyerupai sebuah panggung. Di hadapan orang lain, nan disebut sebagai front stage, kita menampilkan jenis terbaik dari diri kita. Kita menentukan langkah berpakaian, berbicara, lampau kisah mana nan dibagikan kepada orang lain.

Media sosial, menurut Teng (2025), telah memperluas “panggung” tersebut. Proses mengelola kesan alias impression management menjadi semakin krusial lantaran penontonnya tidak lagi belasan orang, melainkan ribuan alias apalagi jutaan pengguna.

Maka dari itu, sebelum unggahan dipublish, terdapat banyak keputusan nan dipilih; cerita mana nan mau dibagikan, foto mana nan bisa digunakan, kalimat apa nan menarik untuk disampaikan, sampai pada penentuan waktu terbaik untuk mengunggahnya. Dapat dikatakan pula bahwa cerita nan paling jujur sekalipun tetap melewati proses penyuntingan dari si pemilik konten.

Inilah nan menjadi paradoks komunikasi digital hari ini. Konten nan terlihat spontan, jujur, dan apa adanya dianggap sebagai konten nan autentik di media sosial. Padahal di kembali layar, terdapat proses memilah, menentukan, serta menyusun cerita agar lebih menarik dan dipahami oleh audiens.

Di sisi lain, algoritma platform media sosial berkedudukan krusial dalam memberikan ruang nan lebih besar pada konten nan memancing interaksi. Cerita nan “relate”, lampau memancing komentar, simpati, maupun obrolan biasanya berkesempatan meraih audiens nan lebih luas.

Penggunapun kemudian belajar bahwa cerita nan terasa individual seringkali “berhasil” dan viral. Autentisitas akhirnya tidak menjadi kondisi nan spontan, melainkan merupakan hasil dari sebuah keputusan komunikasi.

Ilustrasi wanita curhat Foto: Shutterstock

Tentu, banyak cerita dari pengalaman individual nan memang lahir dari ketulusan seseorang untuk berbagi pengalaman, memperoleh dukungan, serta memberikan pelajaran positif bagi orang lain. Namun kita juga perlu menyadari bahwa di panggung media sosial, semakin individual kontennya, semakin terasa “real” dan relate ceritanya, maka semakin besar peluangnya memperoleh perhatian algoritma.

Ketika kejujuran terus mendapatkan atensi, kejujuran juga dapat menjadi sebuah strategi komunikasi dalam mengupayakan jangkauan dan kedekatan dengan audiens.

Di era algoritma, setiap unggahan merupakan hasil keputusan komunikasi nan dibangun, disusun, dan ditunjukkan di atas panggung digital nan disebut media sosial.

Maka kita perlu lebih bijak dalam membagikan cerita, sekaligus lebih kritis ketika mengonsumsi cerita orang lain. Literasi digital hari ini bukan hanya bisa membedakan info betul dan salah, namun memahami bahwa setiap konten, apalagi konten nan jujur dan autentik, ada proses presentasi diri nan perlu kita telaah secara kritis dan menyeluruh.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan