Sekolah Rakyat Selamatkan Anak Yatim yang Sempat Putus Sekolah dan Hobi Tawuran

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Siswa kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, usai berpidato bahasa Inggris di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Foto: Dok. Istimewa

Di usia senjanya nan telah menginjak 74 tahun, Ibu Welas tak lagi bisa berdagang sayur keliling seperti dulu. Namun, satu perihal nan tetap dia genggam erat adalah harapan: masa depan cucunya, Julio.

Julio bukan anak dengan jalan hidup nan mudah. Sejak berumur satu tahun, dia telah kehilangan ayahnya nan meninggal akibat penyakit virus tikus setelah membersihkan selokan. Sejak itu, Julio tumbuh dalam didikan neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Perjalanan pendidikannya pun sempat terhenti. Setelah berguru hingga kelas 3 SD, Julio memilih berhenti. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, berbaur bebas, apalagi terlibat dalam perilaku kenakalan seperti lempar-lemparan batu hingga membawa senjata tajam berbareng teman-temannya.

“Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu alias pisau (tawuran),” tutur Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4).

Kondisi itu membikin sang nenek khawatir. Dengan segala keterbatasan, dia berupaya mencari jalan agar cucunya kembali ke bangku pendidikan. Hingga akhirnya, Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sekolah berasrama cuma-cuma nan diinisiasi Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk anak family miskin ekstrem.

Welas berterima kasih cucunya bisa ikut Sekolah Rakyat. Foto: Bakom RI

Perubahan mulai terlihat. Julio nan dulu dikenal susah diatur sekarang menunjukkan sikap nan jauh lebih tenang. Ia kembali menikmati proses belajar, apalagi menunjukkan kedekatan emosional nan lebih hangat dengan neneknya.

“Senang (Julio di Sekolah Rakyat). Dia bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, ‘Mak, saya senang. Di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah tidak pernah dimarahi,’” ujar Welas lagi menirukan.

Bagi Ibu Welas, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang kondusif bagi cucunya untuk tumbuh. Selain itu, ketiadaan biaya harian menjadi kelegaan tersendiri. Sebelumnya, Julio kerap meminta duit Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, nan menjadi beban bagi keluarga.

Kini, angan itu kembali tumbuh. Ibu Welas tak muluk-muluk. Ia hanya mau Julio menjadi anak nan baik dan bisa menjalani hidup dengan layak.

“Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak terlantar. Saya sudah tua. Nanti sewaktu-waktu dipanggil nan Maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang nan baik,” minta sang nenek lirih.

Di tengah keterbatasan dan usia nan kian menua, angan itu terus dia panjatkan.

“Matur nuwun, Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuwun. Kados pinter, dados tiang sing genah. (Terima kasih Pak Prabowo, cucu saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Semoga cucu saya jadi orang nan hidupnya baik),” ujar Welas.

Bagi Julio dan sang nenek, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi titik kembali nan menyelamatkan arah hidup sang cucu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan