Dalam banyak obrolan tentang pendidikan di Indonesia, sekolah sering dipahami sebagai ruang nan menjanjikan masa depan lebih baik. Namun di kembali narasi optimisme itu, terdapat pertanyaan nan jarang betul-betul dibongkar secara serius: Apakah sekolah saat ini betul-betul membentuk penduduk negara nan kritis, alias justru lebih dominan berfaedah sebagai lembaga nan mencetak tenaga kerja untuk kebutuhan pasar?
Pertanyaan ini menjadi krusial lantaran menyentuh kegunaan dasar pendidikan itu sendiri. Secara normatif, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bermaksud mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia nan beriman, berilmu, kreatif, dan bertanggung jawab sebagai penduduk negara.
Artinya, pendidikan bukan hanya soal keahlian kerja, melainkan juga pembentukan kesadaran sosial dan keahlian berpikir kritis. Namun ketika kita memandang praktik pendidikan sehari-hari, terdapat jarak nan cukup lebar antara idealitas tersebut dengan realitas di lapangan.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, arah kebijakan pendidikan di Indonesia condong semakin kuat terhubung dengan kebutuhan bumi kerja. Konsep link and match antara sekolah dan industri menjadi salah satu contoh paling jelas gimana pendidikan diarahkan untuk menghasilkan lulusan nan siap pakai di pasar tenaga kerja.
Di satu sisi, perihal ini tampak logis lantaran bumi kerja memang memerlukan tenaga terampil. Namun dari perspektif sosiologi pendidikan, kondisi ini juga menunjukkan gimana pendidikan perlahan-lahan bergerak mengikuti logika pasar. Sekolah tidak lagi sepenuhnya berdiri sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis, tetapi semakin dekat dengan kegunaan produksi tenaga kerja.
Fenomena ini dapat dilihat lebih jauh dalam praktik pendidikan kejuruan nan semakin disesuaikan dengan kebutuhan industri tertentu. Kurikulum, pelatihan, hingga standar kompetensi sering kali dirancang berasas permintaan pasar kerja.
Beberapa kajian menunjukkan bahwa orientasi seperti ini mencerminkan kekuasaan kepentingan ekonomi dalam sistem pendidikan, di mana pendidikan tidak sepenuhnya netral, tetapi dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan kebutuhan industri. Dalam kerangka ini, siswa diposisikan sebagai calon tenaga kerja nan kudu disiapkan agar sesuai dengan kebutuhan sistem produksi nan ada.
Namun ketika pendidikan terlalu berorientasi pada pasar kerja, muncul persoalan lain nan tidak bisa diabaikan. Data tentang ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua lulusan pendidikan langsung terserap ke bumi kerja, apalagi terdapat kejadian pengangguran terdidik nan cukup signifikan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara output pendidikan dan struktur kesempatan kerja.
Dengan kata lain, meskipun sekolah terus berupaya mencetak tenaga kerja nan siap pakai, realitas ekonomi tidak selalu bisa menyerap mereka secara seimbang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa jika pendidikan hanya dipersempit menjadi perangkat produksi tenaga kerja, dia bakal mudah kehilangan relevansi sosialnya ketika pasar kerja tidak melangkah ideal.
Di sisi lain, ada perihal nan lebih mendasar nan sering luput dari perhatian, ialah gimana pendidikan membentuk langkah berpikir peserta didik. Ketika proses belajar lebih banyak berfokus pada pencapaian nilai, ujian, dan keahlian teknis, ruang untuk refleksi kritis terhadap realitas sosial menjadi semakin terbatas. Siswa lebih sering diarahkan untuk menjawab dengan betul daripada mempertanyakan kenapa sesuatu terjadi. Dalam jangka panjang, perihal ini berpotensi melahirkan perseorangan nan terampil secara teknis, tetapi kurang mempunyai kepekaan sosial dan keahlian untuk membaca struktur ketimpangan di sekitarnya.
Padahal, dalam perspektif sosiologi pendidikan kritis, sekolah semestinya tidak hanya berfaedah sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang produksi kesadaran sosial. Pendidikan semestinya bisa membentuk penduduk negara nan tidak hanya alim terhadap sistem, tetapi juga bisa memahami, mengkritisi, apalagi jika perlu mempertanyakan struktur nan membentuk kehidupan mereka sendiri. Ketika kegunaan ini melemah, pendidikan berisiko menjadi instrumen reproduksi sosial, di mana sekolah justru mempertahankan struktur nan ada, alih-alih mengubahnya.
Dalam konteks demokrasi, keahlian berpikir kritis bukan sekadar keahlian akademik, melainkan juga kebutuhan sosial. Warga negara nan kritis bisa mengevaluasi kebijakan publik, memahami persoalan ketimpangan, serta berperan-serta secara aktif dalam kehidupan demokratis. Karena itu, sekolah mempunyai tanggung jawab nan lebih luas daripada sekadar mempersiapkan siswa memasuki bumi kerja. Ia juga kudu membekali peserta didik dengan keahlian membaca realitas sosial dan mengambil posisi secara sadar terhadap beragam persoalan nan mereka hadapi sebagai personil masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan berada dalam ketegangan nan tidak mudah dihindari. Di satu sisi, negara dan masyarakat memerlukan lulusan nan siap bekerja agar roda ekonomi berjalan. Namun di sisi lain, masyarakat juga memerlukan penduduk negara nan bisa berpikir kritis terhadap kebijakan, ketimpangan sosial, dan dinamika kekuasaan.
Ketika orientasi pendidikan terlalu berat pada aspek ekonomi, kegunaan pembentukan kesadaran kritis condong terpinggirkan. Akibatnya, sekolah lebih sering menghasilkan perseorangan nan siap masuk ke sistem kerja, tetapi tidak selalu siap memahami alias mengkritisi sistem sosial nan membentuknya.
Jika kondisi ini terus berlangsung, ada akibat jangka panjang nan perlu dipikirkan. Pendidikan dapat menghasilkan generasi nan kompeten secara teknis, tetapi kurang mempunyai daya refleksi sosial. Mereka mungkin bisa bekerja dengan baik dalam sistem nan ada, tetapi tidak cukup kuat untuk mempertanyakan apakah sistem tersebut setara alias tidak. Di titik ini, pertanyaan awal menjadi semakin relevan untuk direnungkan ulang: Apakah sekolah memang dirancang untuk mencetak pekerja, alias semestinya juga menciptakan penduduk negara nan kritis terhadap bumi nan mereka tinggali?
Pada akhirnya, pendidikan tidak bisa hanya dipahami sebagai perangkat untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Ia juga merupakan ruang sosial nan menentukan gimana masyarakat berpikir, bersikap, dan memaknai realitas. Jika sekolah hanya diarahkan untuk mencetak pekerja, ada bagian krusial dari pendidikan nan hilang, ialah keahlian untuk membentuk kesadaran kritis sebagai penduduk negara. Dan ketika kesadaran itu melemah, nan dipertaruhkan bukan hanya kualitas tenaga kerja, melainkan juga kualitas kerakyatan dan kehidupan sosial itu sendiri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·