SE Mendikdasmen tentang Pembatasan Gawai di Satuan Pendidikan Buat Murid Lebih Nyaman Bersosialisasi di Sekolah

Sedang Trending 14 jam yang lalu
SE Mendikdasmen tentang Pembatasan Gawai di Satuan Pendidikan Buat Murid Lebih Nyaman Bersosialisasi di Sekolah Guru menempatkan gawai milik siswa ke dalam kotak penyimpanan sebelum aktivitas belajar mengajar di SMAN 2 Banda Aceh, Banda Aceh, Aceh, Jumat (17/7/2026)(ANTARA/AKRAMUL MUSLIM)

TAK ada lagi pemandangan siswa nan sibuk menatap layar saat bel rehat berbunyi. Sebagai gantinya, mereka berkumpul dengan teman, bermain bola, alias membaca buku. Itulah keseharian di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta setelah sekolah menerapkan pembatasan penggunaan gawai. Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.

Pembatasan itu tidak membikin siswa tertinggal teknologi. Sekolah justru tetap memanfaatkan laptop, telepon genggam, apalagi kepintaran artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari pembelajaran. Bedanya, siswa menggunakan teknologi saat diperlukan, bukan untuk menemani sepanjang hari.

Kepala Sekolah SMP Bumi Cendekia, Wisnu Utomo, mengatakan sekolahnya tidak melarang siswa membawa gawai. Laptop dan telepon genggam tetap boleh dibawa, tetapi penggunaannya diatur dengan jelas. Laptop hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran di bawah pengawasan guru.

Dulu, saat siswa boleh menggunakan laptop nyaris setiap hari, konsentrasi belajar justru mudah terpecah. Guru juga memerlukan waktu lebih lama untuk menyiapkan pembelajaran lantaran siswa tetap sibuk dengan perangkatnya. "Kami mendukung penuh SE Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. nan paling krusial bukan melarang gawainya, tetapi membangun etika menggunakannya. Harapan kami, nan membatasi penggunaan HP bukan sekolah alias orangtua, melainkan kesadaran anak itu sendiri," ujar Wisnu.

Setelah sekolah membatasi penggunaan laptop  dan telepon genggam, perubahan mulai terlihat. Murid lebih siap saat pembimbing masuk kelas, lebih banyak berinteraksi dengan teman, lebih aktif berolahraga, dan semakin sering memanfaatkan waktu senggang untuk membaca buku.

Guru Bahasa Indonesia, Triana Ratnasari, mengatakan teknologi tetap menjadi bagian dari proses belajar. Saat materi drama, misalnya, siswa menonton contoh pementasan melalui YouTube. Ketika mempelajari materi berita, mereka mencari info melalui gawai, lampau menuliskan kajian dan tanggapannya secara manual. "Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. nan kami latih adalah gimana mereka mengolah info dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan berjuntai pada teknologi," jelas Triana.

Ia menambahkan bahwa siswa juga sudah mengenal AI. Namun, lantaran sekolah membatasi penggunaan gawai dan penyelesaian sebagian besar tugas di sekolah, pemanfaatan AI menjadi lebih terarah sebagai pendukung pembelajaran, bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas secara instan.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pembatasan penggunaan gawai bermaksud membangun kebiasaan penggunaan teknologi nan sehat sejak dini. "Kami di Kementerian telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai. Tujuannya agar siswa dikontrol dan dibiasakan tidak berjuntai pada _handphone_. Sehingga sejak usia awal  mereka terbiasa bahwa handphone itu hanya sebagai perangkat pendukung, sehingga tidak ada ketergantungan nan berlebihan terhadap penggunaan handphone,” ujar Fajar di Yogyakarta. 

Menurut Fajar, pembatasan penggunaan gawai juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental siswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Karena itu, keberhasilan kebijakan tersebut memerlukan support seluruh ekosistem pendidikan. "Pendidikan mengenal konsep Tri Pusat Pendidikan, ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sekarang ada tambahannya, ada empat pilar pendidikan nan kudu kita sinergikan sebagai satu ekosistem," lanjutnya.

Perubahan tersebut turut dirasakan para murid. Gian Aji Alfatarazi, siswa kelas IX, mengaku sekarang lebih sering bermain bola dan membaca novel, termasuk novel berkata Inggris untuk melatih keahlian bahasanya. Pengalaman serupa dialami Reksa. Meski sempat kecewa ketika penggunaan laptop dibatasi, dia sekarang lebih banyak berbincang dengan kawan dan memahami argumen sekolah menerapkan kebijakan tersebut. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia