Saya Takut Kehabisan Waktu Sebelum Bisa Membahagiakan Ibu

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Cinta seorang anak kepada Ibu nan membuatnya terus berjuang dalam pendidikan.

Semester akhir semestinya menjadi langkah terakhir menuju sebuah impian. Namun, bagi saya, semester akhir justru menjadi masa nan penuh ujian. Tugas nan menumpuk, tekanan untuk segera lulus, dan kondisi kesehatan nan kadang menurun membikin pikiran terasa begitu berat.

Di tengah segala kesibukan dan kelelahan itu, ada satu perihal nan selalu menjadi argumen saya untuk terus bertahan: ibu.

Sejak kecil, saya menyaksikan gimana ibu berjuang tanpa banyak mengeluh. Beliau selalu berupaya memberikan nan terbaik untuk anak-anaknya, meskipun sering kali kudu mengorbankan kebahagiaan dan kenyamanannya sendiri. Karena itulah saya mempunyai satu angan sederhana setelah lulus kuliah: mendapatkan pekerjaan nan baik, memperoleh penghasilan dari hasil kerja sendiri, lampau membahagiakan ibu.

Bagi sebagian orang, angan itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi saya, itu adalah tujuan hidup nan sangat berharga.

Saya mau memandang ibu tersenyum bangga ketika saya menerima penghasilan pertama. Saya mau membantu meringankan beban hidupnya. Dan nan paling saya inginkan adalah membujuk ibu berkunjung ke Tarim, Hadhramaut, sebuah kota nan selama ini hanya kami dengar dari cerita para ustadz dan orang-orang saleh.

Tarim bukan sekadar sebuah kota bagi saya. Tarim adalah simbol harapan, doa, dan cita-cita nan selama ini saya simpan dalam hati. Saya membayangkan bisa melangkah berbareng ibu di tanah nan penuh keberkahan itu, memanjatkan doa, dan mengucapkan rasa syukur atas perjalanan hidup nan telah kami lalui.

Namun akhir-akhir ini, ketika kondisi tubuh sering menurun dan kesehatan tidak selalu baik, saya mulai banyak merenung tentang kehidupan. Saya menyadari bahwa manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Allah nan menentukan segala sesuatu.

Karena itu, saya belajar untuk lebih menghargai waktu nan ada. Saya mau terus berjuang menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya. Saya mau terus menjaga angan bahwa suatu hari kelak saya bisa membahagiakan ibu sebagaimana nan selama ini saya impikan.

Jika saat ini saya tetap diberi kesempatan untuk bernapas, belajar, dan berusaha, maka saya mau memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebab saya percaya bahwa setiap perjuangan nan dilakukan dengan niat baik tidak bakal pernah sia-sia di hadapan Allah.

Hari ini saya mungkin tetap seorang mahasiswa semester akhir nan sedang berjuang menyelesaikan skripsi dan menghadapi beragam tantangan hidup. Namun saya tetap menyimpan kepercayaan bahwa di ujung jalan ini ada masa depan nan lebih baik.

Untuk ibu, terima kasih atas setiap angan nan tidak pernah putus. Terima kasih atas setiap pengorbanan nan mungkin tidak bakal pernah bisa saya balas sepenuhnya.

Doakan saya agar diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan ini. Doakan saya agar suatu hari kelak saya bisa bekerja, membahagiakan ibu, dan mewujudkan angan kita berkunjung ke Tarim, Hadhramaut.

Karena hingga hari ini, angan terbesar saya bukanlah tentang kesuksesan alias kekayaan. Impian terbesar saya adalah memandang ibu bahagia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan